Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
22. Inginnya bersama lagi.


__ADS_3

Pagi ini Asya lumayan mual hebat setelah berhari-hari merasakan tidak enak badan.


"Aku harus minum obatnya, hanya tersisa beberapa butir yang aku simpan di dapur" gumam Asya.


...


Bang Rico memercing merasakan panasnya terik sinar matahari. Ia berusaha membidik target di depan sana dari jarak dua belas meter, tapi sungguh siang ini dirinya tidak fokus. Satu kali tembakannya meleset tak terarah.


"Rico..!!!! Fokus kamu.. Masih latihan saja kamu sudah teledor..!!!" tegur keras Bang Yudha.


Tak sanggup menjawabnya.. Bang Rico tumbang sempurna.


"Ya ampun Rico.. apalagi ini????" Bang Yudha pun sigap membantu Bang Rico.


"Bantu saya donk..!!"


:


"Kamu ini mau pulang malah sakit. Kena malarindu?" tegur Bang Yudha.


"Iya Bang. Setiap hari terbayang Asya" ucap jujur Bang Rico.


Bang Yudha tersenyum sambil memberi 'tanda cinta' di punggung junior nya itu.


"Tumben ada kata-kata seperti ini. Letda Rico mulai jatuh cinta?" tanya Bang Yudha.


"Lah Abang. Seperti ABG aja cinta-cintaan" kata Bang Rico.


"Bukan cinta-cintaan, tapi cinta beneran. Dari awal sampai sini.. kamu banyak melamun, pasti kamu memikirkan Asya"


"Apapun itu, saya belum bisa berbuat lebih Bang. Asya masih sekolah. Saya nggak mau ganggu pikirannya dengan cinta yang berat. Cinta yang di lalui usai pernikahan lebih membutuhkan perjuangan daripada sekedar pacaran" jawab Bang Rico.


"Benar katamu Ric. Tapi kalau Abang dulu tidak berjuang sepertimu karena......"


"Netta khan sudah hamil anak Abang. Bingung, merasa bersalah. Tapi nyatanya anak memang menyatukan dua hati yang patah" ucap jujur Bang Yudha dengan hati-hati, cemas Rico dengan reaksi juniornya itu.


"Saya siap saja Bang kalau istri hamil. Namanya anak pasti akan saya terima. Tapi saya belum siap kalau Asya masih dalam keadaan seperti ini. Ada dua nyawa yang sangat berharga" entah kenapa kini tak ada lagi rasa cemburu atau sakit hati saat menyinggung soal Netta. Bayang Netta rasanya hilang begitu saja dari pikirannya.


Bang Rico melihat jam tangannya. Hari sudah semakin siang.. ia belum menghubungi Sobri untuk menanyakan keadaan Asya disana.


"Sudah Bang. Terima kasih, badan saya sudah enakan" ucapnya usai mendapatkan tanda kasih sudah di rawat Bang Yudha.


"Panas, tengah hari bolong begini kok masuk angin to Ric"


....


Asya merasakan kepalanya begitu sakit tapi ia berusaha pelan-pelan menyelesaikan ujian di hari kedua.


Dihembuskan nafasnya pelan agar pikirannya yang bercampur baur wajah Bang Rico menjadi jernih.

__ADS_1


"Asya baik-baik saja?" tegur Bu Ani karena melihat wajah pucat Asya.


"Saya baik-baik saja Bu" jawab Asya dengan senyumnya kemudian melanjutkan lagi tugasnya.


Tinggal dua nomer lagi.. Ayo yang kuat Asya. Pendidikan dasarmu harus tuntas.


Pelan-pelan Asya membaca perintah soal dan berusaha memahami


:


Asya berlari menuju toilet, rasanya sungguh kesal ingin bertemu dengan Bang Rico. Selama latihan ini bahkan pria itu tidak menghubunginya sama sekali. Rasa jengkel itu sampai membuatnya mual.


~


Perhatian pejalan kaki terus menatap seorang pria berbaju loreng tengah berjongkok muntah di tepi jalan.


