Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
92. Part Pandu Fasya.


__ADS_3

Mohon maaf atas segala keterlambatannya. Nara juga nggak tau apa sebabnya review yang selalu tertunda 🙏🙏🙏🙏


🌹🌹🌹


Hari berganti hari tak terasa kandungan Asya dan Fasya semakin besar.


Perut Fasya merasa begah karena kandungannya sudah berusia empat bulan.


"Beli pakaian lagi ya dek..!! Abang cemas, takut anak kita kejepit" kata Bang Pandu.


"Nggak usah Bang, hanya tinggal seminggu lagi. Selanjutnya Fasya nggak akan pakai lagi." jawab Fasya.


"Oya Bang, Minggu depan.. usai ujian nasional, ada kegiatan perpisahan keliling Jawa Timur. Apa adek boleh ikut?"


Bang Pandu terdiam sejenak, alasan dirinya sangat mencemaskan Fasya sudah sangat jelas. Ada rasa takut karena Fasya sedang mengandung buah hatinya, tapi ia juga tidak ingin Fasya tidak bahagia karena ingin pergi bersama teman-temannya.


"Ya sudah boleh. Tapi ada syaratnya" kata Bang Pandu.


"Apa Bang?"


"Abang juga ikut dalam acara itu" jawab Bang Pandu.


"Tapi Bang, Bagaimana kerjaan Abang?" tanya Fasya.


"Lebih penting anak istri. Kantor sudah banyak yang handle. Ada Rico juga wakil Abang"


-_-_-_-_-


Fasya benar-benar hampir pingsan di hari pertama ujian ini. Sepertinya baru minggu kemarin ia baik-baik saja tapi hari ini semua terasa berbeda. Nafasnya terasa sesak, perutnya seperti terhimpit.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya seorang guru pengawas ruangan.


"Nggak apa-apa Pak." jawab Fasya dengan sopan.


Tak lama terdengar bel berbunyi. Seluruh siswa mengumpulkan hasil ujian hari ini dan seluruh murid segera bergegas pulang.


:


Saat keluar ruangan, Bang Pandu melihat Fasya sedang berbicara dengan seorang guru tapi seketika emosi Bang Pandu tak bisa di kendalikan tersebut apalagi pria itu sampai memandang Fasya dengan tatapan tak semestinya.


Setelah beberapa saat Fasya pun menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil. Tak seperti biasanya juga Bang Pandu tidak membukakan pintu mobil untuknya.


Fasya menyandarkan punggungnya lalu mengatur nafas.

__ADS_1


"Ada minum nggak Bang?" tanya Fasya.


Bang Pandu segera mengambilkan botol air mineral dan membukanya untuk sang istri tapi raut wajahnya begitu datar.


"Hmm.." Bang Pandu menyodorkan botol tersebut.


"Abang kenapa sih?" Fasya heran dengan perubahan sikap Bang Pandu.


"Kamu bisa nggak langsung menjauh kalau tau ada pria yang mendekat." Bang Pandu masih menunjukkan rasa kesalnya.


"Maksud Abang.. Pak Deris??" tanya Fasya.


"Oohh.. jadi pria jelalatan itu namanya Deris?"


"Jelalatan apanya sih Bang? Adek juga jaga jarak kok" Fasya melirik kesal karena Bang Pandu seakan menuduhnya.


"Kamu belain dia??? Harusnya kamu itu bela Abang. Apa dia lebih ganteng dari Abang sampai kamu bela dia???"


Fasya tak paham dengan sikap Bang Pandu. Entah kenapa suaminya itu membesar-besarkan masalah yang ia rasa tidak besar. Lagipula dirinya juga tidak dekat dengan Pak Deris. Fasya pun membuka pintu dan berniat untuk turun tapi Bang Pandu menarik tangan Fasya dengan kasar.


"Mau kemana kamu???" bentak Bang Pandu.


