Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
102. SP 2. 5. Serba salah.


__ADS_3

Ambulans segera melaju ke rumah sakit dan akhirnya Papa Garin mengikuti ambulans tersebut bersama Jihan dan Esa.


"Sebenarnya Bang Rico kamu apakan sih ndhuk??" Papa Garin tak habis pikir dengan ulah putrinya.


"Jihan salah ambil termos obat si ruang dokter. Itu hormon untuk pria" jawab Jihan dengan polosnya.


"Ya Allah Jihan. Kalau pemakainya cocok sih nggak apa-apa sayang, tapi kamu suntik kan obat itu tanpa tes" Mama Esa pun ikut bingung.


"Kalau Rico mati bagaimana????" bentak Papa Garin.


"Hwaaaa.. jangan. Jihan nggak mau Bang Rico mati" jawab Jihan sudah terlanjur takut karena kecerobohan nya.


Pertemuan hari ini yang seharusnya aman dan lancar, apalagi mereka akan test untuk jungar tiba-tiba harus terhenti karena ada insiden tak terduga.


//


Bang Rico sudah sesak, mual, sakit kepala, tubuhnya menegang dan hampir pingsan.


"Seberapa banyak yang dia suntik kan di tubuhmu Ric? Ini vitamin atau racun?" tanya Bang Winata.


"Sudah Bang. Jangan di bahas lagi. Saya nggak apa-apa" jawab Bang Rico meskipun lemas.


"Nggak apa-apa bagaimana?? Ini fatal Ric. Kamu nggak bisa pakai sembarang Obat, malah sekarang harus begini. Badan nggak fit pula" kata Bang Winata tidak terima.


Bang Rico menyentuh tangan Abangnya.


"Please Bang. Ini hanya masalah kecil. Hari ini saya terhibur sekali" jawab Bang Rico tersenyum meskipun wajahnya sudah pucat nyaris mati.


"Sempruuull. Jangan sampai ada main kamu ya" tegur Bang Winata.


"Nggak lah Bang" masih sempat Bang Rico bermain mata dengan Abangnya.


"Edaaan..!! Mati konyol"


...


"Aman.. Rico sudah bisa tidur. Yang masuk ke dalam tubuhnya memang tidak bisa netral tapi paling tidak.. sudah seimbang. Anggap saja Rico sedang istirahat.. besok baru bisa beraktivitas" kata dokter.


"Syukur Alhamdulillah" Papa Garin dan Mama Esa mengusap wajahnya.


Jihan duduk lemas karena ikut lega Bang Rico tidak jadi 'mati'.


:


Bang Rico tau Jihan masuk ke ruangan sambil menangis tapi ia pura-pura tidak tau karena senang melihat wajah panik Jihan.


"Bang.. Jihan minta maaf..!! Jihan nggak sengaja kasih obat itu untuk Abang. Jihan benar-benar nggak baca fungsi obatnya. Abang jangan sampai mati ya?" gumamnya.


Rasanya Bang Rico ingin tertawa terbahak tapi ia menahannya. Tanpa Bang Rico sadari, wajah panik Jihan menjadi pelipur lara tersendiri untuknya. Seketika niat jahilnya pun muncul.


Bang Rico menggerakkan jemarinya seolah mulai tersadar dari tidurnya. Ia langsung meremas dadanya seakan rasa sakit masih begitu menyiksanya.


"Bang.. Abang kenapa? Masih sakit ya?" tanya Jihan cemas.

__ADS_1


"Kamu.. kamu gadis pembuat onar..!!" suara Bang Rico berubah menjadi sangat menakutkan.


"Ka_Kamu siapa??" tanya Jihan terbata-bata.


"Saya.. perewangan penunggu tubuh ini..!!" jawab Bang Rico.


Jihan mundur beberapa langkah, wajahnya sudah pucat dan takut melihat Bang Rico kerasukan.


"Mau kemana kamu??" tanya Bang Rico.


Tangan Jihan sibuk mencari ponselnya.


"Tunggu.. manusia derajatnya lebih tinggi daripada setan. Jihan mau nyalakan aplikasi pembasmi hantu" kata Jihan kemudian mengumandangkan suara do'a dan hal itu malah membuat Bang Rico ternganga bingung.


"Naahh.. terbakarlah kamu setan..!!!!!"


Secepat kilat sepatu Jihan melayang menghantam wajah Bang Rico yang sama sekali tidak siap.


"Hyaaaaaaaaaa" Jihan berlari dan menghantamkan wajah Bang Rico pada lututnya. Seketika itu juga Bang Rico tak sadar dan terpelanting jatuh dari ranjang.


