
"Sayang..!!"
Asya masih diam seribu bahasa dan memilih duduk di depan bersama Om Sobri dan itu berhasil membuat ubun-ubun Bang Rico panas mengebul dan terbakar tapi ia menahannya demi keamanan rumah tangganya bersama Asya.
Ya Allah.. kalau sudah begini bom atom pun nggak akan bisa buat Asya mau bicara. Lagipula kenapa Bang Winata harus bahas masalah ranjang di depan Asya.
"Asya.. kamu belum sempat makan. Mau makan apa?" tanya Bang Pandu membuat hati Bang Rico semakin panas.
"Asya nggak lapar Bang." begitu Bang Pandu yang bertanya.. Asya baru mau menjawabnya.
"Ada yang jual es putar sama lumpia. Abang mau belikan Fasya di rumah. Kamu mau" tanya Bang Pandu lagi.
"Iya Bang.. Asya mau" jawab Asya meskipun semua terdengar datar.
"Hmm.. ada makanan lain tuh dek. Kamu mau?" Bang Rico tak hentinya memberi perhatian untuk Asya tapi istrinya itu tak mau menjawab pertanyaan nya.
Bang Pandu mencolek bahu Bang Rico agar junior nya itu bisa lebih sabar menghadapi situasi pelik ini. Bang Pandu dan yang lain, termasuk Om Sobri pun turun dari mobil agar Bang Rico bisa bicara dari hati ke hati bersama Asya.
~
"Abang nggak mau kita ribut dek. Kita harus selesaikan masalah ini" Bang Rico duduk di jok kemudi agar bisa lebih leluasa bicara dengan Asya.
"Asya juga nggak mau ribut, beri Asya waktu untuk berpikir dan ikhlas dengan semua kejadian ini Bang..!!" kata Asya.
"Tapi sungguh Abang nggak melakukannya sama Selena. Abang harus bagaimana biar kamu percaya?" Bang Rico mulai frustasi dengan sikap Asya.
"Ucapan Bang Winata benar khan Bang?"
"Ucapan Bang Win memang bisa saja ada benarnya, tapi faktanya Abang tidak melakukan hubungan badan sama Selena.. Abang hanya terbawa perasaan karena pengaruh obat, kalau Abang sudah lakukan itu.. nggak mungkin pakaian Abang masih melekat di badan" Bang Rico mencoba memberi pengertian pada Asya.
"Yang Asya tau saat ini.. hati Asya sakit sekali. Asya mencoba untuk percaya, tapi kenyataannya Abang berdua di dalam kamar itu dalam keadaan tidak wajar."
"Baiklah kalau kamu tidak percaya sama Abang. Abang maklum dengan perasaan mu. Yang jelas Abang sudah katakan semuanya. Abang punya iman, Abang punya istri dan Abang punya anak. Suamimu ini bukanlah pria yang dulu mudah mengumbar kemesraan. Abang tidak katakan kalau Abang ini pria yang baik.. tapi Abang ingin menjadi pria mu yang bertanggung jawab dan akan selalu menjadi kebanggaan mu dan anak-anak kita nanti" jawab Bang Rico kemudian keluar dari mobil dan menyusul semua seniornya.
***
__ADS_1
Akhirnya Selena datang di dampingi Mama Diana. Wanita itu sudah beberapa kali mangkir dari panggilan dan sudah menyusahkan Bang Rico karena rumah tangganya menjadi hambar dan dingin.
Tubuh Asya semakin kurus, ia jadi semakin sering sakit. Pembicaraan mereka hanya sebatas ucapan penyambung untuk Gazha saja.
"Ijin Bu Rico. Pak Rico meminta ibu datang ke ruang rapat karena Bu Diana dan Bu Selena sudah datang" kata Om Sobri.
"Katakan pada suami saya.. saya sedang sibuk" tolak Asya yang sudah malas untuk berurusan dengan hal ini.
"Tapi Bu, ini penting sekali dan Pak Rico ingin Ibu mendengarnya juga" imbuh Om Sobri lagi.
Asya duduk perlahan, tubuhnya terasa lelah dan lemas. Ia meneguk teh hangat di mejanya dengan tangan gemetar. Pandangannya berkunang-kunang.
:
Danyon dan Bang Pandu sudah menekan agar Selena mau mengakui kesalahannya.
"Ini suka sama suka. Saat itu Mas Rico yang memaksaku untuk kita melakukan nya di dalam kamar." kata Selena.
Bang Rico sudah murka tapi Bang Yudha mencegahnya karena amarah Bang Rico akan menjadi poin kemenangan Selena dan Bu Diana.
"Rico putra Ibu, kenapa ibu tidak membelanya?" tanya Bang Pandu yang berusaha bersikap netral karena Bang Winata maupun Netta adalah bagian keluarga dari Bu Diana maupun keluarga Pak Subrata.
"Saya memberi tawaran baik-baik. Saya tidak minta Rico menceraikan Asya.. saya hanya mau Rico menikahi Selena dan membuat Selena me jadi Nyonya Rico"
"Tidak bisa.. militer hanya di ijinkan memiliki satu pendamping"
"Apa kalian tidak kasihan dengan Selena. Karena perbuatan Rico.. dia jadi hamil" kata Mama Diana.
Asya tetap diam dan berusaha tegar mendengarnya meskipun hatinya terasa sakit luar biasa.
"Jangan macam-macam kamu Selena. Mana bisa kamu hamil padahal saya tidak berbuat hal tidak senonoh sama kamu" Bang Rico tak bisa lagi menahan emosinya.
Asya menarik lengan Bang Rico agar Bang Rico lebih tenang.
"Apakah saat ini Mama meminta aku untuk mengalah? Apa Mama ingin aku menerima semuanya begitu saja?" ucapan ini sedikit membuat Mama Diana sedikit goyah.
__ADS_1
"Suka atau tidak.. benar atau tidak.. Saya adalah istri sah Bang Rico di mata hukum dan agama. Saya sudah punya satu putra dan saya tidak akan mengalah. Langkahi dulu mayat saya kalau Mama ingin menikahkan Selena sama Abang Rico"
Bang Rico bersandar perlahan di sofa. Ada kecemasan dan kelegaan yang bercampur menjadi satu.
"Diam kamu wanita penggoda.. anak kecil saja berani menantang ku" ucap Mama Diana geram.
"Saya??? Putramu yang begitu tergila-gila sama saya. Bukan seperti Selena yang mengejar suami orang" kata Asya lebih tenang.
"Sebelum kamu sesumbar.. lihat video ini..!! Rico benar sudah melakukannya bersamaku" Selena meletakan ponsel di meja tamu.
Asya tersenyum meledek.
"Oohh.. begini caramu menggoda suamimu. Pantas suamiku sangat marah.. dia tidak puas sama kamu.. gadis amatir..!!"
Selena sangat geram mendengar ucapan Asya.
"Tapi.. aku bisa hamil anak Mas Rico" ucap Selena besar kepala.
Asya terdiam sejenak mendengar ucapan Selena.
"Itu suatu kebanggaan?" tanya Asya.
"Tentu saja dan anak ini harus punya ayah" jawab Selena.
"Karena aku sudah hamil.. kau harus rela Mas Rico menikahiku"
Danyon hampir tak sanggup berbicara karena merasa ngeri dengan kasus yang di alami Rico.
"Kamu ini benar-benar buat masalah besar Ric" tegur Danyon.
Dada Bang Rico terasa sesak dengan masalah ini, tapi bagaimana pun juga ia harus bersikap setenang mungkin.
.
.
__ADS_1
.
.