Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
84. Kacau.


__ADS_3

Fasya menangis karena merasa badannya semakin sakit. Bang Pandu akhirnya bergeser dari badan Fasya.


"Masa sakit sih sayang? Abang pelan-pelan lho" kata Bang Pandu heran.


"Awas Abang.. Fasya mual"


...


Bang Pandu akhirnya menghubungi bagian kesehatan untuk memeriksa Fasya.


"Ijin Dan.. lebih baik ibu di periksakan saja ke rumah sakit"


"Istri saya kenapa?" tanya Bang Pandu.


"Ijin.. Hamil Komandan" jawab seorang anggota Bang Pandu.


"Haaahh.. yang benar kamu??"


"Siap.. dari gejalanya lebih mengarah kesana Dan"


"Ya Tuhan. Piye Iki. Empat bulan lagi ujian nasional" gumam lirih Bang Pandu.


"Apa mau di periksakan sekarang Dan?"


"Sebentar.. nanti biar saya sendiri yang bawa istri saya ke rumah sakit" jawab Bang Pandu.


:


tok..tok..tok..


"Ricooo.. Ya ampun.. kamu ini hidup atau mati?" berkali-kali Bang Pandu mengetuk pintu rumah Bang Rico tapi tak ada jawaban sama sekali.


"Kalau Rico masih sakit sih oke. Tapi Asya.. masa iya sudah tidur" gerutu Bang Pandu kemudian mengetuk rumah Bang Yudha.


:


"Sorry ganggu.. bensin Abang habis nih. Mau bawa Fasya ke bidan terdekat" kata Bang Pandu.


"Kok Bidan Bang?" tanya Bang Yudha.


"Abang mau punya baby" jawab Bang Pandu dengan wajah cerah.


"Astaga Bang" Bang Yudha mengusap wajahnya. Ia ikut cemas memikirkan nasib Fasya selanjutnya.


//


"Biar saja. Setiap lagi berduaan Bang Pandu selalu ketuk pintu. Abang heran.. ada apa di balik pintunya sampai harus ganggu orang"


"Asya tidak bisa menjawab apapun perkataan Bang Rico"


"Duuhh.. sakit semua" kata Bang Rico pelan.


"Makanya jangan maksain. Seperti nggak ada hari lain aja Abang ini"

__ADS_1


"Kalau sudah terasa mana bisa di tunda" jawab Bang Rico yang sekarang semakin lemas saja.


***


"Di rumah saja Ric" kata Papa Wira.


"Hari ini ada jam Komandan Pa. Nggak enak sama senior yang lain"


"Mereka pasti mengerti. Namanya juga manusia, pasti ada tumbangnya. Tentara juga manusia Ric."


"Masalahnya saya nggak ada sakit apa-apa Pa. Jadi saya mau alasan apa? Pusing, mual, punggung sakit, nggak doyan makan.. semua bukan sakit" jawab Bang Rico.


"Itu tandanya anakmu minta di temani ayahnya."


"Minta do'anya biar Asya sehat dan anak kami tidak ada kendala apapun sampai lahir nanti." pinta Bang Rico.


"Iya Ric. Ini juga Fasya ada di rumah sakit, Papa mau kesana dulu.. antar surat nikah Fasya."


"Memangnya Fasya kenapa Pa?" tanya Bang Rico.


"Kebobolan"


"Allahu Akbar.." Bang Rico tak sanggup berkomentar apapun karena di waktu yang lalu ia pun juga melakukan hal yang sama.


...


Bang Pandu kebingungan saat Fasya terus mual dan tidak bisa menelan makanan apapun.


"Aku bawa Fasya ke Singapura ya Yah"


"Mungkin kalau Fasya di bawa ke luar negeri.. mualnya bisa hilang Yah"


"Aduuuhh.. kalau hamil tuh mau di apakan juga tetap saja mabuk Pan" Mama Mey menggeleng melihat kepanikan putranya itu.


"Aku nggak tega lihat Fasya mual Ma. Kalau minum obat anti mual gimana Ma?" tanya Bang Pandu.


"Nggak bisa. Tetap saja mual"


Bang Pandu masih memijat tengkuk Fasya.


"Muntahnya kena baju Abang" kata Fasya lirih.


"Nggak apa-apa. Bisa Abang cuci.. yang penting kamu jangan muntah terus. Kamu lemas sekali dek"


Ayah Bayu duduk sambil memperhatikan anak dan menantunya. Ia teringat dulu saat Mey hamil, juga membuatnya cemas setengah mati.


"Ya begitulah rasanya kalau istri sedang hamil. Ini masih episode awal, belum konflik saat istrimu ngidam dan kamu nggak bisa dapat apa yang di inginkan bumil. Habislah kau Pandu" ledek Ayah Bayu.


Bang Pandu semakin berkecil hati, belum memulai perang.. ia tidak sanggup membayangkan kalau Fasya akan marah karena dirinya tidak bisa memenuhi keinginan sang istri.


...


Bang Pandu mondar-mandir sampai kepalanya sakit, perutnya terasa kosong dan sebah.

__ADS_1


"Ini Rico kemana ya? Siapa yang bisa handle urusan kantor kalau bukan dia" gumamnya.


"Ijin Dan.. Lettu Rico tidak bisa handle kegiatan hari ini. Beliau sedang tidak sehat, tadi sampai di bopong ke klinik"


"Ya Tuhan, sekarang badanku juga jadi meriang. Kalau urusan dinas nggak selesai.. besok pagi aku sama Rico bisa di guling di lapangan" ucapnya menggerutu pelan.


"Ijin arahan Dan..!!"


"Ya sudah lah, biar nanti saya sama Rico tangani sendiri" jawab Bang Pandu.


//


Benar saja, Danyon mencari Bang Rico dan Bang Pandu karena ruang POM kosong dan hanya ada beberapa anggota yang standby.


"Kemana atasanmu??" tanya Danyon.


"Siap.. Dan Rico sedang mendapat perawatan di klinik, Dan Pandu sedang berada di rumah sakit menemani istri.. Dan Pandu siang ini juga kurang sehat" jawab Om Sobri yang mondar-mandir dari Batalyon ke rumah dan sakit.


"Kenapa para perwira nya teler semua."


"Ijin.. Ibu Rico dan Ibu Pandu sedang hamil." Jawab Om Sobri.


"Laahh.. istri yang hamil kenapa perwiranya yang teler. Perang kuat.. istri hamil kok lemes" ledek Danyon.


...


Fasya sudah tenang di temani Mama Dinda. Tapi sekarang Bang Pandu yang sungguh merepotkan.


"Ayaah.. aku nggak bisa nafas"


"Ya ampun Pandu.. kamu jangan marah-marah terus" Ayah Bayu sampai bingung bagaimana caranya menenangkan Bang Pandu.


"Dokter yah, cepat panggilkan Dokter..!!" pinta Bang Pandu.


//


"Saya antar ke mess ya Bang." kata Bang Tino junior Bang Rico.


"Kamu ini daritadi ajak saya ke Mess itu mau apa? Mau gerayangin saya????" tanya Bang Tino jengkel.


"Siap tidak Bang. Biar bisa istirahat saja karena Abang nggak mau pulang ke rumah"


"Muka mu itu menjengkelkan.. pasti kamu punya niat nggak baik"


"Siap.. tidak berani Abang" jawab Bang Tino.


"Rasanya wajahmu itu pengen ku remas saja" entah kenapa Bang Rico begitu jengkel melihat wajah Bang Tino.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2