Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
72. Tidak sengaja.


__ADS_3

Fiktif tetaplah fiktif dan tidak usah mereka-reka kata 'di dunia' ini tidak ada hal seperti itu, di sini Nara membuat cerita sesuai hasil pikiran Nara. Bukan hasil pikiran pembaca yang tidak mau konflik dan hanya ingin nyaman.


🌹🌹🌹


"Jika memang semua demi kebaikan.. biarlah Fasya mengikuti jejak kakaknya. Papa merestui kalian" kata Papa Wira.


"Om.. bolehkah saya menikahi Fasya sekarang??" tanya Bang Pandu.


"Pandu.. jangan ngelunjak kamu ya..!!" tegur Ayah Bayu.


Papa Wira melihat Fasya sekali lagi.


"Apa kamu siap? Pernikahan bukan hal main-main nak" Papa Wira tetap menanyakan kesiapan mental Fasya.


"Fasya siap Pa." jawab Fasya.


Papa Wira mengusap bahu Fasya.


"Baiklah.. silakan lakukan. Saya ikhlas" ucap Papa Wira kemudian.


...


"Sumpah.. Abang pengantin laki-laki paling bar-bar yang pernah saya temui" kata Bang Rico.


"Abang nggak mau kehilangan lagi. Bagaimanapun beratnya.. pasti Abang perjuangkan" Bang Pandu menghabiskan rokoknya untuk menghalau rasa gugup dalam hati.


"Papa minta Abang segera masuk. Penghulu sudah datang..!!"


:


Dengan satu tarikan nafas, akhirnya Fasya sah menjadi istri Bang Pandu. Tangis haru mengalir.


Untuk pertama kali, Bang Pandu menyentuh tangan Fasya.. begitu pula sebaliknya, mata Bang Pandu sampai berkaca-kaca.


"Maaf.. harus dengan cara seperti ini." bisik Bang Pandu.


"Fasya sudah biasa bertemu pria aneh" jawab Fasya.


Bang Pandu tersenyum mendengarnya.


"Terima kasih...kamu bersedia menerima Abang dalam hidupmu" kata Bang Pandu.

__ADS_1


"Sama-sama Bang" jawab Fasya.


...


Malam itu, Bang Pandu langsung kembali ke Mess karena tidak mungkin dirinya membuat kehebohan dan langsung memboyong Fasya meskipun dirinya sangat ingin langsung berduaan dengan Fasya.


"Sudah menikah tapi harus tetap tidur sendirian. Ini bagaimana konsepnya??" gumamnya berkali-kali berpindah posisi, hatinya gelisah dan tidak nyaman.


"Mau punya anak pun harus menunggu sampai Fasya lulus."


~"~"~


Gazha sudah tidur di box nya, Bang Rico duduk menerawang mengingat perjalanan hidupnya dengan Asya.


"Abang kenapa?" tanya Asya kemudian duduk di samping Bang Rico.


"Nggak apa-apa. Kamu sudah mandi?"


"Sudah Bang.. ini rambut juga masih basah" jawab Asya sambil mengeringkan rambutnya.


Bang Rico mengambil handuk di tangan Asya lalu membantu istrinya itu mengeringkan rambut. Tak lama Bang Rico memeluk Asya, tangannya berkelana nakal menyusuri lekuk tubuh Asya.


"Abang kangen dek" ucap Bang Rico jujur. Tubuhnya kian menegang hebat tak bisa di redakan begitu saja.


"Kamu sudah siap dek? Nggak apa-apa nih kalau Abang minta sekarang?" tanya Bang Rico.


"Iya Bang.. Nggak apa-apa." jawab Asya kemudian mengalungkan kedua lengannya memeluk Bang Rico dengan manja.


Bagai mendapat angin segar, Bang Rico langsung menindih Asya tanpa ampun, rasa rindunya sudah tak tertahankan lagi. Ia pun membelai lembut tubuh Asya.. Bang Rico ingin Asya pun nyaman bersamanya malam ini.


Diiring suara angin malam.. Bang Rico mengecup bibir Asya. Nafas Bang Rico sudah memburu naik di tingkat tertinggi.


~


"Aaaaaa.." Asya menjerit kesakitan sampai mendorong dada Bang Rico.


"Kenapa dek??" Bang Rico ikut mundur saking kagetnya.


"Asya belum berani Bang. Sakit sekali..!!" rengek Asya padahal Bang Rico baru saja menembus pertahanan.


"Astagfirullah.. nyiksa Abang benar kamu dek" Bang Rico menarik diri, kepalanya serasa mau pecah.

__ADS_1


"Maaf Bang..!!"


"Kalau memang nggak mau sebaiknya bilang..!! Nggak usah bohong. Abang nggak apa-apa puasa lagi, dari pada jadinya harus setengah jalan begini" Bang Rico menyambar pakaiannya kemudian memakainya, ia menarik selimut dan menutup tubuh Asya dengan kasar.


~


"Uugghh.. Kepalaku mau pecah rasanya" Bang Rico menghisap rokok kemudian menyeruput kopi hitam di warung kopi tak jauh dari Batalyon.


"Rokoknya mas..!! Murah aja" seorang wanita duduk di samping Bang Rico.


Bang Rico melirik jam tangannya.. sudah jam satu malam tapi masih ada SPG di sekitar warung kopi yang kecil itu.


"Saya punya rokok sendiri" jawab Bang Rico membuang puntung rokok yang sudah kecil kemudian mengambil lagi batang rokok yang tinggal satu-satunya dalam wadahnya.


"Itu tinggal satu mas. Beli donk mas..!!" rayu SPG tersebut sambil menyalakan api di hadapan Bang Rico.


Bang Rico melirik tangan SPG itu, tangan itu sudah bersandar memegang sela pahanya. Rasa rindu pada Asya yang belum mereda, juga dirinya yang masih merasa on sempurna membuat Bang Rico terpancing dan tergoda.


"Saya bantu Mas?" tanya SPG itu saat tau Bang Rico sedikit merespon dengan tatapan matanya.


Astagfirullah hal adzim.. kenapa aku ini?? Bisa-bisanya aku bertingkah seperti ini. Aku pasti sudah menyakiti Asya karena emosiku.


"Maaf.. saya tidak sembarang pakai merek rokok" jawab Bang Rico menyingkirkan tangan SPG itu kemudian meninggalkan selembar uang di atas meja dan berlalu pergi dari tempat itu.


...


"Dek.. sayang..!!" Bang Rico langsung masuk ke dalam rumah dan mencari Asya.


Tak ada jawaban dari istrinya itu. Bang Rico mencari Asya ke setiap sudut rumah namun Asya tak kunjung ia temukan. Bang Rico panik sampai kembali ke dalam kamarnya. Disana ada Gazha yang tetap tertidur pulas seperti saat ia tinggalkan tadi.


"Sayang.. dimana Bunda?" Bang Rico menyentuh pipi Gazha.


Si kecil Gazha hanya menggeliat kecil merespon pertanyaan Ayahnya.


Tak lama terdengar suara dari arah belakang rumah. Kening Bang Rico berkerut dan segera menghampiri arah suara tersebut.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2