"Adek malas berdebat Bang. Adek capek sekali hari ini" kata Fasya kemudian menepis tangan Bang Pandu.


Fasya tak peduli, rasanya ia sudah ingin menangis saja karena Bang Pandu terus membentaknya.


"Fasyaaaa..!!!!!" Bang Pandu menarik tangan Fasya tapi tiba-tiba Fasya ambruk tak sadarkan diri.


"Allahu Akbar.. dek..!!!! Astagfirullah.. piye to iki??" Bang Pandu kagetdan panik setengah mati melihat Fasya pingsan. Ia segera menutup pintu mobilnya. Secepatnya Bang Pandu berusaha menyadarkan Fasya.


Bang Pandu membuka pengait rok Fasya dan melonggarkan pengait yang lain lalu memijat sekitar jempol tangan istri kecilnya.


:


Setelah beberapa saat akhirnya Fasya sadar juga.


"Alhamdulillah.. Apa yang sakit sayang?" tanya Bang Pandu cemas. Ia merasa sangat bersalah sudah membuat Fasya sampai pingsan seperti ini.


"Maaf sayang, Abang keterlaluan"


Fasya masih bungkam dan enggan berbicara dengan Bang Pandu.


Masih dalam suasana cemas Bang Pandu, tiba-tiba ada seseorang mengetuk kaca mobil. Fasya menarik tasnya untuk menutupi perutnya yang kini sudah membesar.

__ADS_1


Bang Pandu menoleh dan melihat siapa yang sudah mengganggu kebersamaannya dengan Fasya. Akhirnya Bang Pandu menurunkan jendela mobil.


"Lho Pandu?? Kamu Pandu khan?" tanya Pak Deris tidak percaya penglihatannya.


"Apa kabar bro.. lama nggak ketemu?" jawab Bang Pandu terpaksa menyunggingkan senyum walaupun tidak ada keikhlasan sama sekali dalam hatinya.


"Baik.. Lah itu si Fasya sama kamu?? Adik atau bagaimana nih??" tanya Pak Deris dengan mata berbinar terang.


Baru saja Bang Pandu akan membuka suara, tak disangka Fasya segera menyambar ucapan suaminya.


"Iya Pak, Abangnya Fasya" kata Fasya seketika membuat hati Bang Pandu meradang.


Pak Deris kemudian tersenyum tersipu malu penuh arti, dan Bang Pandu sangat paham maksud seperti itu. Apalagi saat Pak Deris mencolek lengan Bang Pandu.


"Deketin aku sama adikmu donk..!!" bisik Pak Deris membuat mata Bang Pandu melotot.


Melihat teman seperjuangan nya dulu.. Pak Deris segera menarik lengan Bang Pandu agar segera keluar dari mobil.


"Apa kamu ini???? Kamu khan sudah punya anak istri. Berani-beraninya kamu tanya begitu" dada Bang Pandu rasanya sudah panas terbakar.


"Dengar dulu lah bro. Jangan marah..!! Aku sama mamanya anak-anak sudah cerai." kata Pak Deris.


"Kamu boleh cari pengganti istrimu, tapi jangan Fasya yang menjadi kandidat pilihanmu" Bang Pandu mulai stress, melihat wajah Deris rasanya sungguh menjengkelkan.


"Apa salahnya? Fasya sebentar lagi lulus, apa kamu keberatan karena aku ini duda?" tanya Pak Deris.


B*****t.. si Deris ini cari mati rupanya.


"Lebih baik kamu kubur impianmu itu. Dia sudah ada yang punya" ucap Bang Pandu penuh penekanan.


"Kalau hanya tunangan saja.. masih bisa lah ku tikung" jawab Pak Deris.


Geraham Bang Pandu sampai bergemeretak. Tangannya mengepal kuat, hatinya panas.


"Jangan coba bertingkah macam-macam atau kamu akan berhadapan denganku..!!" sorot mata itu terasa begitu dingin, penuh ancaman.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2