"Astagfirullah hal adzim.. Jihaaaaann..!!!!!!" Papa Garin benar-benar marah dan menegur keras tingkah putrinya.


"Apa-apaan kamu ini????"


"Bang Rico kesurupan Pa" jawab Jihan.


Papa Garin memang mendengar ada suara do'a yang terdengar dari ponsel Jihan.


"Tino.. panggil dokter..!!" perintah Papa Garin.


:


Papa Garin menatap mata Bang Rico.


"Kamu kerjain Jihan ya?"


Bang Rico hanya nyengir kuda karena memang ia sudah membuat keributan, apalagi Papa Wira sudah melotot.. entah sejak kapan menantunya bisa usil.


"Paa.. sudah aman?" tanya Jihan di balik tirai.


Bang Rico ingin duduk dan menjawabnya tapi Papa Wira menekan kening Bang Rico hingga kembali tidur telentang sedangkan Papa Garin membekap mulut Bang Rico.


"Parah.. nggak bisa bangun. Ini salahmu Jihan.. sekarang kamu yang harus rawat" jawab Papa Garin.


Mata Bang Rico melotot, dokter pun ternganga bingung karena keadaan Bang Rico sama sekali tidak parah.


"Iya..iyaaa.. nanti Jihan yang rawat" kata Jihan.


...


Dengan luwes Jihan membantu Bang Rico duduk dan makan. Bang Rico ingin sekali menolaknya tapi mata Papa Wira dan Papa Garin terus mengawasinya dari luar jendela.


Aku tau Papa ingin aku menikah lagi, tapi hatiku sudah terasa mati pa. Hatiku masih penuh dengan Asya.

__ADS_1


"Makan yang banyak Bang, biar besok pagi bisa keluar dari rumah sakit" kata Jihan.


"Iya, sini biar Abang makan sendiri" Bang Rico meminta mangkok makannya tapi Jihan menolaknya.


"Jihan tau Abang nggak nyaman, tapi mata Papa Wira dan Papa Garin sedang mengawasi. Abang pengen semua cepat selesai khan?" ucap Jihan tak seperti kelakuannya yang urakan.


Bang Rico pun pasrah menurut. Setelah sekian lama, ia baru merasakan perhatian wanita walaupun hanya pura-pura.


~


"Menurut Abang, apa Rico bisa jatuh cinta lagi?" tanya Papa Wira.


"Mungkin saja, tapi saat ini mereka sedang pura-pura. Mereka kira bisa mengelabui kita yang sudah berpengalaman" jawab Papa Garin.


"Apa Abang sudah yakin mendekatkan Rico sama Jihan? Abang tau khan Rico duda?"


"Tau.. dan Abang yakin karena sifat Jihan pasti akan tenang kalau Rico yang menangani. Abang sudah dengar dan tau bagaimana Rico. Abang dan istri mendidik Jihan juga dengan akhlak.. insya Allah semua akan baik-baik saja" ucap Papa Garin yakin.


...


Jihan tidur bersandar di ranjang Bang Rico. Wajah Jihan terlihat sangat lelah. Tak terasa tangan itu membelai rambut Jihan.


"Terima kasih, kamu sudah mau menemani Abang. Semoga kamu selalu bahagia" gumamnya.


Tak lama pintu terbuka membuat Bang Rico panik setengah mati. Papa Wira dan Mama Dinda pura-pura tidak tahu saat Bang Rico mengalihkan tangannya membiarkan apa yang mereka lihat barusan.


"Ayaaaahh..!!" teriak Gazha begitu nyaring.


"Anakmu minta ketemu ayahnya" kata Papa Wira.


Mendengar suara ribut, Jihan jadi terbangun. Refleks Jihan berdiri dan memeriksa keadaan Bang Rico.


"Eehh.. ada Om sama tante" Jihan langsung menyalami keduanya.


"Kamu mau pulang ndhuk?" tanya Mama Dinda.


"Hmmmmm." Jihan masih dilema menjawab.


"Ada Tino sama Sobri di luar" kata Papa Wira.


"Biar Jihan disini saja sampai sopir Dan Garin datang menjemput Pa. Tino dan Sobri bertugas jaga saya" ucap Bang Rico tegas.


Papa Wira mengangguk seolah memahami.


"Kalau begitu Biar Jihan belikan Papa kopi"


"Sobri saja pa, Jihan..... suka salah kalau di suruh kerjakan sesuatu" kata Bang Rico beralasan.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2