
Badan Papa Garin sudah lebih dulu bergetar daripada Bang Rico. Maklum.. usianya memang sudah tidak bisa di bilang muda lagi meskipun fisiknya masih terlihat gagah.
"Haduuh Ric.. rasanya Papa sudah patah tulang" kata Papa Garin.
"Jangan mengeluh pa, kalau mereka dengar.. bisa lebih parah lagi hukuman kita" jawab Bang Rico semakin cemas.
"Kalian ini banyak tingkah tapi masih berani bilang kita yang menyusahkan. Sarapan pagi saja masih di suapin kok beraninya bilang kita menyusahkan" ucap gemas Mama Esa.
"Iya ma.. Abang juga masih di suapin, malah Gazha yang suka mengalah sama papanya. Belum lagi kalau ndusel, Gazha aja kalah" imbuh Jihan.
Papa Garin melirik Bang Rico yang hanya bisa diam tanpa suara mendengar ocehan sang istri.
"Benar-benar begal terhormat kau ya, jatah anak masih tega kau embat juga.. kau khan bagian shift malam " gerutu Papa Garin.
"Mesin pabrik juga butuh perawatan pa" bisik Bang Rico pasrah.
//
Dokter jaga masih dalam perjalanan, perawat pria sedang tidak di tempat. Hanya tersisa beberapa perawat disana. Di daerah kecil.. semua memang harus serba maklum dan berbesar hati, semua karena memang keadaan yang membuat dokter harus mondar mandir bergantian mengerjakan tugas.
"Kulihat kau sangat dekat dengan Pak Vian. Aku juga dengar kau akan menikah dengan nya. Lebih baik kau pasang saja k******r sekarang juga..!!" perintah seorang perawat wanita disana.
"Aira belum berani kak" tolak Aira.
"Kau harus berani. Dia calon suamimu. Masa kakak juga yang pasang. Kakak sebenarnya bisa.. hanya saja kakak ngeri kalau pasang alat itu di tubuh tentara" jawab perawat wanita tersebut.
"Tapi kak........."
"Nggak ada tapi-tapi an. Cepat kerjakan sekarang..!!" perawat tersebut mendorong tubuh Aira dan membawakan alat yang di maksud kemudian menutup pintu ruang perawat.
:
"Kamu yang pasang? Nggak ada perawat yang lain?" tanya Bang Vian kaget setengah mati.
"Ada, tapi perempuan.. masih muda. Abang mau Aira panggilkan saja?" Aira balik bertanya.
Bang Vian menelan ludahnya susah payah.
"Bisa benar nggak nih? Abang takut setelah kamu tangani malah terjadi sesuatu" ucap Bang Vian ketar-ketir.
"Banyak cakap lah Abang ini.. cepat buka, sebentar lagi dokter datang" kata Aira yang sebenarnya juga gugup.
Mau tidak mau.. Bang Vian sedikit menurunkan karet pinggang kolornya. Ada perasaan usil, tapi dirinya juga sangat cemas.
Merasa Bang Vian sangat lambat, Aira menangani sendiri 'calon pasiennya' itu.
__ADS_1
Baru sedikit tersentuh pakaiannya saja.. Bang Vian sudah bereaksi.
"Astagfirullah.. Lailaha Illallah.. Abaaaaang..!!!!!!!!" pekik Aira ngeri.
Bang Vian tertawa terbahak melihat ekspresi wajah Aira yang sangat ketakutan sampai berkeringat membasahi kening.
"Heeh perawat gadungan.. kamu berani atau tidak? Kali ini Abang tidak akan macam-macam karena Abang masih sakit.. tapi lain kali, Abang pastikan kamu tidak akan selamat" ucap Bang Vian.
Aira hanya bisa diam. Tangannya kembali sok sibuk menyiapkan alat padahal peralatan yang akan di pergunakan sudah siap sejak tadi.
"Gugup neng?" ledek Bang Vian padahal dirinya sendiri pun gugup luar biasa.
