Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
14. Belajar menerima.


__ADS_3

Sekitar pukul sepuluh Asya dan Bang Rico sudah kembali pulang. Suasana canggung masih terasa di antara keduanya.


"Hmm.. Mau kemana dulu dek?" Bang Rico mengurai kecanggungan mereka.


"Pulang saja Bang" jawab Asya.


Bang Rico mengangguk ringan.


Syukurlah Asya tidak minta kemana-mana. Aku juga harus menemui orang tua Wardoyo dan kawan-kawan yang sudah menunggu di ruangannya.


:


"Abang ke kantor sebentar ya..!! Kamu istirahat di kamar. Kalau butuh apa-apa cepat hubungi Abang..!!" pesan Bang Rico.


"Iya Bang"


Bang Rico pun meninggalkan Asya dan segera melajukan mobil dinas ke Batalyon. Kepalanya langsung panas mengingat Wardoyo yang sudah banyak berulah itu.


:


"Anda itu siapa berani menahan anak saya disini..!!!!!"


"Saya wali dari Asya.. Tidak hanya Wardoyo yang mendapatkan hukuman ini, tapi Asya juga..!! Mereka sudah membuat keributan di jalanan dan balap liar. Itu membahayakan nyawa orang banyak juga diri mereka sendiri..!!!" tegur Bang Rico pada orang tua Wardoyo.


"Disini saya tidak mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, tapi mereka harus di arahkan agar tidak semakin menjadi sebelum pihak yang berwajib menangani kelakuan mereka"


Ibu Wardoyo tidak suka dengan pertemuan itu, tapi tidak ada pilihan lain selain menerima semua itu karena jika meneruskan perkara ini maka Wardoyo juga akan terjerat kasus hukum.


"Saya akan membebaskan Wardoyo tapi saya meminta dia tinggal disini. Ada urusan penting yang harus saya selidiki. Mohon maaf saya harus selesaikan tugas saya" ucap Bang Rico.


"Saya bersedia Pak" kata Wardoyo.


"War.. jangan percaya..!! Kamu bisa di siksa disini..!!"


"Nggak ma, semalam saja aku tidur di mess perwira dan makan enak, juga di temani om-om ini." jawab Wardoyo yang memang terlihat baik-baik saja sejak tadi mamanya menemuinya.


:

__ADS_1


Setelah orang tua dari Wardoyo pulang dengan rundingan yang cukup alot, akhirnya Bang Rico berhadapan langsung dengan Wardoyo.


"Saya mau keterangan yang lengkap dari kamu tentang Asya..!! Seperti apa kepribadian dan keseharian dia di luar sana."


"Maksud bapak?"


"Jabatan saya adalah untuk 'mengintrogasi' orang dan mencari informasi penting terkait seputar apapun yang terjadi dalam lingkup tentara. Mungkin Asya terlihat seperti siswi biasa atau 'orang luar' saja. Tapi kamu tau khan Asya itu juga putri seorang militer, jadi kami berhak menyelidiki hal ini"


Wardoyo terlihat ragu, tapi kemudian keyakinannya timbul karena tidak mungkin seorang tentara akan berbohong atau main-main dengan situasi seperti ini. Dirinya pun berniat bekerja sama.


"Asya perokok berat Pak, dia juga jago minum. Dia gadis yang pintar, kalau kami para pria yang bilang.. Asya itu adalah gadis idaman"


Bang Rico terdiam tapi dalam hati kecil pun mengakui bahwa sang istri memang tiada duanya. Untuk sekelas pelajar belasan tahun, body Asya memang di atas rata-rata. Para pria yang melihatnya mungkin bisa saja berfantasi liar karena nya, dan kali ini entah mengapa perasaan begitu tertusuk dan kesal bahkan sangat sakit saat Wardoyo mengatakan Asya adalah gadis 'idaman' para pria.


"Kegiatan apa saja yang pernah kamu lakukan sama Asya?" tanya Bang Rico.


"Saya nggak pernah berdua saja Pak.. selalu ramai dengan kawan. Kami terbuka pak.........." Wardoyo seolah enggan meneruskan kegiatan penyelidikan itu karena menyadari Asya adalah istri pria yang berada di hadapannya. Ia menoleh melihat Bang Yudha dan Bang Winata dengan cemas.


