Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
42. Pusingnya Bang Rico.


__ADS_3

OM TENTARAKU ada di NT ya pembaca Nara tercinta. 🥰😘🙏.


🌹🌹🌹


Belum selesai Nafa menjawab, pintu ruang rawat terbuka. Asya datang menjenguk adiknya.


Bang Rico dengan sigap melepas jaketnya dan mendekap Asya.


"Sama siapa kesininya dek?" tanya Bang Rico cemas.


"Om Acep Bang. Pakai mobil Papa" jawab Asya.


Bang Rico mengarahkan Asya untuk duduk karena istrinya itu belum begitu sehat.


"Nafa.. bagaimana keadaanmu?" tanya Asya yang menyusul Bang Rico ke rumah sakit.


"Kenapa Mbak kesini? Dulu.. saat Nafa kecil, mbak selalu bilang.. kalau apapun yang Mbak punya dan Nafa suka, bisa Nafa miliki" bentak Nafa melihat Asya begitu di sayangi Bang Rico. Bahkan saat Asya datang tadi, Bang Rico langsung mendekap dan mengkhawatirkan kakak tirinya itu.


"Nafa, ada hal yang tidak bisa di bagi.. termasuk soal Abang. Abang Rico suami Mbak Asya" ucap Asya sabar berusaha memberi pengertian pada Nafa.


"Mbak serakah, dari dulu sampai sekarang.. Mbak dan Mama Adinda sudah merebut kebahagiaan keluarga Nafa.. kalian berdua sudah merebut cinta Papa. Sekarang Nafa hanya meminta satu hal kecil itu dan Mbak tetap tidak memperbolehkannya???"


"Bukan begitu Nafa.. prinsip hidup Mbak Asya, pernikahan hanya satu kali seumur hidup.


"Berarti Mbak hanya ingin Mbak saja yang bahagia. Kalau tidak sanggup.. nggak usah berjanji. Basi..!!!!" nada keras Nafa semakin tak terkontrol.


"Asal bukan Abang yang kamu minta, pasti Mbak penuhi" kata Asya.


"Menjauh lah dari Abang..!!" pinta Nafa.


"Nafaaaaa.. semakin nggak waras saja kamu..!!!!!" bentak Bang Rico.


Nafa langsung tertunduk sedih dan menangis.


"Abaang.. jangan di bentak..!!" Asya sedik sekali melihat tangis Nafa.


"Ayo pulang..!!" ajak Bang Rico kemudian menggandeng tangan Asya.


"Ayo pulang..!!!!!!!!!" Bang Rico mengulang ucapannya lagi karena Asya enggan beralih dari tempatnya.


:

__ADS_1


"Jangan nangis..!!!!! Abang lelah dengarnya dek...!!!!!" Bang Rico akhirnya tak sengaja membentak Asya hingga Asya terdiam dan syok mendengarnya.


Ya Allah.. Astagfirullah.. Maaf dek, Abang nggak bermaksud marah sama kamu"


Bang Rico mencoba memeluk Asya, tapi Asya menepis tangannya.


"Abang minta maaf dek. Abang banyak pikiran.. nggak sengaja sayang"


"Kalau Abang buat salah baru bilang sayang. Kemarin kemana kata sayangnya?" tanya Asya.


Bang Rico menghela nafas. Bumilnya pasti sedang sensitif saat ini.


"Mana ada Abang nggak bilang sayang. Abang sayang sama Asya"


"Apa Abang akan meninggalkan Asya?" tanya Asya berwajah sendu.


"Ngomong apa sih dek. Yang begitu kenapa di tanya"


"Asya butuh kepastian Bang"


Sejenak Bang Rico terdiam dan berpikir. Dirinya memang sudah menikahi Asya tapi tetaplah Asya membutuhkan banyak waktu untuk berproses. Tidak mungkin baginya memaksa Asya menjadi dewasa seperti keinginan nya karena ia sudah memahami resiko menikahi gadi dengan usia belasan.


