Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
83. Berharap jalan terbaik.


__ADS_3

"Masuuukk..!!!!!!!" bentak Bang Rico karena Selena terus mengulur waktu.


"Jangan kasar sama calon istrimu Rico..!!!!" tegur keras Mama Diana.


"Saya hanya punya satu istri dan tidak akan pernah menikah lagi" jawab tegas Bang Rico.


"Tapi ini jelas anak Abang. Apa Abang mau lari dari tanggung jawab???" tanya Selena.


"Kalau itu anak saya.. saya akan bertanggung jawab membesarkan dia tapi tidak untuk menikahi kamu" jawab Bang Rico kemudian menarik tangan Selena agar segera masuk ke ruang USG.


~


"Usia kandungannya empat minggu"


"Nggak mungkin Bang.. saya nggak merasa menyetubuhii Selena" nada Bang Rico sudah geram.


Asya begitu terkejut sampai mundur beberapa langkah. Rasanya ia sudah mau pingsan tak sanggup menerima bila benar Bang Rico ayah dari anak yang sedang di kandung Selena. Bang Rico menahan tubuh Asya dan menguatkan istrinya.


Selena pun terkejut sampai pada akhirnya dokter membenahi letak kacamatanya.


"Oohh maaf, ini sebelas Minggu. Janinnya lumayan mengecoh. Berarti saat kejadian itu, Mbak Selena memang sudah hamil"


Saat mendengar itu, Asya benar-benar kalap, ia sudah frustasi dan menarik rambut Selena lalu menyeret wanita itu keluar tanpa persiapan, bajunya pun belum di benahi.


"Kamu perempuan paling kurang ajar yang pernah saya temui" Asya menampari Selena membabi buta lalu menjungkirnya hingga jatuh di teras.


"Sayang.. sudah..!!" Bang Rico menarik pinggang Asya lalu memeluknya.


"Abang mau membelanya?? Membela wanita terkutuk itu?????" teriak Asya.


"Bukan dek.. Ada anak Abang di perutmu. Abang sayang sama dia. Abang titipkan dia sama kamu" bujuk Bang Rico sambil mengusap perut Asya.


Mama Diana kesal dengan semua keributan ini. Ia menarik lengan Selena dengan kasar.


"Kamu hamil sama siapa??" tanya Mama Diana.


"Maaf Tante"


"Saya suruh kamu hamil sama Rico biar dia bisa kembali pulang. Apa terlalu sulit menarik hati laki-laki??" bentak Mama Diana.


"Kamu benar-benar tidak berguna..!!!!"


"Cukup Ma..!!!!!" suara Bang Rico menciutkan nyali semua orang disana.


"Taukah perbuatan Mama sudah menyusahkan aku dan banyak orang terseret masalah di dalamnya..!!!!!"

__ADS_1


"Kamu itu anak Mama dan kamu harus kembali pada jalanmu. Kamu putra Subrata dan kamu harus mengambil alih kepemimpinan Papa..!!!" teriak Mama Diana akhirnya membongkar identitas Bang Rico dengan jelas.


Beberapa anggota sudah waspada. Bahkan Danyon dan Papa Wira sudah tiba disana.


Melihat situasi sudah mulai memanas.. Bang Rico mengalihkan Asya ke belakang punggungnya.


"Untuk semua yang ada disini.. silakan dengar baik-baik. Saya.. memang benar putra dari Subrata. Mafia yang menjadi musuh di negeri ini"


Para anggota mulai bersiap siaga dengan senjata di pinggangnya.


"Tapi saya mencintai negeri saya.. bisa di bilang saya ini kabur dari keluarga karena hati saya tidak sepaham dengan orang tua. Jika memang saya di anggap bersalah.. saya rela dan ikhlas menanggungnya tapi saya mohon.. kembalikan orang tua saya di tempat semestinya. Masalah ini akan sepenuhnya menjadi urusan saya" jawab Bang Rico.


Danyon masih dalam pikiran waspada.


"Bang Pandu.. tolong rekam keterangan dari saya.. lalu bawa Bu Diana dan Selena keluar dari sini..!!" pinta Bang Rico.


