Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
30. Hukuman.


__ADS_3

Bang Rico dan Asya tak bisa mengendalikan diri, baru saja masuk ke dalam kamar.. keduanya sudah tak karuan apalagi Bang Rico yang mendadak seperti orang kesurupan.


"Jangan pakai dress ini lagi. Abang sudah nggak konsentrasi sejak tadi. Badan Abang sudah tegang seperti tiang jemuran" ucap jujur Bang Rico. Wajahnya sudah gemas menyerusuk ke sela leher Asya.


Asya yang nakal bersikap menghindari suaminya itu.


"Cckk.. jangan main-main dek..!!"


"Kenapa?? Papa Ico sudah kangen??" goda Asya.


"Oohh gitu, sekarang berani godain Abang?? Oke.. Abang balas ya..!! Jangan nangis kamu..!!"


:


Mata Bang Rico dan Asya saling menatap, ada senyum cinta dan kelegaan dari keduanya.


"Sudah aahh.. capek..!!" kata Asya.


Bang Rico tertawa melihat Asya mulai salah tingkah.


"Capek apa capek?? Nanti mau lagi" ledek Bang Rico.


"Nggak"


"Nggak ini artinya nggak nolak atau nggak mau satu sesion saja?" tanya Bang Rico.


"Nggak mau sebentar.." jawab jujur Asya.


"Dasar.. malu-malu mau!!!!!" Bang Rico tertawa mendengarnya. Jemari lincahnya menggelitik pinggang Asya.


"Jadi ketagihan khan??"


...


"Beeeuuhh.. lutut rasanya mau lepas dek" menjelang subuh mereka keluar dari hotel karena Bang Rico harus apel pagi. Bang Rico sedikit memijat pahanya yang terasa kaku.


"Keseleo nih sepertinya"


"Salah Abang sendiri lah" jawab Asya yang sebenarnya juga masih sangat lelah tapi tangan itu merapat ke paha Bang Rico dan ikut memijatnya.


"Nggak usah" Bang Rico menolak tangan Asya.


"Kenapa? Nggak suka?" tanya Asya.


"Suka, tapi Abang lagi capek banget. Jangan sampai Abang mulai lagi. Sampai kantor.. Abang masih harus lari bawa ransel dan kurve lapangan" kata Bang Rico yang memang merasa sangat lelah.


Asya mengangguk, tapi tangannya yang lelah tanpa sadar


:


"Maaf saya pulang telat" kata Bang Rico sambil menurunkan sedikit kaca mobilnya tanpa menyalakan lampu karena Asya sudah tidur dengan posisi yang sangat menantang


Acep yang bertugas malam itu merasa ragu jika yang di bawa Komandannya itu adalah istrinya. Pasalnya samar terlihat ada rambut panjang wanita yang terurai dengan dada yang terlihat sedikit terbuka karena tersorot lampu jalan.


"Heehh.. lihat apa matamu itu..!!!!!! Saya colok juga matamu..!!" tegur Bang Rico kesal sekali.


"Siap salah Dan"


"Tulis saya masuk asrama jam sebelas malam ya..!!" pinta Bang Rico karena dirinya meninggalkan tugas sejak siang saat menemani Asya dan belum ijin pada seniornya.


"Siap..!!"


:


"Benar.. Danton C bawa wanita lain ke asrama."


"Jangan main-main Cep.. masa iya komandan begitu. Tadi siang sakit juga khan?" kata Om Sobri.


"Naahh.. itu dia Bang. Jangan-jangan Danton selingkuh" imbuh Om Acep.

__ADS_1


"Gila lu Cep.. Kalau memang benar, kamu tutup mulut saja." kata Om Sobri.


"Siapa yang bawa wanita lain ke asrama??" tanpa di duga pagi buta Danyon mengadakan sidak, mengontrol keadaan Batalyon dan asrama.


"Selamat pagi Komandan..!!" para anggota kelabakan saat Danyon datang.


"Siapa?????" bentak Danyon.


"Di asrama di larang keras adanya perselingkuhan. Yang tidak bisa mengatur dirinya untuk setia pada keluarga.. lebih baik tidak usah menikah..!!!!!"


:


"Pertanyaannya. Istri Rico kemana sampai dia harus bawa perempuan lain?" tanya Danyon.


"Ijin Bang. Saya janggal dengan ucapan Acep. Ini masih terlalu pagi, mungkin Acep salah lihat" kata Bang Yudha.


"Kamu yakin Cep???" Bang Winata memastikan.


"Siap yakin..!!" jawab Om Acep.


"Kalau yakin.. kita ketok saja rumahnya."


"Dobrak saja Yudh.." kata Danyon yang sudah gemas.


"Rico juga punya privasi Bang" tolak Bang Yudha.


:


"B******n si Rico.. dia benar bawa perempuan"


Bang Yudha dan Bang Winata pun melihat pemandangan syur di balik gorden jendela Bang Rico yang sedikit terbuka. Jelas sekali Bang Rico mulai lepas kontrol dan tak bisa menahan diri.


