Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
60. Pesan darimu.


__ADS_3

Bang Rico memakai seragamnya. Ia bersiap berangkat ke Batalyon dini hari. Jam masih menunjukan pukul 03.00 WIB. Bahkan adzan subuh pun belum terdengar.


"Asya ikut ya Bang..!!" tangis Asya terdengar sungguh berat membuat hati Bang Rico tak tega di buatnya.


"Kamu ini kenapa? Abang hanya terjun sebentar" kata Bang Rico kemudian memeluk Asya dengan erat dan memberikan satu kecupan sayang agar istrinya tenang.


"Asya nggak mau di tinggal, pengen ikut sama Abang" rengek Asya.


Ya Allah.. kenapa istriku ini. Nggak biasa merengek begini. Matanya sendu sekali, hatiku jadi tidak tega.


Bang Rico melihat jam tangannya.


"Abang sudah terlambat nih sayang. Begini saja.. Nanti kamu nyusul Abang saja ya, jam enam ke dekat hanggar satu. Jam 6.30 WIB Abang sudah loncat. Jangan terlambat, ada kejutan buatmu sayang" bisik Bang Rico.


"Jangan lupa sarapan dulu, Abang nggak mau kamu pingsan. Gendong parasut saja sudah berat.. masa masih harus gendong kamu juga" Bang Rico mengecup bibir Asya sekali lagi.


...


Jam 5.45 WIB, Asya sudah berada di bandara bersama rekan-rekan istri anggota yang lain termasuk Mbak Netta dan Anya istri Bang Winata. Penerbangan pun sedikit tertunda karena pagi ini bumi baru saja terguyur hujan.


Asya melihat pesawat sudah bersiap berangkat dan disana hanya Bang Rico sendiri yang lebay memberikan kode love untuk Asya. Detak jantung Asya berdenyut kencang dan takut saat melihat seluruh peterjun masuk ke dalam pesawat. Kaki Asya tiba-tiba gemetar.


"Ijin ibu, Ibu duduk saja" kata Pak Dion melihat Asya sudah tidak seimbang mengatur beban tubuhnya.


Asya pun akhirnya duduk meskipun dalam hatinya merasa tidak tenang.


:


Satu persatu pasukan Para sudah meluncur. Para istri yang suaminya tergabung dalam pasukan Para sudah bersorak gembira dan mengucap syukur tapi tidak dengan Asya, suaminya tergabung dalam Pasukan PLT ( Para Lanjut Tempur ).


Air matanya meleleh, ia cemas dan ketakutan.


"Asya jangan nangis. Suami kita pasti baik-baik saja" bujuk istri Bang Winata.


Asya mengangguk.. wajahnya pucat pasi.


:


Untuk kesekian kalinya pesawat terbang mengudara di atas mereka, dalam ketinggian 7.500ft. Kaki dan tangan Asya dingin. Tak lama terlihat titik-titik kecil. Asya panik, ia berlari berniat mendekati lokasi DZ ( Droping Zone ) tapi para anggota melarang nya. Asya pun hanya bisa pasrah dan berdo'a dari tempatnya. Mbak Netta menarik tangannya agar Asya kembali ke posisi semula.

__ADS_1


Tak lama terlihat payung parasut terbuka. Ucap syukur terdengar tak terkecuali dari bibir Mbak Netta dan istri Bang Winata.


~


Satu-persatu para peterjun PLT turun. Terlihat Bang Yudha sudah turun, di susul Bang Winata di belakangnya termasuk rekan yang lain. Hanya tinggal satu tersisa melayang di udara tak kunjung turun. Asya gelisah karena di lokasi DZ tak ada wajah Bang Rico.


Degub jantungnya tak bisa di tahan sampai ia hampir pingsan di buatnya.


"Ya ampun.. itu Pak Rico..!!" pekik ibu-ibu yang baru menyadari kalau itu adalah Lettu Rico.


