Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
114. SP 2. 17. Wanita rusuh luar biasa.


__ADS_3

Kalau tidak suka dengan sikap dan karakter tokoh wanita, harap skip dan tidak baca lagi. Nara menulis hanya untuk pribadi yang sopan dan tau hiburan.. bukan tau menghujat saja. Terima kasih 🙏.


🌹🌹🌹


"Laahh Vian.. kenapa rambutmu basah?" tanya Dan Sanca.


"Ijin Dan, ada kucing lari nabrak minuman" jawab Bang Vian hati-hati.


Dan Sanca melihat ke sekeliling tak ada satu pun kucing yang melintas.


"Mana kucingnya?"


"Ayoo Pa.. kita ke kamar Jihan..!!" ajak Aira sambil melirik Bang Vian dan saat itu Dan Sanca bisa menangkap aura panas di antara Bang Vian dan putrinya.


"Saya tinggal ya Vian. Nanti saya tangani kucingnya" kata Dan Sanca.


"Siap.."


Aira memeluk lengan Papanya, ia menoleh lalu mengacungkan jari tengah ke arah Bang Vian.


"Wooo.. wedhok opo iku.. untung anak komandan, kalau nggak, wes tak ceples" gerutu Bang Vian tak bisa membalas perlakuan Si Aira anak komandan.


...


Para pria sedang berada di rumah sakit sedangkan para mama sudah kembali ke rumah Jihan karena menemani Gazha. Hanya tinggal Aira saja yang menemani Jihan di kamar karena dirinya datang terlambat.


"Kau tau, aku bertemu lelaki menyebalkan. Papa bilang namanya Vian. Dia menghalangi jalan.. tapi dia menyalahkan aku" ucap Aira gemas.


"Masa mbak? Memang laki-laki di rumah ini menyebalkan. Sama saja seperti Bang Rico" kata Jihan.


"Eehh iya.. ngomong-ngomong beneran ya kamu sudah di nikahi Bang Rico?" tanya Aira ( Rara ).


"Kata Papa sih begitu Mbak" jawab Jihan.


"Makanya kamu tiba-tiba jadi hamil. Ternyata kamu sudah menikah" kata Aira.


"Iya, gara-gara Abang main setan-setanan malam itu. Eehh mbak.. Mbak Aira harus hati-hati sama Bang Vian. Jangan terlalu nempel, nanti bisa tiba-tiba hamil seperti Jihan"


"Kamu bidan dan mbak perawat.. mana bisa kamu nggak tau anatomi atau cara ngadon baby" kata Aira antara bingung dan takjub.


"Ngerti Mbak, tapi di lapangan.. semua berbeda. Bahkan alat peraga dengan aslinya pun berbeda"


Keduanya saling menatap. Aira masih menerawang membayangkan maksud Jihan sedangkan Jihan sudah bergidik ngeri mengingat apa yang di lihatnya semalam.


"Masa??"


Jihan mengangguk serius.


"Jihan........" Jihan tak berani melanjutkannya sebab pengalaman menghabiskan waktu bersama Bang Rico semalam begitu luar biasa.


"Hmm.. Pokoknya nggak sama"


...


Bang Rico menemani Jihan di dalam kamar. Terlihat Jihan sangat menjaga jarak meskipun Bang Rico selalu memegang tangannya.

__ADS_1


"Denda Abang sudah bertumpuk" kata Jihan mengingatkan.


"Iyaa.. Abang bayar" kini Bang Rico tak ingin lagi berdebat dengan Jihan. Sebisa mungkin dirinya mengalah menghadapi istri kecilnya. Perbedaan rentang usia yang jauh membuatnya harus lebih pintar menjaga emosi.


"Double ya Bang..!!" pinta Jihan.


"Iyaa.."


"Tambah cincin..!!" pinta Jihan lagi.


"He'emb..!!"


Jihan mulai kesal karena tidak ada tantangan lagi berbicara dengan Bang Rico.


"Kok iya..iyaa aja sih Bang" tanya Jihan.


"Terus Abang harus bagaimana.. hmm" suara itu begitu lembut mengena di hati Jihan tapi dalam hatinya tetap terluka.


"Asalkan Abang nggak meminta Jihan untuk menggugurkan kandungan ini.. Jihan tidak akan bilang sama perempuan itu kalau ini anak Abang"


Seketika air mata Bang Rico menitik mendengar ucapan Jihan.


"Abang rela meninggalkan apapun di dunia ini.. demi kamu dan anak kita" jawab Bang Rico.


