Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
36. Rasa kita bersama.


__ADS_3

"Alhamdulillah kalau sudah nggak mual." ucap Bang Rico tapi masih tetap memakai kacamata hitamnya di dalam ruangan.


"Pakai make up lagi donk Bang..!!" pinta Asya.


"Ya ampun dek, tadi ketemu Bang Yudha sama Bang Win saja sudah heboh begitu. Bagaimana kalau sampai Abang ketemu orang satu batalyon" jawab Bang Rico.


"Anak Abang pengen..!!"


Bang Rico menghela nafasnya.


"Anak ayah kalau ngerjain nggak tanggung-tanggung ya. Tapi Ayah capek sekali sayang, dari semalam nggak bisa tidur karena jaga Mama."


Asya kasihan juga melihat Bang Rico dengan wajah yang satu karena mengantuk dan lelah. Ada rasa haru dalam hatinya karena Bang Rico benar-benar menunjukan rasa sayangnya pada dirinya dan calon anaknya.


"Tidurlah Bang.. Asya sudah nggak apa-apa, sudah nggak sakit lagi"


Bang Rico menciumi tangan Asya kemudian mendekapnya. Tak lama Bang Rico tertelungkup dan tertidur tak melepaskan tangan Asya.


"Abang minta maaf ya dek..!!" gumamnya lirih tapi masih sempat terdengar. Ada setetes air mata jatuh di tangannya.


"Asya yang minta maaf Bang, sudah membuat Abang sampai seperti ini. Imam Asya yang baik"


...


"Kamu harus lebih hati-hati sama setiap tindakanmu dek. Kamu tau sendiri Asya sedang dalam pemulihan, jiwanya masih terbolak balik. Kemarin Asya sempat cemburu karena dia baru tau kamu dan Rico pernah punya hubungan"


"Apa Bang, terus bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Netta.


"Alhamdulillah sudah pulih bertahap, asal tidak ada obat itu semua aman. Asya hampir mati bunuh diri karena pengaruh obat, belum lagi karena kepikiran kamu sama Rico.. dia masih mengira Lingga itu anakmu sama Rico" jawab Bang Yudha.


Netta bersandar di ranjangnya.


"Ada-ada saja masalah hidup ini. Semoga Asya cepat sehat"


...


Bang Rico tersentak saat Asya menggerakkan badannya.


"Kenapa dek? Mau apa??" tanya Bang Rico.


"Asya nggak bisa gerak Bang. Perut Asya masih sakit" jawab Asya.


Bang Rico berdiri, matanya masih memerah karena baru bangun dari tidurnya. Ia sedikit memiringkan tubuh Asya.

__ADS_1


"Sudah nyaman?"


Asya mengangguk. Ia juga langsung memeluk Bang Rico.


"Masih ada yang 'keluar' nggak dek?" Bang Rico masih saja cemas. Pikirannya masih saja tak bisa melupakan saat melihat cairan yang menetes dari sela paha Asya.


"Sudah nggak lagi Bang" jawab Asya.


"Alhamdulillah.." Bang Rico mengecup kening Asya.


"Lain kali jangan cari perkara ya Bang..!!"


"Yang cari perkara itu siapa Neng?"


Wajah Asya seketika berubah drastis. Tangannya melepas pegangannya dari Bang Rico.


Bang Rico menarik tangan Asya kembali dan dirinya yang beralih memeluknya.


"Abang yang salah.. Abang yang sudah buat kamu marah. Abang minta maaf dek" ucapnya mengalah sebelum kembali terjadi huru hara.


Beberapa saat kemudian ada panggilan telepon dari Danyon.


"Selamat siang.. Ijin arahan Abang..!!"


"Kamu dimana?? Kenapa nggak ada di kantor? Nggak lakukan tugasmu juga?" tegur Danyon.


"Istrimu itu nggak bisa lepas dari rumah sakit ya? Sedikit-sedikit pergi kesana.. kenapa nggak pindah aja rumahmu disana. Kamu itu di Batalyon ini di bayar untuk negaramu.. bukan untuk istrimu yang masih anak-anak itu..!!!!" bentak Danyon.


Bang Rico terdiam, raut wajahnya begitu kaku dan menyimpan rasa marah yang teramat sangat. Hatinya tidak terima seniornya mengusik kehidupan rumah tangganya terutama Asya.


"Saya lajur ke Batalyon..!! Abang tunggu saya disana..!!!!!!!!" Bang Rico memutuskan panggilan telepon tanpa menunggu jawaban Danyon.


"Abang tinggal sebentar..!!" pamit Bang Rico kemudian menyambar rokok di meja kecil samping Asya.


"Bang.. nggak usah marah-marah lagi..!!" kata Asya.


"Kamu tunggu Abang..!! Abang hanya sebentar..!!" Bang Rico segera pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Hatinya sudah panas tak karuan.


...


"Rico tahan..!!!!!!"


"Kalau mulutnya itu hanya menghina saya.. saya masih bisa tahan Bang. Tapi dia sudah menyebut istri saya..!!" kata Bang Rico.

__ADS_1


"Saya ini memang milik negara, anak negara.. tapi saya juga harus menjaga istri saya..!!" ucap Bang Rico dengan nada mulai meninggi.


"Apa yang salah dari ucapan saya?? Kamu tidak melaksanakan tugasmu dengan baik, istrimu terlalu manja dan selalu mengganggu jalannya aturan." bentak Danyon.


"Beraninya kamu sebut-sebut istriku lagi..!!" Bang Rico bersiap menghajar Danyon tapi Bang Winata dan Bang Yudha menghadangnya.


"Push up kamu Ric..!!"


"Kau siram dia Yud.. Mulai gila dia karena perempuan..!!" ucap Danyon.


Mendengar itu, Bang Rico semakin mengamuk. Ia melepas pegangan tangan Bang Yudha dan Bang Winata kemudian mengambil selang tangan yang tidak jauh darinya.


"Duuuhh.. Ricooo..!!!!!" Bang Winata berusaha mencegah amarah Bang Rico, tapi sayang.. Bang Rico sudah menyalakan selang air bertekanan cukup tinggi.


Air mengalir deras menghantam tubuh Danyon, beberapa anggota segera menolong mereka, parahnya Bang Rico sangat sulit untuk di tenangkan.


"M****s kau.. berhentilah kau sebut istriku..!!" umpat Bang Rico.


...


Dengan arahan wadanyon akhirnya Danyon mengijinkan Bang Rico untuk pulang ke rumah daripada semua harus berurusan dengan pria merepotkan itu.


Secepatnya Bang Rico berganti pakaian dan segera menemui Asya di rumah sakit.


:


Saat Bang Rico datang, ada beberapa petugas kesehatan sedang memeriksa keadaan Asya. Seketika Bang Rico panik.


"Ya Tuhan, Asya kenapa??" Bang Rico berlari dan langsung masuk ke kamar rawat Asya.


"Ada apa As???" tanya Bang Rico panik.


"Asya kesakitan, dia menambah dosis di obatnya. Jadi proses penetralan ini cukup lama.. apalagi Asya khan sedang hamil. Harap maklum Ric" jawab Dokter As.


Bang Rico menghampiri Asya dan memeluknya.


"Sakit sekali ya dek? Ada Abang disini. Asya pukul Abang kalau nggak tahan sakitnya, atau lakukan apa saja sesukamu biar Abang juga merasakan sakitnya" Bang Rico terus mengusap Asya disana-sini.


"Asya hanya mau di peluk Abang..!!" jawabnya menggigil.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2