"Saya.. Lettu Enrico Jordan Bana tidak memiliki hubungan apapun dengan kedua wanita tersebut.. selama saya hidup.. wali saya adalah Bapak Panji Rakasheta Wiranegara dan saya tidak mengenal Bapak Subrata" ucap Bang Rico.


"Baiklah Rico.. Mama pergi. Mulai detik ini.. kamu bukan putraku dan kamu bukan bagian dari keluarga Subrata lagi" Mama Diana menitikan air mata.


Di tempatnya berdiri.. Bang Rico mengepalkan tangannya kuat tanpa melihat langkah kaki Mama Diana yang pergi menjauh darinya. Tangannya mengepal kuat, sesaat kemudian air matanya ikut mengalir tapi ia segera menghapusnya kemudian berbalik badan dan memeluk Asya.


Danyon mengusap dadanya.


"Untuk semua yang berada disini.. tutup mata, tutup telinga, anggap semua ini tidak pernah terjadi.. kasus ini saya tutup dan tidak boleh ada yang membahasnya lagi..!!" perintah Danyon.


...


"Bang..!!" sapa Asya.


Bang Rico tidak merespon nya sampai Asya mengulang lagi panggilannya.


"Abang..!!" Asya mengibaskan tangannya di depan wajah Bang Rico.


Secepatnya Bang Rico menggenggam tangan Asya.


"Kepala Abang sakit sekali. Abang mau tidur sebentar"


Asya bersandar dan menarik nafas. Kejadian hari ini pun juga lumayan membuatnya syok. Sungguh ujian rumah tangga memang banyak macamnya.


Om Sobri mengintip dari kaca dalam mobil.


"Ijin ibu.. kita langsung pulang atau ke tempat lain?" tanya Om Sobri.


"Pulang saja Om. Suami saya butuh istirahat" jawab Asya.

__ADS_1


...


Asya mengompres kening Bang Rico. Tubuh suaminya itu mendadak demam tinggi. Asya tau saat ini bukan penyakit yang membuat Bang Rico seperti ini tapi semua ini karena ada luka dalam yang teramat sulit untuk di obati.


"Makan ya Bang?" tanya Asya kemudian mengusap air matanya.


"Abang nggak lapar sayang. Hanya pengen tidur saja. Kepala Abang sakit"


"Abang sudah tidur lama sekali. Apa Abang nggak pengen ngusap perut Asya?" bujuk Asya mengalihkan perhatian Bang Rico.


Perlahan mata Bang Rico terbuka. Apa yang di lihatnya terasa mengambang. Kemudian disana ada wajah Asya yang tersenyum padanya. Terlihat sangat cantik.


"Mungkin Abang egois, tapi bisakah kamu tidak meminta perpisahan itu, Abang hanya punya kamu, Gazha juga si baby kecil yang masih ada dalam perutmu"


"Dan bisakah lain kali Abang katakan dulu segala sesuatunya sama Asya? Asya tidak ingin tau segala-galanya tapi Asya hanya ingin di hargai sebagai seorang istri." pinta Asya.


"Iya sayang.. Abang janji mulai sekarang akan lebih terbuka sama kamu"


//


"Hhhkkkk.." Fasya merasa segala makanan yang di telannya terasa pahit padahal tadi ia sudah begitu lapar.


"Muntah lagi dek?" tanya Bang Pandu.


Fasya mengangguk lemas, ia berpegangan pada wastafel, perlahan selera makannya hilang.


"Kasihannya istri Abang. Sini Abang kerokin..!!" Bang Pandu mengusap bibir Fasya yang basah kemudian membawa Fasya ke kamar.


"Nggak mau.. sakiit"


"Terus maunya bagaimana? kamu masuk angin dek" kata Bang Pandu.


"Di urut saja satu badan" jawab Fasya sudah lemas.


Bang Pandu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tiba-tiba ia salah tingkah dan wajahnya tersenyum penuh aura mistis.


"Bener nih di urut?" tanya Bang Pandu.


"Iya Bang"


"Yuk laah..!! Abang tangani.. bagian urut mengurut.. serahkan sama Kapten Pandu" ucap Bang Pandu dengan wajah penuh harapan licik.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2