Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
123. SP 2. 26. Sakit.


__ADS_3

"Soalnya Aira ini perawat. Nggak mungkin lah Aira nggak paham" jawab Aira dengan sombongnya.


"Ya Tuhan.. mudah-mudahan aku nggak apes di rawat perawat macam begini. Bisa langsung menghadap Illahi kalau begini caranya" gumam Bang Vian menepuk dahinya.


"Jangan kamu samakan teori dan praktek mu itu. Salah-salah kamu bisa buat m****s orang lain" tegur Bang Vian.


"Aahh terlalu berlebihan" jawab Aira.


"Kalau begitu.. selama belajar jadi perawat.. apa bakatmu??" tanya Bang Vian.


"Semua teori.. Aira sudah hapal"


"Tapi prakteknya nol besar. Sengsara sekali jadi pasienmu" Bang Vian mengambil tempat, duduk bersandar dan membenahi pakaiannya yang berantakan dengan cepat tapi sesaat kemudian ia membantu Aira mengenakan pakaiannya. Dalam hatinya tiba-tiba saja menjadi sakit, tak ingin dan tak rela jika ada pria lain yang melihat atau sampai menyentuh Aira seperti dirinya. Refleks ia menarik Aira ke dalam pelukannya.


"Maafin Abang, Abang janji akan bertanggung jawab atas semua perbuatan Abang tadi." ucap Bang Vian.


Aira mengangguk, air matanya meleleh berbanding terbalik dengan sikapnya yang urakan dan banyak bicara. Kini Bang Vian menyadari Aira begitu ketakutan, getaran di tubuh Aira sampai bisa ia rasakan. Terlihat ada beberapa lebam karena tadi Bang Vian memang terlalu memaksa dan akhirnya Bang Vian tak kuasa menahan tangisnya.


"Abang akan menempuh resiko apapun untuk menebusnya, dan tubuh ini tidak akan menyakitimu lagi..!!"


//


"Astagfirullah.. kemana saja si Vian itu. Lama sekali dia meninggalkan tempat." Bang Rico mondar-mandir menghubungi Bang Vian tapi tetap saja tak bisa tersambung.


Tak lama mobil Bang Vian datang. Kedua tersangka dalam pencarian.. turun dengan keadaan acak-acakan meskipun mungkin mereka berdua sudah merapikan diri sebaik mungkin.


"Push up kamu..!! Tanpa kabar lanjutan.. meninggalkan tempat tanpa keterangan..!!" perintah Bang Rico di balik mobil yang baru saja di parkir Bang Vian.


"Siap..!!" tanpa perlawanan.. Bang Vian langsung mengambil tempat dan melaksanakan hukuman dari komandan kompi.


"Tiga puluh kali sampai selesai..!!" lanjut Bang Rico sambil berkacak pinggang mengawasi Bang Vian.


Jihan langsung berlari kecil mendekati Mbak Aira.


"Mbak darimana saja sama Bang Vian? Abang sudah ngamuk sejak tadi karena tidak ada yang handle kegiatan" bisik Jihan.


"Mbak ke puncak sama Bang Vian, cuma berduaan di dalam mobil." jawab Aira berbisik juga.

__ADS_1


Seketika mata Bang Rico melirik ke arah Jihan dan Aira karena masih bisa mendengar apa yang di katakan Aira, sedangkan Bang Vian memercing gemas karena Aira tidak bisa menjaga rahasia. Otomatis jika mendengar kata berdua.. pasti arah pembicaraan itu sudah lain.. apalagi Bang Rico bukan orang yang mudah di bohongi soal hal remeh seperti ini.


"Pantas saja kamu telat datang.. ternyata lagi buka warung di puncak. Tambah sit up dua puluh kali..!!" perintah Bang Rico.


"Siap..!!"


~


"Aaarrgghh..!!" Bang Vian berkeringat, kurang lima hitungan lagi tapi Bang Vian sudah ambruk dengan keras dan merasa begitu kesakitan.


"Ijin Bang, saya nggak kuat lagi" ucap Bang Vian.


"Kenapa kamu??" tanya Bang Rico kemudian membantu Bang Vian. Memang saat itu seketika wajah Bang Vian menjadi pucat.


"Perut saya sakit Baaang" Bang Vian menggelinjang sampai hampir pingsan.


"Kalian sini cepat.. coba periksa Vian kenapa" perintah Bang Rico pada Jihan dan Aira.


Perlahan Bang Rico membantu Bang Vian duduk bersandar di sebuah pohon.


"Sakiit ini Bang" pekik Bang Vian dan akhirnya Bang Rico merebahkan Bang Vian di atas rumput.


~


"Yang jelas ini masalah lambung mbak, bagian perut dan sekitarnya. Apa mungkin radang usus?" kata Jihan berpikir ragu.


"Aku juga mengira begitu sih. Tapi lebih pada usus buntu" jawab Aira.


"Jihan jadi pengen makan sate usus nih mbak" ucap Jihan lagi.


"Yang betul kalian periksanya..!! Jangan kebanyakan diskusi.. pasiennya keburu innalilahi..!!" tegur Bang Rico.


"Jihan pengen sate usus Bang..!!" pinta Jihan.


"Laah iki piye to, kok malah minta usus." Bang Rico sudah gemas karena Bang Vian semakin lemas saja.


"Nanti Abang belikan, tapi cepat periksa Vian dulu. Kalian ini calon penyembuh pasien, bukan malah mengurangi nyawa pasien" kata Bang Rico.

__ADS_1


"Usus buntu. Aira yakin ini usus buntu" jawab Aira mantap.


...


Kegiatan kantor sudah di serahkan pada anggota. Bang Rico dan Jihan mengikuti Aira ke rumah sakit di tempatnya magang membawa Bang Vian agar mendapatkan perawatan disana.


"Saya maunya di rumah sakit tentara saja Bang" pinta Bang Vian.


"Dokter kita sedang tidak ada Vian, sedang acara keluar kota semua. Kamu khan tau disini kota kecil dan rumah sakit tempat Aira dan Jihan magang adalah rumah sakit milik pemerintah yang paling besar disini" jawab Bang Rico.


Bang Vian akhirnya tak sanggup lagi melawan. Tenaganya terasa habis. Bibirnya seakan sulit bicara dan pasrah saja yang bisa ia lakukan.


:


Saat itu Aira berlarian kesana kemari menghubungi rekannya dan meminta bantuan agar test laboratorium segera di lakukan.


"Kamu sakit sejak kapan?" tanya Bang Rico.


"Sudah seminggu Bang, tapi baru merasakan sakitnya dan benar-benar sakit hari ini" jawab Bang Vian.


"Kenapa nggak ijin saja untuk istirahat? Kesehatan juga penting untuk di jaga" tegur Bang Rico.


"Awalnya sedikit nyeri Bang, tapi tidak saya rasakan sampai akhirnya tadi saya nggak kuat push up, sit up saja terasa berat" jawab Bang Vian.


"Kamu nih.. ada-ada saja"


"Baang..!!" sapa Jihan yang duduk manis menunggu Bang Rico karena suaminya itu hanya meminta nya duduk tanpa melakukan sesuatu.


"Kenapa? ada yang sakit?" Bang Rico beralih menghampiri Jihan.


"Sate usus" bisik Jihan pelan sekali.


"Lailaha Illallah.. masih ingat aja sama usus" Bang Rico menggeleng heran melihat raut wajah Jihan yang imut menggoda.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2