Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
46. Gagal marah.


__ADS_3

Seruan dari microphone sudah terdengar.


"Para anggota yang terlibat kenaikan pangkat, harus menunjukan satu bakat, terutama perwira nya..!!" kata Wadanyon.


"Egh.. kapok ma kapan Ric..!! Bisa apa lu selain otak mesum?" tegur Bang Winata.


"Saya bakat bikin anak Bang" jawab bang Rico pelan karena masih lemas.


"Woooo.. sableng, kalau yang itu Abang juga punya bakat terpendam. Lihat tuh, anak sudah dua" jawab Bang Yudha.


Bang Rico perlahan bangkit dari posisinya meskipun rasanya badan masih tak karuan.


...


"Nyanyi sudah biasa Ric. Kalau bisa senam kebugaran" kata Wadanyon.


"Ya Allah Bang, mana ada pelatih senam kebugaran teler begini. Bagaimana kalau nembak?" tanya Bang Rico.


"Nggak.. suaranya buat takut anak-anak. Rata-rata anggota hari ini bawa keluarga."


Oiya ya, kenapa aku nggak mikir kalau acara hari ini bawa keluarga. Pantas saja Asya ngamuk. Padahal aku nggak niat naik ke atas panggung.


"Ya sudah.. kamu pikirkan dulu Ric. Sekarang mau ada penari jaipong naik ke atas panggung" kata Wadanyon.


:


Mata Bang Rico terbelalak saat tau ternyata Asya adalah penari jaipong nya. Tubuh ramping berlenggak lenggok, gerak tubuh lentur.. sesekali para bujangan 'mengurung' Asya dan ikut menari bersama.


"B******n.. belum tau mereka kalau Asya itu istri ku.. istri Lettu Rico. Lancang..!!!"


Melupakan rasa sakitnya.. Bang Rico berjalan cepat menuju panggung. Ia naik dan tak peduli dengan yang lain.


"Mana selendang jaipong nya????" Bang Rico meminta selendang jaipong dari pemain gendang.


Setelah menerima nya.. Bang Rico ikut masuk ke tengah panggung dan para bujangan pun akhirnya mundur perlahan karena mata Lettu Rico sudah penuh ancaman.


"Apa-apaan kamu?? Nggak ingat sudah punya suami???? Itu korset terlalu ketat atau tidak??" tegur Bang Rico.


"Jangan banyak bicara, kalau bisa imbangi ya sudah.. joged saja..!!!" jawab Asya ketus.


"Semprul..!!!" dengan kesal refleks Bang Rico menampar p****t Asya. Para anggota dan keluarga yang sudah paham dengan status mereka tertawa saja, tapi bagi yang belum tau akan ternganga.. bagaimana tidak, bisa-bisanya ada perwira yang begitu kurang ajar memperlakukan wanita.

__ADS_1


"Astaga.. Rico..!!" Wadanyon menggeleng pasrah karena kejadian tidak sengaja ini.


"Harus di klarifikasi kalau begini caranya"


Tak ada yang menyangka ternyata Bang Rico pandai mengimbangi Asya hingga tepuk tangan dari penonton semakin membahana. Lenggangan romantis dan hangat tercipta dari keduanya.


"Jangan cemburu, Abang minta maaf. Abang sudah berusaha keras untuk menghindar" bisik Bang Rico.


"Terserah.. pokoknya Asya kesal" jawab Asya.


Bang Rico tersenyum tipis.. sungguh bumilnya begitu cantik menawan, teringat kembali rasa cemburunya kembali naik.


"Jangan begini lagi.. Nggak pantas dek"


Asya melenggang menjauh tapi Bang Rico menangkap pinggangnya.


"Nurut Abang atau Abang panggul kamu pula g ke rumah??" ancam Bang Rico. Akhirnya Asya mengalungkan selendang dan meliuk cantik sebagai penutup.