"Kami keluar saja..!!" kata Bang Yudha karena mungkin ada sesuatu yang ingin Wardoyo sampaikan.


"Katakan dengan jelas.. sejelas-jelasnya, apa Asya juga memakai obat-obatan terlarang?" tanya Bang Rico langsung pada pokok persoalannya.


"Iya pak, tapi hanya dia sendiri. Asya di suntik sama pacarnya lalu di pasok pil yang selalu dia bawa. Kalau Asya sedang mengkonsumsi obat itu.. dia seperti bukan dirinya sendiri, lebih berani dan tidak terarah sampai terkadang berani mendekati kami, teman laki-lakinya"


"Astagfirullah hal adzim..!!!" Bang Rico meremas dadanya. Rasanya ia tidak kuat mendengar semuanya, tapi demi keamanan Asya dan kelangsungan rumah tangganya.. dirinya harus kuat menyelesaikan masalah ini.


"Apa yang kalian lakukan????" tatapan mata Bang Rico sudah berubah tajam. Teringat saat dirinya berdua dengan Asya, dirinya kesal karena tidak tuntas menyelesaikan dengan gadisnya itu.


"Nggak ada pak. Hanya kelakuan remaja pada umumnya."


"Apa yang umum di antara remaja?? Sebelum kamu jadi remaja.. saya sudah merasakan semuanya. Antara laki-laki dan perempuan yang mabuk bahkan salah satunya tidak sadar.. pasti tidak akan manis saja. Saya tidak bodoh War..!!!!!!" bentak Bang Rico.


"Iya pak, benar. Asya mungkin bertingkah, tapi saya tidak menanggapinya. Saya nggak mau mengambil keuntungan dari perempuan meskipun saya bisa melakukannya. Tapi kalau.. sekedar bermain-main sama Asya.. saya pribadi sudah pernah" jawab jujur Bang Rico.


Tangan Bang Rico mengepal kuat, matanya memerah menahan marah tapi apa mau di kata.. itu semua hanya sebuah masa lalu namun ia harus menyadari segala yang terjadi pada Asya bukanlah keinginan sang istri, Asya hanya korban dari keadaan saat istrinya itu sedang dalam masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa.


"Maafkan saya Pak..!!"

__ADS_1


Tak terkira sakitnya hati Bang Rico tapi ia tetap menggunakan logika nya daripada mengedepankan egois nya. Bagaimana pun juga dirinya lah yang pertama mewisuda sang istri.


Ya Allah, istriku adalah kaca diriku. Apa yang aku lakukan pasti akan terbayar lunas pada akhirnya. Tak pernah aku berlebihan pada Netta kecuali dua yang terdahulu. Jika ini memamg teguran dariMu, aku ikhlas menerimanya.. karena menikah bukan untuk mengungkit masa lalu, tapi membina masa depan.


"Saya harap kamu kooperatif jika saya meminta bantuanmu..!!" kata Bang Rico tanpa menjawab permintaan maaf dari Wardoyo.


"Saya siap Pak"


...


Bang Rico masuk ke dalam rumah, di lihatnya rumah terlihat sepi. Ia membawa nasi goreng yang di belinya di pedagang nasi goreng dengan koperasi Batalyon. Di tariknya nafas dengan kuat tak ingin mengingat apapun pembicaraan nya tadi dengan Wardoyo, ia hanya fokus pada pertanyaan nya tentang kehidupan 'lain' Asya.


"Waduuhh betah banget ratu rayap nempel di kasur" ledek Bang Rico dengan sengaja.


"Memangnya Asya mau buat apa? Belajar pun Asya nggak konsen." jawab Asya.


"Abang bawa apa?" tanya Asya saat mencium bau makanan yang di tentang Bang Rico. Perutnya sudah terasa lapar.


"Nasi goreng, mau nggak?"


"Mauu.."


"Mau bagaimana juga Abang tetap ingat kamu. Kira-kira Abang di kasih apa nih? Nggak lupa sama istri di rumah?" goda Bang Rico.


"Mungkin Abang cinta sama Asya" jawab Asya ringan.


"Abang cemas sekali mikir kamu. Kalau kamu sakit.. siapa mau beres-beres rumah"


Seketika Asya melirik kesal, apalagi Bang Rico memasang wajah tanpa dosa.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2