Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
48. Kekuatan sang suami.


__ADS_3

Warning..!!!


Yang tidak tahan dengan konflik.. silakan skip.. setelah kelengangan beberapa episode.. akan ada konflik fatal..!!!!.


🌹🌹🌹


"Dek.. pelan sedikit..!!" Bang Rico akhirnya berhasil menyambar lengan Asya.


"Sakiit..!!!!" Asya menepis tangan Bang Rico.


"Kenapa? Abang cemas karena Asya melihatnya? Cemas karena cinta Abang sama Mbak Netta belum usai? Haruskah Abang berpelukan sama Mbak Netta di toilet??" ucap Asya.


Bang Yudha terhuyung selangkah mendengar ucap Asya dari balik pohon.


"Maaf sayang.." Bang Rico menjauhkan tangannya.


"Kamu salah paham dek..!! Semua nggak seperti yang kamu lihat." jawab Bang Rico.


"Apa mata bisa berbohong Bang?" tanya Asya.


"Tidak setiap kali mata mengungkap kebenaran. Abang hanya mual, tidak tau ada Netta juga disana. Tolong percaya Abang..!!!" perlahan Bang Rico membujuk dan memeluk Asya, ia mengusap perut Asya yang kini tengah tumbuh calon bayi mereka. Cukup khawatir juga hati Bang Rico karena 'si kecil' mendapat ajakan olahraga dari mamanya.


Asya kembali berontak tapi sekali lagi Bang Rico membujuknya.


"Nggak capek kah lari-lari? Naik punggung Abang..!! Kita kuda-kudaan sampai rumah"


Asya tidak banyak bicara tapi ia langsung beralih ke punggung Bang Rico.


Alhamdulillah.. jangan sampai ngambek lagi dah, ada si kecilku yang nggak tau apa-apa. Ya Allah sungguh ketar-ketir hatiku.


...


"Benar???" tanya Asya usai Bang Rico mengarahkan dirinya untuk duduk di sofa.


"Sumpah mati nggak ada rasa apapun lagi di hati Abang untuk Netta dek." ucap Bang Rico terkesan gombalan maut laki-laki.


"Dulu Abang pernah gendong Mbak Netta seperti ini??" tanya Asya.


"Nggak..!!"


"Bohong..!!" jawab Netta.

__ADS_1


"Iki piye to, tanya opo ngajak perang?" Bang Rico pusing sendiri mendengar pertanyaan bodoh Asya. Maklum.. terkadang pikiran Asya masih belum sepenuhnya lurus dan ia pun tak ingin memaksa Asya berpikir menggunakan jalan pikirannya yang jauh lebih dewasa.


"Pernah atau nggak?? tanya Asya.


"Iya pernah, Abang khan dulu pacaran"


"Kalau ciuman?"


Terlintas sekelebat bayang Netta dalam benak Bang Rico. Jujur rasa itu hanya segaris ingatan yang tidak pernah ingin ia ulang kembali.


"Nggak"


"Bohong.. kenapa Abang selalu bohong sama Asya"


Bang Rico menangkup dan mengarahkan wajah Asya agar mata mereka bisa saling menatap.


"Kalau semua hanya untuk melukai hatimu lalu buat Apa? Apa untungnya buatmu mengingatkan Abang tentang masa lalu? Banyak hal dalam rumah tangga kita yang harus kamu pikir, anak kita misalnya"


Asya mengalihkan pandangan. Terlihat sekali wajah Asya yang begitu mencemburui Netta.


"Lihat Abang..!! Apa yang ingin kamu tau? Abang jawab"


Asya terdiam seribu bahasa, tak ada suara lagi dari bibirnya. Pertanyaan dalam hatinya hanya tercekat sampai tenggorokan.


"Abang tidak mungkin berbuat hal di luar batas, karena Abang ingin anak perempuan dan Abang tidak ingin putri kesayangan Abang kelak di perlakukan tidak hormat sama laki-laki"


"Kalau anak Abang laki-laki?"


"Abang tidak ingin anak laki-laki Abang mengikuti jejak buruk ayahnya. Dia harus punya akhlak yang baik" jawab Bang Rico.


"Apa istri Abang ini sudah mengerti?"


Asya mengangguk, perlahan mulai memahami.


"Jika hanya Abang yang merasakan salah paham ini.. Abang masih bisa terima.. tapi bagaimana kalau Bang Yudha yang salah paham? Lain kali jangan bertanya tentang hal di masa lalu, selain tidak patut.. tanpa sengaja kamu bisa menyeret nama lain dalam masalah kita" Bang Rico tersenyum kemudian mengusap perut Asya.. ia mendekatkan wajahnya ke bibir manis istri tercinta. Mau tidak mau.. Bang Rico harus membujuknya dengan cara lain hingga Asya luluh dan menurut padanya.


...


"Abang bisa percaya ucapanmu??" pertanyaan tegas dari Bang Yudha untuk Netta.


"Kalau Netta mau, Netta bisa kabur sama Bang Rico.. dan Netta bisa membuatnya kembali mencintai Netta" kata Netta tanpa takut.

__ADS_1


"Omongan macam apa itu??? Berani kamu coba kabur sama juniorku itu, kuremukan tulang kalian berdua" bentak Bang Yudha.


"Kenapa nggak sekarang saja..!! Netta malas berdebat sama Abang" jawab Netta.


"Nettaaaaa..!!!!!!!!!" Bang Yudha sudah mengangkat tangannya tinggi dan hampir menampar pipi sang istri, di saat itu.. si kecil Lingga, putra Yudha dan Netta datang. Ia melompat menginjak sofa lalu memantul menendang wajah sang Papa.


baaagghhhh...


"Jangan buat Mama ku sakit..!!!!" bentak Lingga.


Bang Yudha memercing merasakan ngilu di bagian hidungnya tapi seketika ia menyadari kesalahannya.


"Astagfirullah hal adzim.." ucapnya beristighfar merasakan amarahnya yang sempat tidak terkontrol. Netta sudah meneteskan air mata.


"Papa buat Mama nangis..!! Jangan jadi laki-laki pengecut" ucap Lingga menirukan kata yang biasanya Papa Yudha ucapkan padanya.


"Pakai rok sana..!!"


Hati Bang Yudha tak karuan.. sungguh ia termakan ucapannya sendiri. Setiap gerak-gerik sang putra adalah kaca dirinya.


"Papa minta maaf ya Bang..!!"


Si kecil Lingga memalingkan wajahnya.


Netta paham situasi sedang tidak baik. Ia menghapus air matanya lalu tersenyum mendekati Lingga.


"Abang kenapa marah? Ini khan hanya pura-pura, Papa sama Mama sedang latihan drama untuk menyambut Komandan baru. Ayo minta maaf sama Papa..!! Papa sampai kaget tuh lihat Abang marah" bujuk Netta. Begitu melihat senyum di wajah mamanya.. barulah Lingga mau menyapa Papa Yudha.


"Lingga minta maaf ya Pa. Sakit nggak pa?" tanya Lingga kecil.


Tangan Bang Yudha terasa kaku dan dingin.. badannya gemetar saat Lingga putranya meraih tangannya.


"Nggak nak.. nggak sakit" jawabnya merasakan 'nyeri' di ulu hati. Ia segera mengangkat dan menggendong Lingga kemudian memeluk Netta juga.


"Maafin Papa ya ma..!! Sungguh papa minta maaf" Bang Yudha menciumi wajah Netta penuh sesal.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2