"Nggak.. dan nggak akan pernah. Abang menikahi mu tulus dan tanpa syarat"


Asya sudah sedikit bisa lebih tenang, Bang Rico sedikitpun tak pernah meninggalkan dirinya. Bang Rico meminta Papa dan Mama dengan tegas untuk membawa Nafa jauh dari rumah tangga mereka berdua.


Papa Wira dan Mama Dinda sudah menemani Nafa di rumah sakit dan menyanggupi permintaan Bang Rico. Mama Dinda sangat syok mengetahui putrinya.. yang ia lahirkan bisa memiliki sifat dan sikap tidak wajar seperti itu, padahal dirinya tak kurang mendidik Asya dan Nafa bahkan soal ilmu agama sekalipun.


"Nafa bagaimana ya Bang?" tanya Asya.


"Bisa nggak kalau kamu fokus saja sama anak kita? Jangan pikirkan Nafa.. sudah ada Papa Mama yang jaga" jawab Bang Rico.


"Asya hanya kasihan sama Nafa."


"Kasihan?? Bocah yang omongannya ngelantur nggak jelas, bertingkah tidak wajar kamu bilang kasihan?? Suamimu ini sedang mempertahankan pernikahan kita. Kamu mau bocah cilik itu diam-diam menjadi gunting dalam lipatan????" Bang Rico akhirnya kembali membentak Asya, sungguh saat ini tingkat stressnya mulai naik drastis. Bang Rico sampai menendang meja dengan kuat saking kepalanya sudah penuh dengan beban pikiran.


Bang Rico meninggalkan Asya sendirian di dalam kamar. Ia pun pergi menyambar rokok dan kunci motornya.


...


"Stress Ric?" sapa Bang Winata kemudian merangkul bahu Rico. Semakin lama dirinya mengenal junior nya itu.. semakin ada rasa yang mendorongnya agar terus mendukung dan selalu berada tidak jauh dari Rico.

__ADS_1


"Banget Bang.. aku yakin Nafa tidak sejahat itu. Mana ada anak seusia dirinya mampu berpikir dan memiliki ambisi di luar batas" kata Bang Rico.


"Kamu mencurigai seseorang?" tanya Bang Winata.


"Curiga itu pasti, tapi aku tidak tau siapa orangnya" jawab Bang Rico kemudian meneguk softdrink.


"Sabar ya Ric, ujian rumah tangga. Rumah tanggaku pun juga tidak semulus yang kamu kira. Kita sebagai laki-laki harus kuat sekuat-kuatnya mengarahkan rumah tangga kita" kata Bang Winata.


...


"Tidak ada yang tau pergi kemana" kata petugas di rumah sakit.


"Ya Tuhan, Nafaa.. pergi kemana kamu nak?" Papa Wira bergumam cemas.


"Ijin Dan.. tidak ada dimana-mana" kata seorang ajudan Papa Wira.


"Aduuhh..!!" Papa Wira mengambil ponsel nya.


___


"Rico.. tolong Papa"


"Iya Pa, ada apa?" tanya Bang Rico.


"Nafa hilang.. bisa minta tolong anggotamu untuk bantu cari Nafa?"


"Baik pa, saya akan bantu. Tunggu sebentar ya Pa..!!" jawab Bang Rico.


___


"Kamu sama Netta dulu ya..!! Abang mau bantu Papa cari Nafa"


Wajah Asya berubah pias kala Bang Rico menyebut nama Netta.


"Sayang.. tolong..!! Abang hanya cemas, nggak ada maksud apa-apa" Bang Rico mengenakan celana panjangnya kemudian mengecup bibir Asya sekilas.


"Percaya sama Abang..!! Abang sayangnya cuma sama Asya" bujuk Bang Rico meskipun semua seakan penuh drama konyol baginya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2