Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
101. SP 2. 4. Pergolakan batin.


__ADS_3

Badan Bang Rico kian remuk saja. Ingin menggerutu tapi semua tidak mungkin.


"Ric.. kamu nggak apa-apa?" tanya Dan Garin.


"Siap.. Aman komandan" jawab Bang Rico. Celana pendeknya masih basah.


Bang Tino menyodorkan handuk untuk seniornya itu.


:


"Kenapa kamu kasih Bang Rico spirtus?" tegur keras Papa Garin pada putrinya.


"Nggak Pa, itu benar minyak urut" kata Jihan dengan wajah tanpa dosa.


"Sekarang kamu minta maaf sama Bang Rico. Gara-gara kamu badannya hampir leleh, tangan Papa juga jadi terbakar nih" Papa Garin tak hentinya mengarahkan putrinya yang usil.


"Maaf..!!"


"Yang bagus Jihan, masa begitu caranya. Itu nggak sopan..!!"


"Maaf Bang, Jihan salah" Jihan terpaksa menuruti sang Papa karena tidak ingin ribut.


"Nggak apa-apa" jawab Bang Rico merendahkan nada suaranya.


Jihan pun berjalan keluar ruangan sambil melirik Bang Rico penuh dendam.


"Maafkan tingkah Jihan ya Ric..!!" Dan Garin juga merasa tidak enak dengan Bang Rico.


"Siap.. tidak apa-apa Dan"


...


Jihan melihat Gazha bermain seorang diri di lapangan. Ia pun menghampiri pria kecil itu.


"Gazha.. kenapa disini sendiri?" tanya Jihan.


"Tunggu Ayah. Gazha lapar" jawab bocah gembul itu.


"Bagaimana kalau kita makan di luar? Berdua sama Tante" ajak Jihan.


"Gazha nggak boleh keluar sama orang asing" tolak Gazha.


"Tante khan kenal sama Ayah Gazha. Nanti Tante yang bilang sama Ayahnya Gazha deh" kata Jihan tak tega melihat Gazha sudah lemas.. apalagi setelah tau ternyata Mama Gazha telah tiada.


...


"Nggak ada Bang"


Bang Rico rasanya mau pingsan tak bisa menemukan putranya.


"Masa sih segini banyak anggota nggak ada yang lihat anak saya pergi kemana??" tegur Bang Rico pada anggotanya.


Bang Tino pun tidak berani bersuara kalau sudah berhadapan dengan Bang Rico.


Tak lama Jihan dan Gazha bergandengan tangan masuk lewat pagar beton bolong di belakang kebun dan itu langsung membangkitkan emosi Bang Rico.


"Darimana saja kalian???????" bentak Bang Rico menggelegar.


"Dan kamu.. budayakan meminta ijin saat membawa anak sekecil Gazha. Kamu pikir kamu ini siapa????" ucap tegas Bang Rico pada Jihan.


"Yah.. jangan marah" kata Gazha menarik ujung seragam ayahnya.


"Diam kamu Gazha.. kamu nggak dengar apa yang Ayah ajarkan??" bentak Bang Rico.


Jihan berjongkok dan menenangkan Gazha. Ia mengusap dada Gazha agar putra Bang Rico tenang.


"Gazha main dulu disana sama om-om ya. Jangan sedih donk. Ayah nggak marah kok, ayah hanya khawatir sama Gazha" bujuk Jihan.


"Tapi ayah marah sama Tante"


"Ayah nggak marah, Tante sama ayah hanya bicara seperti orang dewasa yang lain" senyum Jihan tersungging di hadapan Gazha dan senyum itu membuat Bang Rico memalingkan wajah dengan hati tak menentu.

__ADS_1


Gazha pun menurut. Ia segera bermain dengan om-om di lapangan.


"Ada apa ini?" tegur Papa Wira karena suara Bang Rico terdengar nyaring hingga jauh.


Papa Wira melihat Jihan sudah ada di Batalyon.


"Sudah pulang sama Gazha?" tanya Papa Wira membuat bibir Bang Rico ternganga lebar.


"Sudah, sekarang lagi main tuh Om" jawab Jihan dengan senyumnya.


Kemudian Jihan menatap mata Bang Rico.


"Maaf Jihan salah, sudah nggak ijin sama Om. Jihan nggak punya nomer ponsel Om Rico.. yang ada hanya nomer ponsel Om Wira. Gazha sudah lapar, haus.. Jihan nggak tega"


Hati Bang Rico rasanya langsung tertampar keras. Ia merasa malu sudah salah sangka pada Jihan bahkan sudah membentaknya tanpa perasaan.


"Saya minta maaf sudah membentakmulp dan terima kasih sudah menemani Gazha" ucap Bang Rico berbesar hati dengan jantan mengakui salahnya.


"Jihan nggak butuh semua itu" jawab Jihan kemudian berlalu.


Rafleks tangan Bang Rico menahan lengan Jihan. Jihan yang sigap langsung menghantam sisi leher Bang Rico kemudian meninju bagian bawah perut sixpack ayah Gazha itu.


"Hmmmpphh.." Bang Rico menahan hantaman keras Jihan, meskipun tidak begitu bertenaga tapi cukup berasa juga.


"Rasakan.. itu untuk pria yang tidak bisa lembut bicara sama perempuan" ucap ketus Jihan.


Selepas Jihan pergi.. Bang Rico menunduk merasakan perutnya yang terasa nyeri.


"Sakit Ric?" tanya Papa Wira.


"Nggak Pa, cuma rasa mint aja" jawab Bang Rico memercing sampai wajahnya memerah.


"Untung masih rasa mint Ric. Lain kali di ingat, jangan ribut sama perempuan, kalau tidak.. hidupmu akan sepedas cabai. Nggak ada untungnya lawan perempuan" kata Papa Wira.