"Ayo.. mumpung belum subuh" pinta Bang Rico.


"Capek ayank.." tolak suara manja yang membuat Bang Yudha dan Bang Winata ikut jedag jedug melihat adegan berbahaya di pagi buta. Belum lagi suara mengerang kecil membuyarkan konsentrasi senior Bang Yudha itu.


"Aseeemm.." Bang Yudha menepuk dahinya karena sudah keduluan.


braaaakkk...


Bang Rico refleks menoleh dan dengan cepat menutupi tubuh Asya yang kelabakan membenahi penampilan nya. Setengah mati Bang Rico kaget sampai kepalanya terasa pening karena dirinya masih setengah jalan.


"Masuk dek..!!" pintanya sambil mengatur nafas tak beraturan.


Asya masuk ke dalam kamar dan menutupnya.


"Kalian punya sopan santun atau tidak?????" bentak Bang Rico.


"Jaga ucapanmu Ric..!!"


"Pertama.. Apa maksud Abang datang pagi buta dan mengganggu aktivitas pribadi saya. Kedua.. Saya tidak terima kelakuan kalian yang menggerebek saya, kalian tau atau tidak.. kalian sudah mempermalukan harga diri istri saya..!!" bentak Bang Rico.


Danyon malu setengah mati, tak terkecuali Bang Winata dan Bang Yudha yang ikut terkena imbas dari kecerobohan Danyon.


"Kami sungguh minta maaf Ric." kata Bang Yudha menengahi kemarahan Bang Rico.


"Kenapa Abang dobrak rumah saya??"


"Tadi ada laporan kalau kamu bawa perempuan ke asrama" jawab Bang Yudha. Danyon sudah terdiam saking malunya.


Mata Bang Rico langsung menatap mata Om Acep.


"Aceeeeeppp...!!!!!!!!"


"Siap..!!!!!"


...


Bang Rico menampari wajah Acep. Kemudian meminta nya berguling di lapangan. Belum lagi Bang Rico sempat menghajar Om Acep. Dirinya sungguh geram, karena ulah Acep.. hampir seluruh anggota jaga dan provost nyaris melihat tubuh istrinya.

__ADS_1


"Matamu dimana??????? Kamu nggak lihat yang di dalam mobil itu Nyonya Rico????" bentak Bang Rico.


"Karena kebodohanmu, istri saya jadi bahan tontonan orang..!!!!!!!"


"Siap salah..!!"


Tak lama Asya datang ke lapangan di dekat pos penjagaan.


"Abang.. sudah..!! Jangan marah lagi" bujuk Asya.


"Kenapa kamu disini?? Bukanya istirahat di rumah"


"Asya pengen di temani Abang" pinta Asya.


"Kamu pulang dulu..! Nanti Abang pulang..!!" perintah Bang Rico masih meradang.


"Nggak mau"


"Asyaaaa..!!!!!!!!!!!!" Bang Rico bermaksud meninggalkan Asya.


Asya meremas dadanya, ia meraih lengan Bang Rico.


"Bang.. Asya pusing.. mual..!!"


Mendengar itu.. perhatian Bang Rico langsung teralihkan.


"Ya ampun.. makanya kamu jangan banyak jalan..!!" rasa cemasnya mengalahkan segalanya. Apalagi melihat Asya langsung lemas bersandar padanya.


"Ijin Abang.. saya pamit mendahului..!!" pamit Bang Rico.


"Ya sudah sana. Urus istrimu dulu..!!" kata Bang Winata.


"Pakai motor Abang nih, biar cepat" Bang Yudha melempar kunci motornya.


"Siap.. saya pinjam dulu Bang..!!"


"Aman..!!" jawab Bang Yudha.


Asya pun menoleh dan memberi kode pada para senior bahwa dirinya akan 'mengamankan' Bang Rico hari ini.


"Ayo dek..!! Hati-hati jalannya...!!"


~


"Untung saja Pak Win bisa membujuk istri Dantonmu itu, kalau tidak.. bisa habis kau babak belur di hajarnya." kata Bang Winata sambil membantu Om Acep.


"Makanya.. apapun itu, harus kamu perhatikan betul. Kalau sudah begini khan jadi fatal akibatnya. Kamu tau sendiri khan, Rico itu orang yang tenang tapi tegas. Tapi kalau sudah marah.. saya sendiri habis kata-kata" imbuh Bang Yudha.


:


"Aaaaaaa.. punggung Asya sakit" rengek Asya.


"Sebenarnya yang mana yang sakit?? Sebentar di kaki, sebentar di perut, sebentar di tangan.. sekarang lari ke punggung"


"Ini khan anak Abang yang minta"


"Dedeeekk.. Ayah marahi Mama daritadi" ucap Asya sengaja mengadu pada 'bayinya'.


"Astagfirullah.." Bang Rico mengusap dadanya.


"Nggak.. Ayah nggak marah. Ya sudah sini..!! Minta pijat punggung khan?" ucap Bang Rico lebih lembut, dirinya sungguh takut terjadi sesuatu pada Asya dan calon anaknya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2