Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
54. Harapan kecil.


__ADS_3

Bang Rico menyuntikkan sesuatu di sekitar lengannya kemudian meminum beberapa butir obat. Ia pun menyambar rokok sembari menahan rasa pahit di kerongkongan nya.


"Harus bisa..!! Aku harus bisa." gumamnya lalu melihat jam tangannya.


"Ayoo.. cepaat..!!" jemari Bang Rico mengetuk kursi panjang di belakang rumahnya sambil menunggu reaksi obatnya karena jika terlalu lama mungkin saja Asya sudah kehilangan rasa.


:


Sepuluh menit berlalu, saat yang tepat. Bang Rico kewalahan mengatasi tubuhnya yang sudah bereaksi di luar batas kewajaran. Pikirannya jadi blank, kepalanya pening.. yang ia inginkan hanya Asya dan Asya saja.


Bang Rico pun masuk ke dalam rumah dan ternyata Asya masih duduk disana sambil menghisap rokoknya.


"Jangan hisap rokok ini lagi. Abang nggak suka lihat kamu begini." tegur Bang Rico berusaha mengambil rokok Asya tapi istrinya itu menolaknya dan malah menghembuskan asap rokok itu ke wajah Bang Rico.


"Asya bisa jadi apapun yang Abang mau" jawab Asya.


"Tidak perlu Abang melirik yang lain, ada Asya yang bisa melakukan semuanya untuk Abang"


Badan Bang Rico sudah sedemikian tegangnya dan kini masih harus di tambah ulah nakal Asya yang nakal menggodanya. Akal sehatnya berperang dengan batinnya.


"Ini benar-benar Asya atau.........."


"Dia menelan sesuatu agar bisa melayaniku?" gumam Bang Rico menerka keadaan ini.


Asya semakin tidak sabar dan menyerang Bang Rico.


"Kamu masih simpan obat itu??" tanya Bang Rico.


"Obat apa sayang?? Jangan bahas obat...Asya kangen Abang" jawab Asya semakin nakal.


"Asyaaaaaa..!!!!!!" bentak Bang Rico cemas melihat keadaan Asya.


Melihat Bang Rico melotot dan marah, ia pun menyambar bibir Bang Rico membuat Bang Rico perlahan tenang dan mengikuti alurnya. Asya pun melepas paguttan itu dan menatap mata Bang Rico dengan lekat.


"Asya juga berusaha Bang.. Asya sadar, tapi nggak bisa mengendalikan diri" jawab jujur Asya.


"Oalah dek.. lain kali jangan begini. Abang rela menunggu tanpa harus ada paksaan. Abang ikhlas kalau memang begini perjuangan kita. Kalau memang nggak bisa.. asal bisa hidup sama kamu, itu sudah lebih dari cukup" Bang Rico menciumi wajah Asya yang juga sudah berusaha keras.


"Terus sekarang bagaimana Bang?" tanya Asya.

__ADS_1


Bang Rico pun menggendong Asya.


"Selesaikan saja. Efek obat ini bakal buat kita tersiksa kalau tidak di selesaikan" jawab Bang Rico. Suaranya sudah berat.


...


Bang Rico setengah mati berusaha menyelesaikannya, bagaimana tidak.. tubuhnya yang luar biasa lelah harus di paksa sekuatnya untuk memacu energi ekstra. Rasa mual begitu menyiksa. Tapi melihat wajah Asya yang begitu menikmati kebersamaan nya membuatnya tidak tega untuk mengecewakan istri tercinta.


Rasanya setengah jam berlalu sudah membuatnya nyaris pingsan.


"Obat b*****t..!!" umpatnya kesal.


Tak lama Asya mengejang.. Bang Rico pun menekan mengimbanginya dan akhirnya...


"hhhggghh.." Bang Rico bisa menyelesaikan kebersamaan mereka dengan sempurna.


Tak lama, Bang Rico memercing kesakitan dan secepatnya berguling di samping Asya dan menarik selimutnya.


"Dek.. tolong panggilkan Bang Win dan Bang Yudha. Sekarang..!! Cepat dek..!!!!!"


Asya masih bengong karena ia masih menyesuaikan diri usai penyelesaian.


Asya yang bingung segera memakai pakaian dengan cepat, tak lupa memakaikan celana pendek Bang Rico sekenanya.


...


"Ada apa sih Sya???" Bang Winata bingung dan menerobos kamar Bang Rico. Bang Yudha pun berlari masuk.


Asya tidak tau harus menjawab apa. Pikirannya buntu.


"Ya Tuhan.. Rico, Kowe kenapa sih Ric????" Bang Yudha kaget melihat Bang Rico terkapar di lantai.


"Abaaaanngg.." Asya pun syok melihatnya.


Bang Yudha dan Bang Winata akhirnya meminjam mobil kesehatan untuk membawa Bang Rico ke rumah sakit.


-_-_-_-_-


"Lambungnya harus dikuras??? Sakit apa dia???" tanya Bang Winata.

__ADS_1


"Perutnya kosong, tapi Rico minum obat keras. Obat daya tahan tubuh, lebih tepatnya obat pendongkrak stamina pria" jawab dokter As.


"Haaahh.. buat apa Rico minum itu? Nggak kuat???" Bang Yudha heran dengan keterangan dokter As.


"Kurasa Rico sudah terlalu frustasi dengan masalahnya. Seusia kita adalah 'ajang penunjukan diri'. Punya anak selain suatu kebanggaan juga adalah impian kita para laki-laki. Tidak hanya wanita saja yang ingin punya anak. Laki-laki juga sama" jawab Bang Winata.


"Jika Asya tidak bisa, sudah tentu Rico yang berusaha keras menjaga diri agar bisa membuat Asya hamil bagaimanapun caranya. Bukan begitu As?"


"Benar Win.. istilahnya Rico mati-matian berjuang demi mendapatkan anak" jawab Bang As yang sudah bersiap mendorong Bang Rico agar masuk di ruang khusus.


:


Netta menggeleng kepala melihat penampilan Asya yang hanya memakai gaun malam dan kimono, ia pun meminjamkan jaketnya karena Bang Yudha tidak mungkin melepas sarungnya sedangkan Bang Winata malah hanya memakai celana kolor.


Beberapa waktu berlalu, Bang As keluar dari ruang tindakan.


"Rico sudah aman. Tinggal pemulihan saja. Sekarang Rico sudah sadar"


Asya sesenggukan sampai akhirnya Bang Rico keluar dari ruang tindakan.


Ada seulas senyum dari wajah Danton kepercayaan Bang Yudha. Brankar itu berhenti di samping Asya. Tangannya menarik Asya agar sedikit menunduk.


"Kamu sangat cantik tadi. Seksi sekali" ucap lirih Bang Rico tapi jelas masih terdengar di telinga semuanya.


"Dasar cablak" gerutu Bang Winata.


Bang Rico tak peduli, ia tetap tersenyum melihat Asya.


"Abang tidak akan menuntut, tapi masih boleh khan Abang berharap. Mudah-mudahan usaha suamimu ini tidak sia-sia dan semoga ada keajaiban dari Tuhan. Dia mau hadir di rahim mu"


Asya mengangguk mendengar harapan Bang Rico.


"Iya Bang.. Aamiin"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2