-_-_-_-_-


Bang Rico menyuapi Gazha makan malam. Badannya sudah sangat lelah dengan urusan pekerjaan tapi mengurus Gazha adalah prioritas nya saat ini.


"Makan soto ayam sama beli jajan di minimarket. Tante Jihan suapin Gazha, gendong Gazha juga" jawab Gazha.


"Kenapa nggak jalan Bang? Kamu gendut begitu, kasihan donk Tante Jihan" kata Bang Rico.


"Kata Tante Jihan jalannya ramai, banyak mobil lalu lalang. Gazha terdorong p****t mamanya Ella saja.. Tante Jihan marah-marah" lapor Gazha pada ayahnya.


"Masa Bang??" tanya Bang Rico tidak percaya pendengarannya.


"Iya yah. terus mamanya Ella tanya begini.. 'situ siapanya anak Pak Rico'??"


"Teruus.. Tante Jihan jawab apa?" tanya Bang Rico penasaran.


" 'Saya mamanya Gazha'. Kurang jelas??' Gitu pa" jawab Gazha kecil.


" 'Ijin ibu.. mohon maaf' gitu mama Ella bilang" imbuh Gazha.


"Oya??" wajah Bang Rico memerah menyimpan senyum tampannya.


"Iyaa ayah, Gazha suka deh punya Mama seperti Tante Jihan. Boleh nggak Yah?" tanya Gazha.


Senyum Bang Rico mendadak menjadi getir. Tak ada kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Gazha putranya.


"Habiskan makannya.. terus kita tidur..!!" ajak Bang Rico.


:


Jangan tanyakan lagi tentang mama mu ya nak, maafin Ayah yang belum bisa membahagiakan kamu, melengkapi hidupmu. Ayah nggak kuat, nggak sanggup menduakan mama.


Bang Rico terus mengusap rambut putranya. Air matanya menetes.


"Mama.. ayo main ma"


Hati Bang Rico terasa semakin sakit.

__ADS_1


"Apa ayah yang egois nak?"


Mata Bang Rico terpejam. Rasa rindu berkelebat menyiksa batin teringat sosok sang istri. Ia menarik guling ke dalam pelukannya.


"Kamu rindu Abang nggak sayang?" gumamnya dengan suara semakin serak berat.


"Astagfirullah hal adzim.." Bang Rico segera duduk setiap kali merasakan rasa rindu kian menjadi.


Ia pun beranjak dan memilih membersihkan diri kemudian sholat daripada batinnya semakin tersiksa.


:


Bang Rico mengusap wajahnya usai sholat malam, hatinya berangsur tenang.


"Tuhan.. Tolong beri aku jawaban. Aku takut melangkah, aku menyadari yang sudah pergi tak akan pernah bisa kembali lagi, tapi apakah aku bisa adil memberikan cinta untuk pendamping hidupku nanti. Aku takut bayangan Asya akan menyakiti hati wanitaku nanti dan yang pasti.. bisakah 'dia' menjadi ibu terbaik bagi satu-satunya putraku, tanpa membedakan sayang untuk anak-anak ku kelak" ucapnya mengadu pada Sang Pencipta.


***


Hari ini ada team kesehatan memeriksa kesehatan para anggota secara rutin tak terkecuali dengan Bang Rico.


Tampak disana ada Jihan yang sedang mengikuti kegiatan perkenalan kegiatan mata kuliah di Rumah Sakit Tentara karena ia sedang menjalani pendidikan kebidanan semester satu. Kali ini ia di perbantukan untuk menjalani kegiatan di Batalyon.


"Pak Rico, silakan..!!" kata Wati, perawat senior di rumah sakit.


Bang Rico sedikit melirik Jihan yang sedang sibuk, ia pun duduk dan menyiapkan lengannya untuk check tensi.


"Pak Rico mau suntik vitamin? Tensinya sedikit rendah" kata Wati.


"Iya mbak, sepertinya belakangan saya juga sering capek" jawab Bang Rico.


"Jihan.. siapkan vitamin buat Pak Rico ya, kamu sudah bisa cara suntik khan? Nanti kamu yang suntik Pak Rico" perintah Wati kemudian menyiapkan pekerjaan lain.


~


"Kamu bisa nggak dek?" tanya Bang Rico ragu.


"Jihan ragu sih, tapi kita coba saja..!!"


"Eeeehh.. jangan coba main suntik-suntikan. Bahaya..!!" tolak Bang Rico menjauhkan jarum suntik dari lengannya.


"Nggak apa-apa Om, Jihan pintar kok" wajah Jihan terlihat menggoda Bang Rico.


"Jangan coba-coba atau kamu balik saya tusuk" ancam Bang Rico.


"Om Rico berani??" pertanyaan Jihan seakan tantangan untuk Bang Rico.


"Aseemm tenan kok, berani apa nih. Jangan cari hal ya, saya balas bisa mabuk kamu nanti" bisik ya bernada geram.


Tanpa Bang Rico sadari, jarum suntik sudah menembus lengannya.


Senyum Jihan tiba-tiba hilang.


"Ya ampun.. Jihan salah ambil obat. Ini tadi bukan vitamin"


"Jangan bercanda kamu Jihan..!!" tegur Bang Rico.


"Benar Om.. ini obat untuk.. ehmmm.. itu.. anuu.. duuuuhh" Jihan mulai kebingungan.


"Jangan Om terus.. Risih saya dengarnya..!! Untuk apa?????" tanya Bang Rico lebih tegas.


"Anuu.."


"Anuuu lagi.. Tuhanku.." Bang Rico sampai mengacak-acak rambutnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2