Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
124. SP 2. 27. Karena bibir manis.


__ADS_3

Karena tak sulit mencari sate usus.. dengan cepat Bang Rico bisa mendapatkan sate usus dengan mudah. Mata Jihan berbinar bahagia tapi bahagia Bang Rico melebihi apapun saat melihat rona bahagia dari Jihan.


"Mau nggak Bang?" tanya Jihan.


"Nggak.. habiskan saja. Biar si dedek nggak lapar lagi" jawab Bang Rico.


"Iya Bang, Jihan mau milkshake nanas donk" pinta Jihan sembari mengunyah sate usus yang masih penuh di mulutnya. Nampaknya saat ini Jihan benar-benar kelaparan. Cara makannya pun berbeda dari biasanya.


"Heehh.. ngawur kamu..!! Jangan minta aneh-aneh" Bang Rico mulai melotot mendengar permintaan sang istri. Dengan telaten Bang Rico memegangi tusuk sate di tangan Jihan agar istrinya tidak makan sate usus itu terlalu cepat.


"Pelan-pelan saja, nggak ada yang merebut sate mu. Kalau masih kurang.. nanti Abang ambilkan dari ususnya Vian yang mau di potong" kata Bang Rico.


Seketika mata Jihan melotot.


"Jadi benar usus buntu ya Bang?" tanya Jihan.


"Benar lah, nanti kita buat bumbu rica" jawab Bang Rico.


"Astagaa.. kalian berdua pulang saja lah. Jangan punya rencana aneh-aneh. Malah semakin stress saya di sini lihat kalian berdua" cerocos Bang Vian kesal mendengar seniornya seakan masih menaruh dendam pribadi padanya.


"Ya sudah lah, Abang sama Jihan pulang saja. Kasihan di dedek sudah kangen papanya" ledek Bang Rico tak berperasaan.


"Terserah Abang saja lah, yang jelas bulan depan anak kita saingan" jawab asal Bang Vian.


"Waahh.. kurang ajar betul kau Vian. Abang pencet juga usus mu itu" Bang Rico sudah geram menghampiri Bang Vian tapi Jihan segera menariknya.


"Ayoo Abaang.. anak Abang pengen holiday nih" bujuk Jihan memisahkan Bang Rico dan Bang Vian.


Mendengar itu, sikap Bang Rico berubah drastis.. ia pun tersenyum nakal penuh kelicikan.


"Ayooo..!!" Bang Rico secepatnya menggandeng tangan Jihan dan tak peduli lagi dengan Bang Vian.


"Huuufftt.. selamaaat. Coba kalau ususku jadi di pencet, bisa jadi rica beneran nih sama Danki galak begitu" gerutunya sembari mengelus dada.

__ADS_1


:


Bang Rico terus saja mendekati Jihan sampai bumil itu jengah dengan ulah Bang Rico yang terus saja nyosor tak karuan.


"Kenapa sih?" Bang Rico mulai jengkel karena Jihan menolaknya.


"Jihan hajar juga nih Bang. Ini masih di parkiran. Bisa diam nggak sih?" tegur Jihan sambil mencubit tangan Bang Rico yang kadang mencuri kesempatan mencoleknya.


"Sama istri sendiri khan nggak apa-apa. Katamu anak Abang pengen holiday?"


Jihan nyengir kuda karena Bang Rico ternyata menagihnya tak tau tempat. Ia akui sejak tau kehamilannya.. Bang Rico memang sangat menyayangi nya. Tak peduli pagi, siang, sore atau malam.. jika ada kesempatan, Bang Rico selalu menagih berduaan dengannya.


"Abang sayang sama Jihan hanya untuk 'itu'?" tanya Jihan meledek Bang Rico.


Seketika Bang Rico terkejut mendengarnya.


"Kenapa tanyanya begitu?" hatinya sungguh sedih mendengar pertanyaan Jihan.


"Ya karena Abang sayang banget sama Jihan kalau ada maunya saja" jawab Jihan.


Melihat suaminya merasa sedih, sifat usil Jihan semakin menjadi. Ia paham betul Bang Rico tulus menyayanginya, dengan segala perhatian yang tercurah untuknya selama ini. Belum pernah juga ia mendengar Bang Rico menyebut nama istri pertama nya. Jihan pun sengaja mengangguk memasang wajah sedihnya.


"Maaf ya, Abang betul sayang Jihan kok. Kalau suami minta jatah ke istri khan wajar dek. Masa Abang minta ke tetangga. Memangnya kamu nggak mau ya di sayang Abang?" tanya Bang Rico ikut sedih.


"Apa selama ini Abang terlalu kasar? Kalau iya Abang minta maaf, Abang janji nggak akan ulangi lagi" janji Bang Rico untuk Jihan.


Sebenarnya Jihan pun tak ingin menangis, tapi entah kenapa.. ucapan Bang Rico malah membuatnya meleleh. Tangisnya bercucuran sampai ingus ikut mengalir dari hidungnya.


"Lhoo.. kok nangis?? Abang salah apalagi dek?" tanya Bang Rico bingung menghadapi bumilnya. Tanpa rasa jijik sedikitpun Bang Rico membersihkan hidung Jihan yang kotor.


"Abang nggak akan selingkuh khan?" tiba-tiba saja pikiran itu terlintas di kepala Jihan.


Bang Rico tersenyum mendengar rengekan Jihan yang baru kali ini di dengarnya.

__ADS_1


"Satu aja nyusahin bener.. nggak bakalan Abang nambah lagi" jawab Bang Rico.


Mendengar itu Jihan semakin menangis dan membuat Bang Rico semakin panik saja.


"Kenapa nih?" tanya Papa Garin yang baru datang.


"Abang bilang Jihan nyusahin" jawab Jihan.


"Benar itu Ric?????" Papa Garin langsung menatap tajam mata Bang Rico.


"Astagfirullah.. bukan begitu kronologi nya pa."


Papa Garin menarik tangan Jihan lalu mengajaknya duduk di sampingnya. Sebagai seorang ayah.. dirinya merasa sedih melihat putrinya menangis sampai seperti itu.


"Di apakan kamu sama Rico??" tanya tegas Papa Garin.


Bang Rico mengusap wajahnya, kalau sudah begini pasti dirinya akan ketempuhan salah paham.


"Jihan tanya.. apa Abang punya niat sselingkuh nantinya atau tidak? tapi Abang jawab.. satu saja nyusahin bener" jawab Jihan sesenggukan.


"Astagfirullah hal adzim.. Ricooo..!!! Kenapa kamu jujur?????" Papa Garin rasanya ingin sekali menggampar menantunya yang tidak bisa berbohong hanya demi bidadari nya itu.


"Papa nih ya, meskipun Mama Esa rewelnya bukan main.. papa tetap senyum" kata Papa Garin sesumbar.


"Jadi selama ini Mama nyusahin Papa???" tanya Mama Esa menegur Papa Garin.


"Tuhankuuuu.. selesailah kita pa" bisik Bang Rico karena tau sebentar lagi akan melaksanakan sikap tobat bersama Papa mertuanya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2