Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
55. Gangguan.


__ADS_3

Bang Rico tertidur pulas usai di beri obat. Asya pun tertidur dengan kepala tersandar di ranjang Bang Rico.


Netta menyibak anak rambut Asya.


"Kita ajak pulang ya Bang..!! Lihat pakaian Asya. Belum lagi Bang Rico hanya pakai celana pendek. Mana kiriman pakaian dari om Sobri belum datang"


"Ya kalau Asya mau nggak apa-apa dek. Namanya suami sakit, pasti lah begini reaksi istri"


Netta mengangguk. Memang benar seorang istri tidak ingin melihat suaminya dalam kesulitan sendirian.


***


"Aaarhh.." Asya sulit untuk menggerakkan lehernya.


Akhirnya Bang Rico juga ikut terbangun karena mendengar suara Asya.


"Lho dek.. semalam kamu nggak pulang sama Bang Win atau Bang Yudha?" tanya Bang Rico.


"Asya nggak mau pulang, Asya pengen sama Abang" jawab Asya.


"Cckk.. Abang hanya pindah tidur sebentar saja di rumah sakit. Nggak berangkat perang dek" tak tau lagi bagaimana harus membuat Asya tenang.


"Abang sudah sehat, pagi ini Abang sudah keluar kok" kata Bang Rico padahal ia pun belum tau kapan bisa keluar dari rumah sakit.


"Yang benar Bang? Tapi Abang masih lemas" Asya tak langsung percaya dengan ucapan Bang Rico.


"Benar lah, Abang capek saja masih bisa bajak sawah" ucap Bang Rico sedikit congkak.


"Iya, walaupun hasil akhirnya seperti ini" Jawab Asya.


"Yang penting kamu puas sama Abang dan nggak pernah ada yang lain di hatimu"


Mata keduanya pun saling menatap, tak lama senyum malu-malu terlihat dari keduanya.


...


"Belum boleh Ric" kata Dokter Nick.


"Ijin Dan.. saya sudah kuat" Bang Rico masih saja keras kepala.


"Kamu ini, kelopak matamu saja masih setengah terbuka, sudah mau pulang aja. Kalau pingsan lagi kamu dua kali lipat merepotkan istrimu" tegur keras Dokter Nick.


"Istri saya cemas sekali Dan. Saya juga nggak tega Asya tidur di rumah sakit menemani saya" jawab Bang Rico.


"Astaga Rico..!!!!" Rasanya Bang Rico ingin sekali menjitak kepala anak sahabatnya itu.


...

__ADS_1


Bang Rico berjalan menuju parkiran di dampingi Bang Winata.


"Bagaimana rasanya Ric? Kamu kabur khan?" tanya Bang Winata pelan..


"Hhsstt.. Pelankan suara Abang..!! Sudah nggak pusing, hanya lemas saja sekujur tubuh" jawab Bang Rico.


"Gila lu, kenapa nggak tunggu aja barang sehari, lumayan juga kamu pulih" kata Bang Winata.


"Asya nggak ada teman tidur di rumah Bang. Kasihan.. nggak tega saya" bisik Bang Rico lagi.


Bang Winata menggeleng heran. Jika sudah menyangkut istri.. kadang pikiran sebagai pria bisa menjadi buntu.


"Danyon sudah menghapus total semua hukuman disiplin mu. Karena sudah dua bulan juga. Danyon nggak mau anak buahmu melihatmu dengan tatapan buruk. Kalau sudah sehat nanti, cepatlah menghadap" saran Bang Winata.


"Siap Bang"


Tangan Bang Winata mengacak-acak rambut adiknya yang mulai terlihat gondrong.


-_-_-_-_-


Nafas Bang Rico terdengar sesak, jelas sekali suaminya belum terlihat sehat. Sesekali Bang Rico masih memercing menahan sakit.


"Abang bohong ya, Abang belum sehat Khan?" tanya Asya.