Melihat Aira sangat takut.. ia mengarahkan tangan Aira agar menyentuhnya.
"Ini profesimu. Nggak apa-apa. Asal Abang saja laki-laki pertama dan terakhir yang kamu sentuh.. karena Abang tidak ikhlas kamu melakukannya untuk orang lain, apapun alasannya." ucap tegas Bang Vian.
Tangan Aira begitu dingin. Ia mulai menyentuh dan memasang alat di tubuh Bang Vian. Disana Bang Vian lebih memilih menutup wajah dengan sebelah lengannya. Ada rasa tidak biasa dalam diri Bang Vian. Aira meluluhkan hatinya.
"Eghh.." Terdengar suara Bang Vian seolah menahan rasa sakit.
"Sudah belum dek?" tangannya dengan suara berat.
Aira mengusap tangan Bang Vian.
Bang Vian mengangguk mengiyakan.
"Jangan jauh dari Abang" pinta Bang Vian.
-_-_-_-_-
Dokter tersenyum melihat Aira menemani 'calon suaminya'. Terlihat wajah cemas tak lepas dari wajah gadis cantik itu.
"Semua pasti lancar, tenang saja"
Dokter anastesi sudah memberikan suntikannya. Di antara sadar dan tidak.. Bang Vian menggenggam erat tangan Aira.
Ada setetes air mata menetes dari kedua matanya.
"Abang sayang Aira.. Maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku?" ucapnya kemudian terlelap.
Seketika air mata Aira pun tumpah.
"Andaikan Abang ucapkan dengan sadar.. Aira mau Bang" jawab Aira.
//
__ADS_1
Gazha tertawa bahagia melihat wajah Opa Garin penuh dengan colekan gosong belakang panci. Papa Garin berniat mengerjai cucunya itu tapi sejak tadi malah dirinya terus saja kalah.
"Sudah le, opa mau ke kantor nih" bujuk Opa Garin.
"Nggak mau opaaa.." tolak Gazha merengek karena sudah keasyikan bermain.
Tak lama ada seorang ajudan datang ke rumah Bang Rico.
"Selamat siang.. ijin menghadap komandan..!!" ajudan tersebut ingin tertawa terbahak melihat wajah komandannya tapi tentu saja tak akan mungkin dirinya berani menertawai seorang komandan.
"Ada apa?" tanya Papa Garin.
"Ijin.. sekedar mengingatkan bahwa hari ini komandan ada pertemuan dengan rekan dari luar negeri" Jawab ajudan tersebut.
"Astagaaa.. kenapa nggak bilang dari tadi.. ini muka saya cemong begini" gerutu Papa Garin.
"Maaaa.. mamaaa.. ambilkan air ma..!!!!" pinta Papa Garin pada Mama Esa.
Mama Esa pun segera datang dan betapa kagetnya Mama melihat wajah Papa Garin yang hitam terkena hangus panci.
"Ya Allah Papa.. kenapa seperti lutung begini sih pa..!!!!" pekik Mama Esa.
"Nanti saja protesnya ma. Cepat bantu bersihkan..!! Papa mau rapat"
"Lagian papa bisa nggak sih cari permainan sama cucu itu yang normal aja. Kalau sudah begini khan susah pa" protes geram Mama Esa.
"Terus gimana nih ma???" seketika Papa Garin jadi panik.
"Cepat panggil ambulans ma..!!" perintah Papa Garin.
"Panggilkan dukun santet saja..!! Macam-macam saja kau Gar.. sudah tua bangka masih saja berulah" entak sejak kapan tiba-tiba Papa Sanca berada disana.
"Cckk.. kau ini wibawa ku khan jadi turun" ucap Papa Garin masih sok berwibawa.
"Apa perlu kupanggilkan Mbok Nah, tukang rujak di kantin kantorku.. biar di uleg sekalian mukamu" ucap Papa Sanca semakin geram saja.
"Siapa lah rumah sakit yang mau tangani muka tertempel hangus panci."
.
.
.
.
__ADS_1