Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
63. Jiwa untukmu dan negaraku.


__ADS_3

Malam ini Asya terus menangis, tak tau bagaimana cara Bang Rico menenangkan sang istri yang tengah melow.


"Jangan nangis terus sayang, Abang cemas sekali lihat kamu nangis begini" ucap Bang Rico tak tega.


"Bisa nggak kalau Abang nggak pergi?" pinta Asya merajuk di lengan Bang Rico.


"Kalau bisa memilih.. Abang juga pengen nggak pergi, tapi mau bagaimana lagi.. ini adalah perintah yang harus Abang laksanakan. Abang khan seorang prajurit" jawab Bang Rico sehalus mungkin untuk membujuk Asya. Dirinya sangat memahami perasaan istrinya.


"Abang jangan lama..!!" rengek Asya lagi.


"Insya Allah" Bang Rico mengecup kening Asya. Bibirnya terasa terkunci tidak sanggup memberi harapan pada sang istri.


"Abang titip salam sayang dulu ya buat si dedek..!!" tanpa persetujuan dari Asya.. Bang Rico membujuk Asya dengan caranya.


***


Para istri anggota yang lain pun mengantar para suami mereka untuk menuju ke medan tugas di Batalyon. Tangis sedih, haru, bangga.. berkumpul menjadi satu.


Bang Rico mengangkat ranselnya untuk mengadakan apel pelepasan. Perwira yang berada dalam misi ini adalah Letda Hendrik, Lettu Rico, Lettu Yudha ( senior ) dan Kapten Pandu.


Kaki Asya sudah gemetar tak sanggup melihat Bang Rico akan jauh darinya entah sampai kapan.


...


"Jangan cemas.. Abang akan bantu kamu jaga Asya. Netta juga akan ada dalam pengawasan Abang" kata Bang Winata menenangkan Bang Rico dan juga Bang Yudha yang masih terlihat cemas.


"Termasuk Nafa.. Abang juga akan menjaganya" Bang Winata merangkul Bang Acep yang terdiam tak tau harus bagaimana saat berada dalam zona yang 'tidak tepat'.


"Dalam kantor.. mungkin kami ini atasanmu Cep. Tapi dalam keluarga.. kita ini adalah saudara.. buang rasa sungkan, kamu berhak bersuara" kata Bang Winata.


"Siap Dan..!!" jawab Bang Acep.


Bang Winata memelototi Bang Acep yang masih terlihat kaku di tengah mereka.


"Iya Bang" jawabnya kemudian lebih santai.

__ADS_1


"Naahh gitu donk"


...


Asya dan Netta memeluk suami mereka masing-masing. Tapi mungkin karena Asya sedang mengandung, dirinya jadi lebih tidak bisa mengendalikan diri.


"Ya Allah dek.. nangis sampai begitu, Abang sakit banget lihatnya" kata Bang Rico sambil menghapus air mata Asya.


"Asya nggak mau Abang pergi..!!" ucap Asya masih terus menangis melemahkan batin Bang Rico sebagai seorang suami.


"Kuatkan do'a, Abang pasti kembali. Jangan tinggalkan sholat dan banyak berserah. Do'a istri Sholehah pasti akan selalu di dengar Allah" bujuk Bang Rico.


Asya mengangguk tidak pasti, hati Bang Rico semakin sakit saja melihatnya. Tidak ada suami yang baik-baik saja saat melihat sang istri menangis melepas kepergian nya. Ia pun juga punya hati yang teriris pedih tapi ia tahan kuat agar Asya tidak menjadi lemah.


:


Asya kembali menangis saat Bang Rico berbalik badan dan menaiki truk tanpa melihat ke arahnya lagi. Terlihat Bang Rico hanya menunduk tak lagi melihat wajah Asya hingga saat truk sudah berbelok, Bang Rico baru sekilas menatap wajah Asya.


Baik-baik disini ya sayang. Entah kenapa kali ini pun berat bagi Abang meninggalkan mu. Semoga.. kamu kuat menjaga anak kita, Abang ingin darah ini mengalir pada zatyang Abang titipkan padamu.


"Siap Bang..!!" Bang Rico melempar senyum tipis meskipun berbanding terbalik dengan kata hatinya.


***


Hari berganti hari.. bulan berganti bulan, Asya sudah mulai bisa beradaptasi dengan kesendiriannya, ia lebih banyak berkumpul dengan ibu-ibu yang lain. Asya mulai bisa sedikit mengendalikan perasaan meskipun terkadang ada kabar timbul dan tenggelam dari Bang Rico.


Kini usia kandungannya sudah memasuki usia 30 Minggu. Terkadang ada rasa sedih dalam hatinya karena ia memeriksakan kehamilannya seorang diri.


Sudah dua hari ini tidak ada kabar dari Bang Rico, perasaannya sungguh tidak tenang.


~


"Merunduk..!! Kamu jangan mendahului..!!" perintah Bang Rico pada anggota teamnya.


Serbuan suara tembakan sudah terdengar dari segala penjuru. Para anggota sudah mulai waspada dan siaga dengan senjata di pundak masing-masing.

__ADS_1


"Hendrik..!! Jangan maju sendiri..!!!!!" tegur keras Bang Rico karena Letda Hendrik sudah ingin mengambil alih situasi.


"Aku ingin segera pulang dan ingin cepat selesai Bang.. Istriku sudah mendekati waktu melahirkan" kata Letda Hendrik.


"Apa kamu saja yang punya istri sedang hamil?? Abang juga sama, Abang juga nggak bisa temani saat istri periksakan kandungannya padahal ini anak pertama. Abang juga merasakan sakit yang sama seperti kamu karena tidak bisa memenuhi ngidamnya istri dan memberinya perhatian secara langsung" jawab Bang Rico.


"Sudahlah Hen.. kita selesaikan dulu tanggung jawab kita, satu hari ini penyelesaian nya. Kalau mereka memilih mundur, kita pulang..!!" bujuk Bang Rico.


Terkadang dalam sebuah team, ada saja kendala yang membuat hal yang membuat team tersebut berselisih paham.


dooorr.. dooorrr...


Terdengar lagi suara serangan. Bang Rico menundukkan kepala Letda Hendrik. Rasa bosan dalam penugasan kadang kala membuat para anggota menjadi stress.


"Acep.. cover..!! Kita selesaikan sekarang..!!" perintah Bang Rico.


Perlahan tapi pasti.. Bang Acep membuka jalan diikuti anggota yang lain. Saat itu.. tak ada yang tau jika mata-mata sudah masuk penjagaan mereka saat beberapa detik keributan sedang terjadi.


"Waspada.. Rico.. Acep..!!!!!!!!!!!" teriak Bang Pandu memberi peringatan.


Bang Rico dan Bang Acep menoleh bersamaan.


"Allahu Akbar..!!!!!"


Suara tembakan terdengar memberondong. Darah menyebar menetes dari dada.


"Tembak balik.. siapkan SOS..!!!!! Jangan pedulikan apapun lagi. Saya yang bertanggung jawab..!!!" perintah Bang Pandu kemudian melepas sebuah granat.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2