Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
94. Oh tetangga.


__ADS_3

Bang Rico pergi mencari pesanan Asya dan seketika melupakan tugasnya di kantor.


...


Sekitar pukul tiga Bang Pandu kembali ke Batalyon dan masuk ke ruangan briefing yang kosong melompong. Hanya ada laptop menyala dengan kertas yang berserakan di meja hingga lantai.


"Laahh.. Si Rico kemana? Kenapa ruangan jadi sepi, berantakan begini. Anggota yang lain juga nggak ada" gumam Bang Pandu kemudian memungut kertas yang terjatuh di lantai.


"Ya Allah.. aku lupa beri turunan yang harus di handle Rico." Bang Pandu melihat tugas laporan yang masih setengah jalan.


Bang Pandu mencoba menghubungi Bang Rico tapi juniornya itu tidak mengangkat panggilan teleponnya. Ia mencoba lagi menghubungi Om Sobri tapi tidak juga ada jawaban.


"Pada kemana semua sih? Mana sebentar lagi apel" gerutu nya gemas.


~


Bang Rico melihat Asya makan dengan lahap. Hatinya menjadi hangat dan lega. Kini baginya tak ada yang lebih penting dari keluarga kecilnya.


"Lain kali jangan begitu lagi. Langsung bilang saja mau apa? Jangan buat orang panik" kata Bang Rico.


"Asya mau bilang, tapi Abang keburu matikan teleponnya." jawab Asya.


"Ya sudah.. cepat habiskan..!!"


Tak jauh darinya ada si kecil Gazha yang mulai belajar jalan meskipun masih berpegangan pada dinding.


"Sini ikut ayah..!!" ajak Bang Rico kemudian menggendong putranya itu.


"Nanti sore jalan-jalan yuk. Kita main di mall..!!" Bang Rico mencium gemas si gembul Gazha.


...


"Kemana saja kamu???" tanya Bang Pandu saat sudah bisa menghubungi Om Sobri dan memintanya segera datang ke kantor.


"Siap.. anak saya sedang sakit Dan" jawab Om Sobri. Wajahnya pun nampak lelah dan lusuh.


"Sakit lagi??"


"Siap..!!"


"Saya bukannya mau ikut campur dalam masalah rumah tanggamu. Tapi kalau di antara kalian tidak ada yang mengalah, sampai kapanpun pertengkaran di antara kalian tidak akan pernah usai." kata Bang Pandu.

__ADS_1


"Satu lagi.. kurangilah istrimu menyebut nama Rico. Bagaimanapun juga Rico itu atasanmu. Selain malu dengan tetangga.. kasihan juga istrinya Rico karena istrimu bersikap tidak baik. Kamu itu suaminya Ratri.. kamu harus bisa tegas sama istrimu"


"Siap Dan. Saya mengerti"


Om Sobri juga merasa tidak enak apalagi saat Bang Rico menatapnya seperti ini. Suasana kerja jadi begitu tegang dan tidak nyaman.


"Sobri.. kalau semua masalah ini hanya menyangkut nama saya saja.. itu tidak menjadi soal, tapi Ratri sudah sangat keterlaluan. Sejak anakmu itu lahir.. dia selalu mengatakan anakmu itu mirip dengan saya padahal jelas sekali anakmu itu mirip sama kamu. Ulah istrimu itu sudah membuat istri saya tertekan. Itu yang membuat saya tidak terima. Istri saya tidak pernah menegur istrimu secara langsung tapi saya tau beban pikirannya begitu besar sampai membuat berat bedannya turun" Bang Rico mencoba untuk tidak emosi menghadapi situasi ini. Tapi masalah ini juga yang membuat Asya jadi sering pingsan.


"Saya paham Dan.. saya akan menasihati istri saya lagi." betapa malunya Om Sobri saat itu karena akhirnya mendapat teguran keras dari pimpinannya.


Obrolan ketiga pria tersebut terputus saat tiba-tiba Danyon hadir di tengah mereka.


"Saya tunggu laporan tapi kenapa tidak ada satu orang pun yang menanggapi????" bentak Danyon.


"Siap salah..!!!"


"Push up semua..!!!!!" perintah komandan.


"Keterlaluan..!!!!!"


Bang Pandu, Bang Rico dan Om Sobri melaksanakan perintah Danyon.


:


"Abang dimana?" tanya Netta saat baru saja panggilan teleponnya tersambung. Tanpa salam.. suara itu terdengar panik.


"Kantor lah, ada apa?" tanya Bang Rico.


"Asya pingsan lagi nih Bang" kata Netta.


"Ya Tuhanku.. apa Asya baru keluar rumah?" tanya Bang Rico lagi.


"Iya Bang, belanja sayur di ibu pedagang sayur sore" kata Netta.


"Astagfirullah.. tunggu sebentar, Abang jalan pulang"


:


Karena tak kunjung sadar, Bang Rico memasang oksigen darurat untuk Asya.


Mata Asya pun terbuka, tapi saat itu masih sempat-sempatnya Asya tersenyum melihat Bang Rico yang duduk dan mendampingi di sampingnya.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya?" tanya Bang Rico cemas.


"Nggak apa-apa Bang, sudah sehat. Namanya saja hamil, pasti sering lemas" jawab Asya, sebisa mungkin ia tidak membuat Bang Rico khawatir.


"Kita ke rumah sakit yuk?" ajak Bang Rico.


"Asya pengen jalan-jalan" tolak Asya.


Bang Rico ingin sekali melarang permintaan Asya, tapi ia tidak ingin Asya menjadi semakin stress.


"Bawa saja Asya jalan-jalan meskipun hanya berputar-putar saja di kota. Mama tunggu Gazha di rumah. Sebentar lagi Papa juga sampai" kata Mama Dinda yang baru saja datang dari luar kota.


...


"Bang.. boleh Asya tanya?"


"Apa sayang?" Bang Rico membelai rambut Asya dan mengusap pipinya.


"Dulu.. apa yang membuat Abang sangat mencintai Ratri?"


"Kenapa kamu tanya begitu? Tidak ada yang istimewa antara Abang sama Ratri begitu pun juga dengan mantan Abang yang lain" jawab Bang Rico menjawab dengan tegas daripada Asya harus bertanya hal yang lebih buruk lagi.


"Apakah sebelum Ratri menikah, Abang pernah menemui dia?" tanya Asya menimbulkan berbagai makna tapi Bang Rico langsung memahami arah dan tujuan pertanyaan Asya.


"Nggak pernah, satu kali pun nggak pernah. Wajah bayi masih bisa berubah-ubah. Kamu jangan memikirkan hal yang tidak penting dan jangan dengarkan apa kata orang. Tidak semua kata orang itu benar" jawab Bang Rico berusaha menenangkan Asya meskipun hatinya sendiri remuk dan hancur.


"Percayalah, hubungan Abang dan Ratri sudah usai bertahun-tahun yang lalu.. dan percayalah, tidak ada yang bisa menggantikan kamu di hati Abang. Hanya kamu yang Abang cinta dan satu-satunya"


Seketika Asya memeluk Bang Rico dengan erat, tanpa kata.. hanya tangis seakan mengutarakan semua rasa.


"Anak sudah tiga. Punya istri seksi begini. Mana sempat Abang melirik yang lain" Bang Rico mencubit gemas hidung Asya.


Asya semakin menenggelamkan wajahnya di dada Bang Rico yang terus tersenyum geli tak peduli dengan perasaannya sendiri.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2