
"Kamu.. kamu yang sudah merebut kebahagiaan ku. Aku yang menginginkan menjadi istri mas Rico tapi kamu yang mendapatkan nya. Apa secepat itu kamu melupakanku mas?"
"Pak Sobri tolong di tangani istrinya dan mohon maaf, mungkin anda bisa membawanya ke psikiater..!!" kata Bang Rico membuat Om Sobri begitu sedih tapi memang Ratri sangat keterlaluan sampai membuat kekacauan seperti ini.
"Siap Dan.. maaf sudah merepotkan" jawab Om Sobri kemudian membawa bayinya.
Mendengar semua itu rasanya badan Asya gemetar, ia memegangi kepalanya sesaat kemudian dadanya terasa sesak dan tak sadarkan diri.
"Asyaaaaaa..!!!!!!" Bang Rico kelabakan lalu secepatnya membawa Asya ke rumah sakit.
...
Bang Rico memegang kaki ranjang. Badannya gemetar karena hidung Asya sampai mengeluarkan darah.
"Istriku kenapa Bang?" tanya Bang Rico tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.
Dokter senior menepuk bahu Bang Rico. Belum ada jawaban tapi raut wajah dokter sudah menunjukan kalau ada yang tidak beres.
"Sabar dulu ya Ric. Kamu duduk dulu yang tenang..!!" kata dokter.
"Ijinkan saya tetap disini Bang, saya janji tidak akan mengganggu."
"Ya sudah.. tapi apapun yang terjadi, kamu harus kuat" pinta dokter.
Saat itu yang terlintas dalam pikiran Bang Rico hanya kesehatan Asya yang semakin menurun dan mungkin harus mendapatkan perawatan lebih.
:
****POV Rico****.
Satu jam lamanya aku berdiri dan penanganan untuk Asya belum juga usai sampai akhirnya dengan jelas telingaku mendengar suara nyaring yang begitu aku takutkan. Suara perekam detak jantung akhirnya berbunyi tanpa nada. Dokter semakin gencar membantu Asya namun lima belas menit berikutnya sudah berlalu.. istriku itu tidak merespon apapun.
Dokter menghampiriku dan menepuk bahuku lagi. Dengan raut wajah penuh sesal, dokter menggeleng.
"Sabar ya Ric. Yang kuat..!!" ucapnya padaku.
Sungguh aku masih terpaku antara percaya dan tidak dan aku berharap semua ini hanya mimpi buruk ku saja. Nyawaku seakan hilang, melayang bingung tak dapat menerka.
Aku melangkahkan kaki ku mendekat pada Asya yang tertidur begitu cantik, tangannya memeluk perutnya yang mulai membesar.
Seorang bidan memanggilku.
"Mohon maaf pak, ini pergerakan bayi bapak"
__ADS_1
Mataku melihat dengan jelas bayi itu lincah di perut Asya. Namun sesaat kemudian ikut melemah. Tak tahan melihat semua itu, aku terduduk lemas.
"Laki atau perempuan?" tanya ku karena aku sudah tau di usia kandungan itu.. aku sudah bisa mengetahui jenis kelamin calon bayi ku.
"Perempuan Pak" jawab Bu bidan.
Aku ingin berteriak, tak sanggup dan tak bisa menerima segala kenyataan pahit hari ini. Hari yang akan aku ingat sepanjang hidupku.
"Asya.. bangun sayang..!!" ucapku menolak percaya.
"Sayang.. Abang janji tidak akan membuat masalah lagi dalam rumah tangga kita"
POV Rico end
-_-_-_-_-
Seruan berita di Batalyon sudah terdengar. Papa Wira tergopoh-gopoh memasuki area rumah yang sudah terpasang bendera kuning. Mama Dinda pun mengikuti langkah sang suami.
"Asyaaa.. Asyaaaaa..!!!!!" teriak Papa Wira. Betapa hancur hati seorang Papa melihat putri pertamanya telah tiada.. putri yang Adinda tinggalkan untuknya.
"Jangan tinggalkan Papa nak. Maafkan papa..!!" Papa Wira terisak memeluk putrinya.
