
"Iya dek.. Abang peluk"
Bang Rico membacakan do'a agar Asya selalu ingat pada sang pencipta.
"Asya mau mati aja Bang.. Asya nggak mau sakit terus seperti ini" ucap Asya lirih.
Bang Rico hanya menutup bibir Asya dengan jarinya agar istrinya tidak lagi berucap macam-macam. Mata itu prihatin melihat penderitaan istrinya.
...
"Aku cek aman As"
"Alhamdulillah.. asal hatinya tenang pemulihannya jadi semakin cepat" kata Bang As.
"Aku akan berusaha sebaik-baiknya" jawab Bang Rico.
-_-_-_-_-_-
"Rico ngamuk di Batalyon?" Tanya Papa Wira heran.
"Iya Dan, sejak kemarin Danyon seakan menyudutkan Asya, jadi Rico naik pitam." Jawab Bang Yudha.
"Rico nggak bilang apa-apa soal hukuman dari Batalyon" Papa Wira sedikit bingung karena dirinya tidak terlalu paham duduk persoalannya.
"Siap.. Rico ingin menyelesaikan nya sendiri, karena menyadari memang kesalahannya menikah dengan menyalahi aturan kedinasan"
Papa Wira mengeryit. Hatinya bertanya-tanya, bukankah saat yang lalu Rico sudah sedikit mengubah identitas Asya, lalu mengapa sekarang masih juga terkena masalah.
"Kenapa rahasia itu bisa terbongkar?"
"Ijin Dan.. Asya hamil"
Antara senang dan sedih Papa Wira mendengarnya. Usia dua puluh tahun ia memiliki Asya dan sekarang dirinya sudah akan menerima seorang cucu, pengingat dirinya kini tidak sesangar dulu. Papa Wira mematikan panggilan teleponnya.
"Kenapa Pa?" tanya Mama Dinda.
"Papa mau punya cucu. Apa nanti papa sudah tidak gagah lagi?"
"Opa Wira tetap gagah" jawab Mama Dinda mengusap lengan Papa Wira, ia tau betul apa yang tengah di pikirkan suaminya itu.
"Benarkah?" Papa Wira melirik tidak percaya.
"Iya Papa sayang"
Papa Wira tersenyum nakal menatap mata Mama Dinda.
***
"Makan sedikit ya..!!" bujuk Bang Rico.
"Nggak mau, lidah Asya pahit" tolak Asya
"Si dedek juga lapar Neng" kata Bang Rico.
__ADS_1
tok..tok..tok..
"Ijin Dan..!!"
"Tolong belikan saya nasi bungkus ya Cep, fast food juga nggak apa-apa" perintah Bang Rico sambil menyodorkan empat lembar uang berwarna biru.
"Siap.."
Om Acep pun memberi 'hormat' pada Asya dan Asya membalasnya dengan senyum kecil.
"Abang suapin ya dek..!!" Bang Rico kembali membujuk Asya saat Bang Rico sudah keluar dari kamar.
"Nggak mau Bang" Asya memalingkan wajahnya dan itu membuat Bang Rico sangat sedih.
"Asya mau apa sayang? Biar Abang yang carikan" tak hentinya Bang Rico membujuk Asya.
"Asya pengen tidur lihat wajah Om Sobri. Boleh Bang?"
Wajah Bang Rico langsung kusut. Sungguh ada rasa kesal tapi mau bagaimana lagi, ini pasti juga bukan keinginan Asya.
"Apa nggak ada permintaan yang lain? Abang nih gantengnya di atas Standar Nasional Indonesia lho" kata Bang Rico.
"Syukur Alhamdulillah nggak ada Bang" jawab Asya.
Nafas berhembus panjang.
"Baang..!!"
:
"Jangan main mata sama istri saya. Duduk diam saja. Kalau istri saya lihat kamu terus.. itu anak saya yang minta, bukannya istri saya jatuh cinta" ucap Bang Rico panjang lebar sebelum Om Sobri masuk ke kamar rawat Asya bersamanya.
"Siap Dan.. mengerti" jawab Om Sobri.
"Bagus..!! Ayo cepat masuk..!!" perintah Bang Rico.
:
Bang Rico memasang tampang panas dan kesal karena Asya tersenyum senang saat melihat wajah Om Sobri.
tok..tok..tok..
"Ijin Dan"
"Masuk..!!"
Om Acep masuk membawa bungkusan yang di perintahkan Bang Rico. Entah setelah berapa lama Om Acep pergi sampai perutnya terasa melilit, kram di perutnya semakin bertambah karena Asya terus tersenyum melihat pria lain.
Anak gue gimana sih, bukannya belain bapaknya.. malah dukung pria lain.
"Ya sudah mana?" Bang Rico menerima nasi pemberian Om Acep. Karena sudah sangat lapar.. Bang Rico segera membuka bungkus makanan itu, tapi seketika itu juga matanya melotot melihat bungkusan itu.
"Saya tadi pesan apa Cep?" Bang Rico mulai melirik ke arah anggotanya itu.
__ADS_1
"Siap nasi bungkus" jawab Om Acep.
"Ini apa?????"
"Siap nasi bungkus.. Dan"
"Tapi yo ora sego thok cah.. Iki jenenge nasi 'padang'.. Padang ora ono opo-opone" nada suara Bang Rico mulai meninggi.
"Siap salah..!!"
"Push up...!!!!"
"Siaapp..!!" Om Acep segera mengambil posisi push up.
"Ijin Dan, biar saya saja yang beli" kata Om Sobri sebenarnya menghindar.
"Ya sudah, kamu tolong beli ya. Di kantin saja lah" pinta Bang Rico.
"Siap..!!"
... ( Cerita di TL tahun 1992. Batalyon wilayah timur )
Om Acep berjaga di depan pintu bersama beberapa orang.
"Mana Letda Rico??" tanya seorang berpangkat Kolonel.
"Siap..!! Ada di dalam Komandan..!!" jawab Om Acep.
Kolonel tersebut langsung masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu dan disana Bang Rico sedang memijati Asya.
"Ehmm." Kolonel berdehem memberi tanda kedatangan nya sedangkan anggota yang lain berbalik badan.
Bang Rico yang kaget langsung menutup tubuh Asya dengan selimut. Terlihat Asya begitu kesulitan mengaitkan pakaian nya, Bang Rico pun menutup sisa tirai yang tersisa.
Sungguh Bang Rico kembali murka karena merasa komandan begitu tidak sopan dan mempermalukan istrinya. Ia segera membantu Asya.
"Di Kantor kamu contoh perwira teladan, tapi di hadapan anak kecil ini, kamu hanya bisa jadi kacung.. jongos.. hilang harga diri karena sudah tergoda 'kue basi'. Dimana akal sehatmu sebagai prajurit" ucap Kolonel Maru dari luar tirai.
Asya menangis, tatapan matanya begitu sendu. Hati suami mana yang tidak teriris melihat wanita yang sedang mengandung buah hatinya di sakiti sampai seperti itu.
Bang Rico tersenyum pahit menyiratkan hatinya yang begitu sakit kemudian mengecup Asya.
"Istri Letda Rico harus kuat..!! Tutup telingamu dengan bantal..!! Abang akan tangani semua" ucapnya masih sempat menyambar bibir Asya.
"Percayakan sama suamimu..!!"
.
.
.
.
__ADS_1