
Setelah mendengar keterangan dari Papa Garin dengan baik, berangkatlah Bang Rico menuju SD terdekat karena pastinya jajanan tersebut hanya ada di SD atau sekolah saja.
...
Dengan percaya diri Bang Rico menenteng kantong plastik berisi telur gulung.
"Sayangnya Abang.. ini pesananmu datang" kata Bang Rico.
Jihan tersenyum bahagia melihat tentengan Bang Rico, tapi setelah menerima dan membukanya raut wajahnya pun berubah.
"Kenapa bawa telur gulung Bang??????"
"Lhoo.. bukannya kamu minta ini?" tanya Bang Rico.
"Iiihh Abaaang.. Jihan nggak mau ini. Kenapa Abang nggak dengar omongan Jihan?????"
Bang Rico menepuk dahinya. Sudah jauh mencari telur gulung sampai harus antri berbarengan dengan bocah SD, kini Bang Rico harus menerima kenyataan bahwa apa yang sudah di belinya adalah salah besar.
"Jadi nggak mau nih?" tanya Bang Rico lagi.
Jihan terdiam melipat kedua tangan di depan dada.
"Ada apa?" tanya Mama Esa yang saat itu datang bersama Mama Fia.
"Jihan nih ma, minta rambut goreng. Saya sudah beli telur gulung, ternyata salah" jawab Bang Rico memasang wajah masam.
"Ya kamu memang salah Rico. Rambut goreng itu bukan telur gulung.. tapi Mie tek tek. Iya khan sayang?" Mama Fia membelai rambut Jihan.
"Iya Ma" Jihan senang sekali karena Mama Fia tak apa yang begitu ia inginkan saat ini.
"Ya salam.. apa hubungannya dengan kata goreng?????" Rasanya kepala Bang Rico mau pecah memikirkan permintaan sang istri.
"Abang tau, mie instan goreng saja buatnya tidak di goreng. Terus dimana salahnya Jihan?" tanya Jihan dengan wajah polosnya.
"Nggak dek, kamu nggak salah.. memang Abang sebagai staff Intel.. memang bodoh tidak bisa memecahkan masalahmu yang sepele itu" Bang Rico sudah pasrah tak ingin lagi berdebat dengan sang istri.
Mama Fia dan Mama Esa mengangguk. Tak lama Papa Sanca dan Papa Garin datang. Mereka berdua mendengar semuanya tapi juga memilih diam dan pasrah.
"Benar nggak pa??" todong Mama Fia pada Papa Sanca.
"Iya benar" pada akhirnya Papa Sanca pun tak bisa berbuat apa-apa.
"Ya sudah.. Abang jalan cari lagi, mau titip apalagi ini?" tanya Bang Rico.
__ADS_1
"Pocong ijo sama sayur Popeye" jawab Jihan.
"Astagfirullah hal adzim" Bang Rico hanya bisa mengusap dadanya karena semakin tak mengerti keinginan sang istri.
Para pria saling lirik tanpa menemukan jawaban apapun.
//
Demam Bang Vian berangsur pulih. Dirinya sudah di perbolehkan pulang esok hari.
"Besok ikut Abang pulang ya..!!" ajak Bang Vian.
"Pulang kemana Bang?" tanya Aira dengan wajah bingung.
"Pulang ke rumah dinas sama Abang" jawab Bang Vian.
"Surat nikah kita belum jadi, kita juga belum pengajuan nikah. Kalau kita di keroyok masa gimana Bang?" tanya Aira cemas.
"Ya kamu lah yang Abang serahkan." jawab Bang Vian enteng.
Aira melirik kesal. Tak pernah sehari pun dirinya melewatkan perdebatan dengan Bang Vian.
"Abang nggak nyesel kalau Aira di perebutkan banyak orang?" tanya Aira.
Aira tersenyum kecil mendengar jawaban Bang Vian. Suaminya itu selalu punya cara untuk berkomunikasi unik dengannya.
"Ya sudah, ini Aira mau ikut karena terpaksa ya..!!" Aira memalingkan wajahnya yang memerah sambil tersenyum tipis yang berusaha ia sembunyikan.
Bang Vian pun menunduk menahan senyum geli melihat ekspresi wajah Aira.
//
Jihan tersenyum lebar melihat Bang Rico menenteng lontong dan sayur bayam masak santan. Seketika itu juga Jihan meraihnya tapi Bang Rico menjauhkan kantong plastik itu dari tangan Jihan.
"Sabar.. ini panas. Biar Abang yang tuang, nanti tanganmu melepuh.. ini baru matang" kata Bang Rico kemudian menuang sayur Popeye yang di inginkan Jihan.
"Itu apa yah? Gazha mau" Gazha melompat di samping Bang Rico sampai tak sengaja kepalanya menyenggol lengan ayahnya. Bang Rico terkejut sampai kuahnya tumpah di tangan Jihan.
"Astaga.. dek..!!" pekik Bang Rico panik.
"Abaang..!!" Refleks Jihan menarik dan menggendong Gazha agar tidak terkena kuah panas.
"Abang nggak apa-apa?" tanya Jihan sambil menggendong Gazha.
__ADS_1
"Abang turun..!! Perut Mama tergencet badanmu Bang..!!" Bang Rico semakin panik dan mengambil alih Gazha dari gendongan Jihan.
Setelah Gazha beralih dari gendongannya, Jihan duduk dan bersandar perlahan.
"Kamu nggak apa-apa dek?" tanya Bang Rico melihat ekspresi wajah Jihan
Jihan mengangguk pelan.
"Iya Bang"
"Kalau terasa nggak enak bilang ya dek. Yang kamu gendong nih anak gajah. Lumayan terasa, jangan sampai itu yang di perut ngambek gara-gara Abangnya" kata Bang Rico.
"Nggak apa-apa Bang. Jihan hanya lapar saja" jawab Jihan tak ingin memperpanjang urusan ini.
***
Bang Vian berjalan perlahan masuk ke dalam rumah dinas. Kemarin.. para anggota pontang panting menuruti perintah Danton untuk renovasi rumah dalam waktu dua hari saja.
"Ini rumah kita, di samping Bang Rico" Bang Vian menegur Aira yang masih mengedarkan pandangan kesana kemari melihat rumah di hadapannya.
"Terlihat sudah lengkap isinya Bang" kata Aira.
"Lengkap lah, Abang nggak mau kamu kabur karena tidak nyaman tinggal di rumah ini" jawab Bang Vian.
"Ayo masuk..!!" terlihat Bang Vian masih sedikit menahan nyeri pasca operasi.
"Ini bagus Bang. Abang desain sendiri?" tanya Aira.
Entah apa saja yang di tanya Aira, Bang Vian tak tau lagi. Dirinya hanya terfokus pada Aira seakan tak ada objek lain dalam pandangan matanya.
"Jadi.. sekarang atau nanti Bang?" tanya Aira lagi.
"Haah.. apa dek?" Bang Vian tak tau apa yang sedang di tanyakan Aira.
"Ya sudah lah sekarang saja." Bang Vian berjalan menghampiri Aira dan langsung menyambar bibir manis istrinya itu.
Mata Aira membulat besar karena terkejut mendapatkan ciuman hangat penuh sensasi dari suami tercinta.
.
.
.
__ADS_1
.