Duduk tak jauh dari jenazah Asya.. Bang Rico duduk terdiam bagai mayat hidup, pandangannya kosong, sama sekali tidak bisa di ajak bicara.. tak ada lagi air mata yang keluar hingga akhirnya tubuh kekar itu kembali tumbang untuk ketiga kalinya. Bang Yudha dan Bang Winata membantu Bang Rico sedangkan Bang Pandu juga membantu Fasya yang tidak sanggup kehilangan seorang kakak karena mereka berdua baru saja menjalani hubungan baik.
...
Sampai Asya masuk ke dalam liang lahat.. wajah Bang Rico masih datar pandangannya tetap kosong.
:
"Abang pulang duluan.. titip Rico ya.. Fasya sudah nggak kuat nih" kata Bang Pandu.
"Siap Bang..!!" kata Bang Winata dan Bang Yudha.
"Ijin Bang.. Bang Rico hilang" lapor Bang Tino.
"Hilang gimana maksudmu?? Tadi khan sama kamu to Tinoooo..!!!!!" Bang Pandu pusing tujuh keliling takut Bang Rico berbuat nekat. Pria tanpa ekspresi akan lebih menakutkan daripada pria yang mengungkapkan ekspresi nya.
"Cari Rico sampai dapat. Jangan sampai dia berbuat macam-macam..!!!!!" bentak Bang Pandu.
"Abaang..!!" terdengar Fasya mencari Bang Pandu.
"Iya sayang.. kita pulang ya..!! Sudah capek ya?" Bang Pandu merendahkan suaranya kemudian masuk ke mobil bersama Fasya.
__ADS_1
"Abang benar-benar minta tolong.. cari Rico. Sekarang Abang punya istri hamil. Karena kejadian ini.. Abang juga jadi mikir, takut sendiri" kata Bang Pandu pada juniornya.
"Siap Bang, kami ngerti"
:
"Mbak Asya kenapa sih Bang? Ini hanya mimpi khan?" Fasya masih saja menangis tak percaya Asya akan meninggalkan nya secepat ini. Sungguh banyak penyesalan ada dalam hatinya.
"Abang juga belum tau apa sebabnya sayang.. tapi sekarang Abang mohon untuk kamu tetap tenang ya..!! Kasihan anak kita dek. Abang nggak minta apa-apa sama kamu, hanya tolong jaga kesehatan saja" pinta Bang Pandu tak tega melihat tangis sedih sang istri.
Ricooo.. kamu pergi kemana? Jangan bodoh.. jangan berbuat aneh-aneh. Abang tau kamu sedih, hatimu pasti sakit sekali.. tapi ingatlah Gazha.. Dia juga butuh di sayangi ayahnya.
...
Papa Wira bersandar menatap foto cantik Asya putrinya. Hanya dirinya yang tau bagaimana sakitnya kehilangan istri yang selama ini hanya bisa ia pendam karena cintanya yang begitu besar pada Dinda, juga kehilangan 'duplikat' wajah istri pertamanya.
"Minum dulu Pa..!!" Dinda membuatkan segelas teh hangat dan duduk di samping Papa Wira.
"Terima kasih ma, Mama nggak tidur? Ia sudah malam sekali"
"Nanti dulu pa, Gazha baru tidur sama bibi. Mama belum tenang karena Rico belum pulang" kata Mama Dinda.
"Rico pasti baik-baik saja ma. Biarkan dulu, beri dia waktu.. kehilangan istri itu sakitnya luar biasa" Papa Wira bersandar memejamkan matanya dan Mama Dinda ikut bersandar di dada Papa Wira.
"Jangan tinggalkan Papa ya Ma. Papa nggak sanggup lagi merasakan kehilangan. Kamu segalanya Ma"
"Iya Pa.. Mama akan selalu ada disini"
.
.
.
.
Hai readers.. maafkan Nara ya harus membuat alur cerita kehilangan 'istri tercinta' untuk kesekian kalinya. Yang jelas banyak pertimbangan dari Nara. Mulai dari cover yang rancu dengan unsur cerita dan mulai tipisnya dukungan tentunyaπ€π¬βοΈ. Tapi pernahkah Nara off di karya utama milik Nara? Tidak khan?
Tapi.. Terima kasih banyak bagi seluruh pembaca Nara yang masih tetap ingin bersama Nara. I Love you.. Untuk itu.. pembaca setia Nara bisa lanjut di Bab selanjutnya.. Semoga tetap suka.π€π€π€π₯°π₯°π₯°πππ.
.
.
__ADS_1
.
.