
Asya memakai dress panjang berwarna maroon, ia terlihat anggun dan sedikit lebih dewasa dari usianya saat ini. Senada dengan kemejanya, Bang Rico juga mengenakan pakaian senada seperti yang Asya minta. Bang Rico begitu terpesona melihat gaya sang istri.
"Belahan paha..." mata Bang Rico tertuju pada belahan dress jah di atas paha.
"Apa Bang??"
"Aahh.. maksud Abang.. belahan pahamu itu terlalu tinggi. Kulit hitam begitu di pamerkan.. siapa mau lihat?" tegur Bang Rico menutupi degub jantungnya yang berdetak tak terkendali.
"Ya Abang lah" Asya membuka sedikit belahan pahanya dan terlihat sedikit 'makanan favoritnya' disana.
"Baru di buka begini saja biji mata Abang sudah mau lepas"
"Asyaaa.. Tutup..!!! Nggak sopan Neng, apapun barang milik suami nggak boleh kamu pamerkan sama orang lain." Bang Rico membenahi posisi dress Asya agar bisa menutup pahanya kembali.
"Kamu sendiri yang buat Abang protective."
...
Bang Rico tidak begitu suka dengan makan malam bergaya kebarat-baratan. Lidahnya sudah kental dengan masakan negeri sendiri, belum lagi porsinya yang tidak terlalu besar hanya bisa memenuhi seperempat bagian saja. Berbeda dengan Asya yang mulai tidak nyaman duduk karena kekenyangan. Di ruang VIP, ia lebih leluasa bergerak.. Bang Rico tidak ingin ada orang lain yang menikmati kecantikan sang istri meskipun di luar itu masih ada mata yang berusaha mencuri pandang.
"Nanti pulang dari sini.. Abang mau beli nasi Padang. Apa pula nih, daging nggak ada sejengkal, hanya di bumbu semur saja mahalnya bukan main" gerutu Bang Rico menatap daging steak yang ia makan.
"Abang bawa uang nggak?" tanya Asya cemas karena terpengaruh ucapan Bang Rico.
"Satu porsi lima puluh ribu dapat nggak nih" goda Bang Rico memasang wajah cemas.
"Bang.. jangan main-main aahh.. steaknya saja minimal dua ratus ribu, Abang pesan yang premium khan?" tanya Asya.
"Astaga.. yang benar dek??? Waduh.. pulang dari sini, Abang ngepel, kamu cuci piring. Abang mana kuat bayar makan malam macam begini" jawab Bang Rico tak hentinya menggoda Asya.
"Iihh Abang.. masa Asya sama anak Abang di suruh cuci piring" gerutu Asya sambil menghentakkan kaki dengan wajah mendung.
__ADS_1
"Bener juga, Abang mana tega"
"Terus bagaimana Bang???"
Bang Rico terdiam seolah berpikir keras.
"Kamu lihat tante-tante disana, dari tadi lihat Abang terus. Dia duduk sendirian. Bagaimana kalau Abang jual diri?" tanya Bang Rico dengan wajah serius.
Raut wajah Asya langsung berubah drastis apalagi saat melihat Tante-tante itu terus menatap Bang Rico dengan genit.
"Abang mau Asya siram saos ketoprak?????" tak sampai disitu, kaki Asya langsung menendang titik lemah Bang Rico.
"Hmpphh..." Bang Rico langsung menutupi wajahnya yang memercing menahan sakit sampai ke ubun-ubun kepala.
"Nggak usah banyak gaya ya Abang. Itu pria yang duduk di pojok, daritadi juga terus melihat Asya dan memberikan kode. Kalau Asya mau, Asya bisa kesana dan malam ini Asya dapat uang banyak" cerocos Asya jengkel.
"Huusshh.. Abang hanya bercanda. Kamu lagi.. main kode sama laki lain. Berani kamu kesana.. Abang selesaikan kamu disini tanpa ampun" ucap Bang Rico tiba-tiba merasakan panas terbakar. Bisa-bisanya Asya saling lirik lelaki lain. Bang Rico pun melepas jas nya dan melempar pada Asya.
Asya yang kesal menendang jas tersebut hingga terpental lumayan jauh. Bang Rico mengepalkan tangan sejenak tapi sesaat kemudian melonggarkan dan meredakan emosinya.
Bang Rico berdiri dan berjalan memungut jasnya, mengibaskannya sesaat.. kemudian menyampirkan di kedua bahu Asya.
"Kita kesini untuk makan malam, bukan untuk bertengkar"
"Abang khan yang mulai duluan, mau jual diri sama Tante-tante itu? Asya memang belum pintar menyenangkan Abang.. tapi bukan berarti Abang bisa mencari kesenangan di luar. Asya juga masih belajar biar Abang betah di rumah, biar bisa sayang sama Asya, Asya juga ikuti tutorial menjadi istri yang baik......"
Bang Rico langsung menunduk mengecup bibir Asya beberapa.
"Cerewet sekali istri Abang. Sudah puas apa belum ngomelnya?" ucap lembut Bang Rico.
Wajah Asya memerah, ia langsung memalingkan wajahnya. Air matanya berlinang, ada sesenggukan kecil terdengar disana.
__ADS_1
Bang Rico berjongkok di hadapan Asya dan menggenggam kedua tangannya.
"Mana tega Abang menyakiti kamu, apalagi menduakanmu. Abang tau Asya sudah berusaha keras untuk menyenangkan Abang. Terima kasih.. Abang sangat menyukainya, istri Abang luar biasa."
Asya berusaha melepaskan genggaman tangan itu tapi Bang Rico tak mau melepasnya.
"Abang tidak butuh kesenangan di luar sana. Bukan hanya kamu yang belajar, Abang juga belajar bagaimana caranya agar kamu nyaman bersama pria seperti Abang. Abang juga tidak mau kamu lari dengan pria lain karena Abang tidak sanggup memenuhi tanggung jawab lahir dan batinmu. Tidak hanya kamu yang cemas, Abangpun sama.. karena Abang sudah punya rasa cemburu, cemburunya seorang suami.. kamu paham sayang?"
Asya mengangguk. Bang Rico memencet tombol dan seketika tirai tertutup. Asya yang tidak siap, begitu terkejut saat Bang Rico menyambar bibirnya dan memeluknya erat, di dalam ruangan itu.. mereka terhanyut dalam rasa. Asya pun terjebak dalam terbawa perasaan. Perlahan rasa itu saling berbalas. Semakin lama, terdengar lirih suara rindu dari bibir keduanya. Tak lama pagutan itu terlepas. Ada raut wajah kecewa dari Asya. Bang Rico tersenyum melihat kekecewaan sang istri.
"Naik sebentar ke atas yuk..!!" ajak Bang Rico.
"Kemana Bang?"
"Mama Asya pengen di sayang Papa Rico nggak? Ajak creambath si dedek dulu kita..!! " bisik Bang Rico membuat bulu kuduk Asya meremang.
Asya masih berkedip-kedip di tempatnya.
"Tapi.. macet nggak ya, selangnya baru kamu patahkan" goda Bang Rico.
"Abaaaaang.." suara manja Asya terdengar bercampur rasa kecewa.
Bang Rico tertawa puas berhasil mengerjai istrinya.
"Hmm.. nggemeske tenan. Makanya lain kali jangan main tendang. Kalau pecah, kamu sendiri yang bingung"
.
.
.
__ADS_1
.