"Abang lebih nyaman di rumah, bisa bebas apa saja. Abang sudah terbiasa banyak gerak, kalau hanya di suruh tidur.. badan jadi sakit semua" jawab Bang Rico.


tok..tok..tok..


"Buka dulu itu, Dan Nicko mengirim obat untuk Abang." kata Bang Rico setelah mendengar suara ketukan pintu dan kemungkinan besar itu adalah Om Sobri.


Asya pun berjalan keluar dari kamar untuk membuka pintu.


"Mas Rico ada?" tanya seorang wanita berdiri di hadapan pintu rumahnya.


"Mbak siapa ya?" tanya Asya bingung.


"Saya Ratri. Hmm.. temannya Mas Rico. Kamu pasti adiknya ya?" Ratri kembali bertanya karena melihat gadis muda di rumah Bang Rico.


Asya tersenyum melihat wanita itu, ia pahami mungkin saja Ratri adalah masa lalu Bang Rico. Gelagatnya nampak tidak berbahaya dan selalu menunduk.


"Masuk dulu mbak, saya panggilkan Abang" kata Asya.


:


Bang Rico begitu terkejut melihat kehadiran Ratri.


"Maaf, saya mengganggu. Ada apa Mbak Ratri? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bang Rico sesekali mengusap dadanya yang masih terasa sesak.

__ADS_1


Tak lama Asya kembali membawa secangkir teh hangat untuk tamu Bang Rico dan bersiap meninggalkan suaminya.


"Duduk disini..!!" Bang Rico menarik tangan Asya agar menemaninya.


Ratri semakin menunduk melihat tangan Bang Rico mendekap pinggang Asya. Itu berarti Asya bukanlah adik Bang Rico dan kemungkinan besar adalah istri mantan kekasihnya dulu.


"Mas Rico.. Eehh.. Pak Rico.." Ratri merasa kaku saat berhadapan dengan Bang Rico. Pasalnya selain sudah beristri, terlihat Bang Rico adalah sosok yang berpengaruh di Batalyon itu dan tidak seperti anggota kebanyakan.


"Katakan saja, mungkin saya bisa bantu" kata Bang Rico tetap dengan wibawanya.


"Saya hamil Pak"


Kepala Asya rasanya langsung pening mendengar ucapan Ratri, seketika ia bersandar lemas di bahu Bang Rico dengan wajah memucat.


"Apa maksudmu? Kita baru bertemu lagi hari ini" Bang Rico pun sampai terbawa emosi, hatinya cemas sekali melihat Asya hampir pingsan.


Tiba-tiba Om Sobri datang, wajahnya tak kalah kagetnya.


"Ratri????"


Ratri menoleh, sungguh wajahnya menyimpan kesal luar biasa pada pria bernama Sobri.


Keadaan semakin memanas saat Asya pingsan.


"Ya Allah Gustii.. Asyaa." Bang Rico kelabakan menidurkan Asya di sofa.


"Mas tau nggak, aku hamil anaknya Mas. Kenapa mas nggak bisa di hubungi????" pekik Ratri histeris.


"Ponsel nya Mas rusak dek. Mati, Abang mau hubungi kamu, tapi mas nggak hafal nomer ponselmu" jawab Om Sobri.


"Kalau Mas sampai nggak hafal nomer ponselku berarti aku bukan prioritas mu. Terus bagaimana dengan anak ini?????"


Tanpa mereka sadari ada mata berkilat yang sedang murka menatap keributan itu.


"Sobriiii.. bisa-bisanya kamu buat ulah sampai istri saya pingsan..!!!!!!!!!" bentak Bang Rico terdengar sampai ke rumah Bang Winata dan Bang Yudha.


Bang Rico menampari Om Sobri dan menghajarnya.


"G****k, dungu..!!! Ratri hamil itu urusanmu.. tapi ulah kalian sudah buat istri saya syok dan salah paham. Kamu harus terima akibatnya...!!!!!!!!"


Geramnya Bang Rico tak terkendali apalagi Asya tak kunjung sadar.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2