Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
52. Percobaan.


__ADS_3

Bang Rico sudah lumayan pulih. Ia memilih menemani Asya lagi. Sambil membaca ayat suci Al-Qur'an.. air matanya tidak pernah berhenti menetes. Kini sepuluh hari Asya tertidur.


Ada gerak jemari dalam genggaman tangannya. Bang Rico menghentikan menyuarakan ayat suci Al-Qur'an.


"Dek.. sayang..!!" sapa Bang Rico.


Perlahan mata Asya benar-benar terbuka.


"Alhamdulillah Ya Allah.. terima kasih..!!" Bang Rico memanggil petugas medis untuk melihat keadaan Asya.


:


"Alhamdulillah.. sudah melewati masa kritis, hanya tinggal menunggu masa pemulihan saja Ric." kata dokter senior.


"Nanti pindah ke ruang rawat biasa."


"Siap Bang..!! Terima kasih"


:


"Anak kita.. sudah nggak ada ya Bang?" tanya Asya terbata-bata membuat Bang Rico sangat sakit saat mendengarnya.


Bang Rico hanya tersenyum pedih melihat wajah polos Asya yang menahan tangisnya.


"Mungkin Tuhan menghukum Asya karena tidak becus menjadi ibu ya Bang, Asya kekanakan dan tidak berpikir panjang" kata Asya.


"Nggak sayang, yang salah Abang.. Jika saja Abang bisa mengulang semua, Abang akan menemuimu dan menceritakan apa yang Abang tau tentang Netta" jawab Bang Rico.


"Semua sudah terjadi Bang. Kita menangis darah pun anak kita tidak akan kembali"


Bang Rico terpukul sekali dengan ucapan Asya.


"Abang akan mengusahakan apapun biar kita cepat dapat momongan lagi" ucap Bang Rico. Dalam hati kecilnya sangat takut dan memeluk Asya dengan erat.


"Iya Bang" jawab Asya hingga kemudian tangisnya pecah di pelukan Bang Rico.


Sekuat-kuatnya Bang Rico berusaha tegar meskipun di dalam hatinya pun tak kuat merasakan semuanya.


"Makan dulu ya..!! Abang suapi, biar cepat sehat" bujuk Bang Rico.


"Asya nggak lapar Bang" jawab Asya sendu.


"Katanya minta dedek lagi. Harus sehat donk" senyum Bang Rico mengembang dalam keadaan hati pasrah tanpa daya.


Asya membuka mulutnya, ingin rasanya hati Bang Rico menjerit melihat semangat sang istri dalam bualannya, semua ia lakukan agar Asya bisa kembali pulih seperti sediakala.


***


Dua Minggu berlalu setelah Asya tersadar dari komanya. Ia sudah pulang ke rumah dan perlahan sudah bisa melakukan aktifitas nya kembali.

__ADS_1


"Hari ini ada tugas apa di Batalyon dek?" tanya Bang Rico.


"Memberi makan ikan saja, terus lanjut olahraga" jawab Asya.


"Jangan olahraga dulu. Kamu belum kuat" kata Bang Rico cemas.


"Asya sudah baikan kok Bang"


"Abang tau, tapi dalam rahim mu khan masih luka, masih basah" Bang Rico mengingatkan Asya.


"Ya sudah, Asya hanya ikutan nimbrung sama ibu-ibu aja"


...


"Terima kasih ya..!!" Bang Rico menerima sepaket besar kiriman dari luar negeri. Ia menghela nafas.


"Aku harus bisa.. demi Asya..!!"


Bang Rico membuka paketan itu dan isinya adalah obat-obatan khusus lelaki. Ia tau tidak mungkin meminta Asya untuk berjuang sendiri lagi. Ia pun akan berjuang menghadirkan si buah hati di tengah mereka.


"Oke dek.. ini buat kamu" gumamnya menyisihkan dua botol obat.


"Sisanya Abang yang tangani."


"Eehh.. butuh di uji coba dulu nggak ya, jangan-jangan nggak ada efeknya" Bang Riko menyisihkan delapan botol obat yang harus ia telan setiap hari.


"J****k.. paiiiiiittt" rasanya hampir muntah tapi Bang Rico menahannya.


:


Bang Rico memijat kepalanya. Tubuhnya memanas dan menegang.


"Abang kenapa?" tanya Asya.


Bang Rico tanpa sungkan langsung mengecup kening dan bibir Asya sekilas dan itu membuat Danyon gemas dan ketar ketir karena Bang Rico tidak bisa menyembunyikan perasaannya di muka umum.


"Mau volly dulu sebentar, lumayan cari keringat" jawab Bang Rico padahal ia sengaja mencari aktifitas agar l****o nya menurun.


Bang Rico membuka seragam luarnya.


"Saya ikutan ya..!!" kata Bang Rico langsung bergabung dengan para anggota.


"Siap..!!"


...


Para ibu-ibu muda dengan pekik khas nya bersorak menyemangati Danton tampan di Batalyon. Saat break.. Bang Rico mendekati Asya dan meminta minum dari air mineral yang dibawa sang istri.


Sorakan kembali terdengar saat Bang Rico bermain mata dengan istri tercintanya di pinggir lapangan.

__ADS_1


Om Sobri bersiul gemas melihat Dantonnya.


"Opo sih Sob.. isin..!!" tegur Bang Rico.


"Nggak apa-apa Danton.. sayang istri" Bang Rico menunduk tersipu malu tapi sesekali matanya masih melirik Asya.


:


Bang Rico melepas kaosnya yang basah terkena keringat dan memberikannya pada Asya. Tetesan keringat itu masih berlelehan dari ujung rambut jambulnya. Asya menyeka wajah suaminya tapi tiba-tiba Bang Rico menarik pinggang ramping Asya. Wajahnya menyerusuk ke sela lehernya. Deru nafas terdengar berat tertahan.


"Ngadonin dedek yuk..!!" ajak Bang Rico dengan suara paraunya di samping gudang senjata.


Asya terhenyak sejenak karena dirinya seakan tak ingin lagi menginginkan hal itu. Ia hanya menunduk tak sanggup menjawabnya.


"Asya nggak kangen sama Abang?" tanya Bang Rico padahal dirinya tau betul keadaan Asya, dan juga paham bahwa rahim Asya belum sepenuhnya pulih, tapi pengaruh obat itu sudah membuatnya hampir gila.


"Kangen Bang.. tapi......."


"Abang tau, ayo pulang..!! Kamu baru selesai datang bulan khan? Kita coba dulu..!!" bujuk Bang Rico.


...


Bang Rico nyaris frustasi.. satu jam menemani Asya tapi istrinya itu tak juga bereaksi.


Asya pun ikut frustasi karena tidak bisa melayani hasratt Bang Rico padahal ia tau suaminya sudah sangat menginginkan nya.


"Abang selesaikan saja. Asya nggak apa-apa kok" kata Asya.


Bang Rico tersenyum mencolek dagu Asya.


"Ya sudah lain kali kita coba lagi. Masih banyak waktu" Bang Rico menurunkan daster Asya dan berguling di samping istrinya lalu memeluknya sambil memejamkan mata. Nafasnya masih tak beraturan.


"Asya bantu Abang saja ya?"


Bang Rico semakin memeluk Asya.


"Nggak usah. Biar nanti jadi malam pertama yang kedua buat kita" jawab Bang Rico.


Ya ampun.. efek obat ini nggak main-main. Benar-benar harus ada lawan. Kalau tidak di lampiaskan.. beginilah hasilnya.


Bang Rico memilih membaca do'a dalam hati agar tidak terus merindukan Asya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2