"Abang tidak perlu bertanggung jawab.. Jihan bisa besarkan anak ini"


Berat rasa hati Bang Rico untuk mengatakan bahwa dirinya sangat sayang pada Jihan. Trauma kehilangan Asya dengan berbagai masalah rumah tangga di dalamnya membuat Bang Rico sangat takut. Ia takut menyakiti hati Jihan.


"Apa pun yang akan terjadi, anak itu tetap anak Abang dan kamu istri sah Abang. Tidak boleh ada yang mengambil kedudukan itu darimu" kata Bang Rico.


"Abang tidak kehilangan dia. Dia mamanya Gazha yang begitu Abang sayang" jawab Bang Rico.


Jihan memalingkan wajahnya. Tangisnya semakin deras.


"Tinggalkan Jihan Bang, Jihan mau tidur" kata Jihan.


"Jihaan.." Bang Rico mencoba bicara baik-baik dengan Jihan tapi Jihan tak sanggup lagi mendengarnya.


"Tolong Bang, keluar lah.. Jihan mau tidur" pintanya menepis kasar tangan Bang Rico dan sesenggukan sampai akhirnya perut itu menjadi kram.


Bang Rico tak berani lagi memaksakan meskipun dirinya begitu ingin ada di kamar itu menemani Jihan.


"Abang nggak akan jauh dari kamu.. Abang akan tetap disini" Bang Rico mundur dan memilih duduk di sofa, berjaga dan menemani Jihan.


***


"Pa, Bang Vian itu siapa di kompi?" tanya Aira.


"Danton nya Rico"


"Pangkatnya apa pa?"


"Huusshh.. nggak boleh tanya pangkat orang. Pangkat itu hanya hiasan. Tapi sebagaimana manusia hidup.. kita harus tau porsinya tanpa merendahkan orang lain ataupun menjadikan kita tinggi hati" jawab Papa Sanca.


"Oohh.. anak buah Bang Rico" gumam Aira pelan.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" tanya Papa Sanca.


"Sok ganteng sekali pa"


"Kamu ini.. jangan suka bilang begitu.. balik ilat baru tau rasa kamu" tegur Papa Sanca.


"Ngobrolin siapa?" tanya Bang El duduk di samping Aira lalu menarik adiknya ke dalam ketiaknya.


"Abaaaaang.. bau tauuuuu" pekik Aira.


"Lhoooo.. bau yang begini ini yang di cari gadis-gadis" kata Bang El yang baru saja lulus dari pendidikan dan mendapat penempatan di Batalyon samping kompi Bang Rico.


"Nggak mau Abaaaaang..!!!!!" Aira berteriak kesal.


"Abang aniaya kamu yaaaa..!!!!" Bang El memiting Aira saking gemasnya dengan adik perempuannya yang centil dan banyak tingkah itu.


"Abaaaaang..!!!!" Aira terus berteriak memekakkan seisi ruangan.


"El.. sudah, jangan buat keributan. Kalian ini kalau dekat bau t*i kalau jauh bau bunga. Jangan ribut..!! Papa kerja...!!" tegur geram Papa Sanca.


"Hyaaaaaaaaaa..." Aira menghantam perut Bang El dengan sikunya.


"Hwadoooohh..." pekiknya kesakitan.


"Apa Papa bilang..!!!!!!!" bentak Papa Sanca.


...


Aira mengintip Bang El yang sedang meminum softdrink.. ia pun berniat mengacau lagi.


"Mundur atau Abang jepit lagi kamu di ketiak..!!" ancam Bang El tenang.


"Aira mau duduk kok. Ge'er..!!" kata Aira kemudian duduk manis di samping Bang El.


"Ehmm.. Bang, Abang punya teman yang bisa di jadikan pacar nggak?" tanya Aira.


"No, masih ingusan saja mau pacaran. Istri tentara itu lembut, nggak macam kamu sama Jihan." jawab Bang El.


"Tapi Jihan saja bisa nikah" protes Aira.


"Jihan itu menikah karena salah teknis. Kalau nggak.. siapa mau dengan kalian para wanita gadungan, menyusahkan lahir batin para pria" gerutu Bang El.


"Ya sudah, Aira cari sendiri.. kalau sudah dapat, Aira adu sama Abang"


"Memangnya ayam?? main adu saja. Jelas Abangmu ini nggak ada lawan" kata Bang El.


"Bodo amat.. pokoknya Aira mau cari pacar. Di aplikasi pencari jodoh juga banyak. Sudah aahh.. Aira mau ke mess Papa Garin dulu..!!"


"Jangan macam-macam Ai..!! Abang jepit.. game over kamu..!!" ancam Bang El tidak main-main.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2