"Makan apa aku sampai mual begini. Masa keracunan ubi jalar??" gumamnya kemudian kembali ke mobil. Tidak ada pusing atau gejala lain tapi tiba-tiba saja dirinya muntah tanpa sebab.


"Hhhkkkk.." Bang Rico kembali lagi ke tepi jalan saat rasa yang menyebalkan itu datang lagi.


"Astaga.. kenapa aku ini"


"Mas Rico?" sapa seorang wanita.


Bang Rico menoleh pada wanita yang masih asing di matanya. Keningnya berkerut saat menyadari ada Alice disana.


"Kamu??" Bang Rico terlihat malas melihat Alice disana.


"Nggak apa-apa. Masuk angin saja" jawab Bang Rico kemudian berjalan menuju mobilnya.


"Apa aku boleh ikut mobil Mas?"


"Maaf, saya harus jemput istri" tolak Bang Rico.


"Mas sudah menikah?"


"Hmm.. maaf, saya terlambat. Kasihan istri saya nunggu"


"Kenapa mas cuek sekali sama aku. Apa karena Netta?? Anak kecil itu terlalu berharga?????" tanya Alice kesal sekali. Bang Rico tak menanggapi Alice dan berlalu meninggalkan wanita itu sendiri di tepi jalan.


...


Asya melihat jam tangannya, tidak ada jemputan untuknya hari ini dan ia malas menghubungi Om Sobri hanya untuk minta jemputan.


Panas sudah semakin terik, perutnya keroncongan. Asya mengusap perutnya.


"Kenapa belakangan ini laparnya tidak bisa di tunda. Telat makan sebentar saja sudah pusing." gumamnya pelan.


Asya berjalan perlahan, ada warung nasi padang tapi seleranya bukan itu dan tiba-tiba rasa hatinya kesal dan ingin menangis kencang.

__ADS_1


Baru beberapa langkah berjalan, pandangannya mulai gelap dan kabur. Nafasnya sesak, tasnya jatuh di jalan.. Asya pun tumbang di pagar hidup trotoar jalan dan menimbulkan keramaian pengguna jalan.


"Ada apa itu ramai sekali" Bang Rico melongok melihat keramaian. Entah kenapa kali ini jiwa ingin taunya muncul tak seperti biasanya. Ia turun dari mobil dan ikut melihat keramaian itu.


"Ya Allah.. Asya..!!!!!" Bang Rico panik saat tau Asya pingsan di tepi jalan.


"Bapak kenal?" tanya seseorang disana.


"Iya Pak, biar saya yang antar pulang" jawab Bang Rico.


:


"Alhamdulillah.." setelah beberapa saat Bang Rico berusaha menyadarkan Asya, akhirnya Asya sadar juga.


"Abang?"


"Iya ini Abang. Kamu kenapa?" Bang Rico masih menggenggam tangan Bang Rico.


"Abang kemana saja?? Nggak pernah kabari Asya. Memangnya Asya ini satpam yang hanya Abang minta jaga rumah aja??." jawab Asya.


"Abang minta maaf, Abang khan harus konsentrasi dalam latihan, ini juga Abang turun mendahului karena ingat kamu"


"Ayo jalan..!! Asya lapar" ucap Asya ketus.


"Memangnya kamu nggak makan berapa hari sampai pingsan begini dek?"


"Jalan..!! Asya lapar..!!!" pintanya masih tetap cemberut.


Bang Rico menghela nafasnya dan menyalakan mesin mobilnya.


"Mau makan apa?" tanya Bang Rico merendahkan nada suaranya.


"Soto kikil" jawab Asya cepat.


"Cari dimana jam segini dek?"


"Abang khan tentara, masa hal seperti ini saja nggak tau"


"Ya Allah.. tentara juga nggak urus soto kikil dek" gerutu Bang Rico.


"Asya turun aja kalau Abang nggak mau antar cari"


"Ini khan Abang antar, memangnya Abang lagi gelantungan di atas pohon??" Bang Rico sungguh heran, setiap bertemu dengan Asya pasti ada saja keributan yang terjadi.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2