Seruan suara menyebut nama Lettu Rico.


"Tolong.. bagian keamanan, Lettu Rico keluar dari DZ..!!" teriak seorang anggota disana.


Serka Dion pun berlari dan mencoba mengamankan situasi.


Asya yang panik refleks berlari menghampiri Bang Rico yang bahkan belum menapak di tanah.


"Abaaaaang..!!!!!" teriak Asya tak karuan.


"Ibu mundur Bu..!!" seruan Serka Dion tak di dengarkan Asya sampai akhirnya ada suara dari atas sana.


Asya tercengang di buatnya hingga Bang Rico turun tapi karena angin lumayan kencang, Bang Rico mendarat tidak semulus yang di harapkan. Bibir Asya ternganga cemas. Air matanya sudah mengalir cemas, parasut menutupi tubuhnya


Dalam kecemasannya itu terlihat Bang Rico masih sempat tersenyum menyapa ibu-ibu bahkan mengacungkan jempolnya seakan tak terjadi apapun tanpa sempat melihat lelehan air mata Asya. Sesi foto dadakan pun akhirnya terjadi.. kapan lagi bisa berfoto dengan peterjun khusus Batalyon.


Kaki Asya gemetar hebat, ia pun ambruk mengagetkan Bang Rico.


"Lho alaaahh.. piye to dek..!!" Bang Rico segera melepas perangkat terjunnya dan menghampiri Asya. Ibu-ibu juga sampai berteriak panik melihat Asya lemas.


"Kenapa Abang banyak gaya??? Apa Abang nggak tau bagaimana cemasnya Asya disini???" ucap Asya akhirnya menangis meraung karena kesal.


"Iyaa.. iyaaa maaf dek, Abang tadi buat video di atas sana. Sampai bawah kain yang Abang bawa malah kabur karena angin kencang" Bang Rico panik saat Asya menangis semakin menjadi.


"Abang menyebalkan..!!!" Asya menangis memukuli dada Bang Rico tak peduli dengan sekitarnya yang melihat dirinya dan Bang Rico.


Bang Rico hanya pasrah menerima kemarahan istrinya. Ia membiarkan Asya meluapkan kekesalannya. Kejutan yang ia harapkan malah harus menjadi tangis sang istri.


Beberapa saat kemudian Asya memeluk Bang Rico dengan erat, mungkin Asya sudah lelah.

__ADS_1


"Asya nggak mau terjadi sesuatu sama Abang" ucapnya sesenggukan. Raut wajahnya seolah menahan rasa sakit.


"Kalau ada apa-apa sama Abang.. Asya harus bagaimana??"


Bang Rico seakan tak sanggup bersuara, tak tega melihat Asya sampai syok seperti ini.


"Asya sudah telat satu minggu Bang" kata Asya lirih.


Bang Rico melepas pelukan Asya.


"Astagfirullah hal adzim.. ulangi dek..!!!" mata Bang Rico membulat besar.


"Asya sudah telat, Abang jangan buat aneh-aneh" kata Asya mengulangi lagi perkataannya.


Kini Bang Rico yang tak kuat menapak, badannya terasa lemas.. ia ambruk menimpa Asya kemudian menarik parasut untuk menutupi tubuhnya dan Asya.


"Alhamdulillah.. mudah-mudahan ini pertanda ada si kecil kita ya dek" ucap syukur Bang Rico. Air mata Bang Rico meleleh. Ia menciumi wajah Asya kemudian beralih mencium perut Asya.


"Tolong kamu datang nak, pelipur lara Ayah sama Mama. Ayah hampir mati hanya untuk menghadirkan mu.. Buat Mama mu bahagia dengan hadirmu di rahim Mama. Ayah tidak minta banyak hal, hanya minta agar Mama mu tidak menangis lagi. Ayah mu paling nggak bisa lihat Mama mu menangis"


.


.


.


.


** : @princesskamanatha



.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2