"Astagfirullah hal adzim.. " Bang Rico tak menyelesaikan tarinya tapi langsung memeluk Asya dan membawanya turun dari panggung. Ia merasa cemburu luar biasa saat para bujangan terkesima dengan istrinya. Batinnya mengumpat-umpat berang tak karuan.


:


"Kok apa??? Mata bujangan tanpa harapan itu sudah memelototi mu sampai biji matanya hampir lepas. Otak mereka itu sudah kotor penuh noda.. mesum.. tau nggak kamu???" jawab Bang Rico sudah naik darah, ia mengusap perutnya yang sesekali masih merasa mual.


"Tau lah.. seperti Abang khan??"


"Apanya yang seperti Abang?? Abang khan sudah bilang kalau Abang menghindari si Desi penyanyi itu. Abang nggak goyang sama sembarang perempuan" pekik Bang Rico semakin panas.


"Terus sama siapa?" tanya Asya dengan wajah tanpa dosa.


"Sama kamu lah." jawab Bang Rico sambil melirik Asya.


"Itu barusan.. di panggung" Bang Rico sekaan meralat ucapannya.


"Oohh.. Asya kira di........."


"Apa??? Mau di goyang lagi?????" goda Bang Rico yang menyadari amarah Asya mulai luntur.


"Tapi Abang jangan ke panggung lagi. Asya nggak suka" ucap jujur Asya.


"Iyaa.. nggak lagi. Hanya hiburan untuk kepentingan dinas. Abang nggak akan macam-macam. Jangan ngambek lagi ya dek" bujuk Bang Rico.

__ADS_1


Asya memalingkan wajahnya belaga masih marah.


"Uluuhh ayunee tenan kowe dek.. Marai Mas Ric kangen." Bang Rico mencolek dagu Asya dan menggoda istri nya.


"Ojo nesu dek.. ayune ilang lho" kata Bang Rico lagi kemudian mendekatkan wajahnya ke bibir Asya. Bibir itu pun mengecup lembut.


"Astagfirullah.." tiba-tiba Bang Yudha datang dan berbalik badan.


"Heeh kampret.. ini tenda, bukan kamarmu. Dasar buaya buntung"


Refleks Bang Rico berdiri sedangkan Asya menunduk salah tingkah.


"Siap salah Abang..!!"


"Push up kamu.. sepuluh kali..!! Ngawur kamu ini Ric....!! Bagaimana kalau anggotamu yang masuk??" tegur Bang Yudha.


Bang Rico pun mengambil posisi dan melaksanakan hukumannya.


"Otak kok isinya telo. Bagian begini di rumah saja Ric"


"Siaapp..!!"


...


"Saya harap tidak ada lagi suara sumbang si Batalyon. Yang tadi menari jaipong di atas panggung.. adalah istri Lettu Enrico, karena kesalahan prosedur.. hingga saat ini data pernikahan mereka masih berproses. Saya harap semua cukup di mengerti dan ibu-ibu bisa berbaur."


Wadanyon memberikan mic agar Bang Rico bisa mengenalkan Asya secara langsung.


"Siap.. terima kasih Komandan" Bang Rico menerima mic tersebut. Tanpa rasa gugup dan penuh wibawa.. Bang Rico membuka suara.


"Selamat pagi Komandan, senior, rekan-rekan dan ibu-ibu semua. Di sebelah kiri saya ini.. Naresha Irania.. beliau ini adalah benar belahan jiwa saya.. Istri sah Lettu Enrico. Saya harap dalam proses yang ada.. rekan dan terutama ibu-ibu bisa menerima kehadiran istri saya dan saya mohon bimbingan untuk istri saya ini.. dan untuk Asya istri Abang tersayang.. Abang perkenalkan batalyon ini untukmu dek. Abang titip nama di pundakmu.. selamat datang di dunia barumu..!!" Bang Rico mengecup kening Asya dengan lembut dan penuh rasa sayang.


"Bang Rico sayang Asya"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2