Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
106. SP 2. 9. Bingung.


__ADS_3

Jihan memeluk Gazha yang tidur pulas. Suara keras mesin pesawat seakan tak mengganggu nyamannya mereka berdua. Tangan Jihan menutup telinga Gazha hingga putranya itu bisa tidur.


"Ijin Dan.. apa ibu mau pakai penutup telinga tambahan? Takut mabuk di ketinggian" kata seorang crew sedikit berteriak.


"Jangan.. kalau bangun jadi mabuk." tolak Bang Rico.


-_-_-_-_-


-Benar saja.. sampai di bandara transit yang pertama.. Jihan tidak mabuk. Ia masih sempat bercanda sedangkan Bang Rico mengawasi keduanya sembari mengobrol dengan rekan.


"Istri ya Ric?" tanya senior Bang Rico.


"Siap.." jawab Bang Rico dengan senyumnya.


"Masih muda sekali ya Ric"


"Siap Bang, lebih muda dari mamanya Gazha"


"Busyeeeett.. makanya kamu awet muda, punya istri muda" goda seniornya.


"Siaapp"


Kedua pria itu tertawa terkikik khas pria


...


Hari sudah maghrib saat mereka tiba di Kalimantan. Tanpa Bang Rico sadari, wajah Jihan sudah pucat.


"Selamat malam.. ijin memperkenalkan diri.. Saya Letda Avianto. Danton di Kompi B 'pertahanan' "


"Nggak usah resmi lah. Saya sudah capek" jawab Rico sambil menggendong Gazha.


Letda Vian tidak menjawab tapi matanya terus memperhatikan Jihan yang masih mengurus ini dan itu.


"Itu siapa Bang?" tanya Letda Vian karena dirinya sempat mendengar Bang Rico memanggil 'dek' pada Jihan.


Bang Rico pun menoleh dan mengikuti arah mata juniornya. Melihat Via begitu terfokus pada Jihan.. Bang Rico pun menegurnya.


"Lihat apa kamu" tangan Bang Rico menepak topi pet Bang Vian.


"Ijin Bang.. itu siapa ya?" tanya Bang Vian lagi.


Melihat wajah tegas Bang Rico paham lah Bang Vian kalau wanita yang tiba bersama seniornya itu adalah 'adik' Bang Rico. Ia pun tersenyum penuh arti.


...


Beberapa orang anggota yang ikut membantu Bang Rico serasa mendapat hiburan tersendiri karena melihat gadis secantik Jihan.


"Mbak Jihan butuh apa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pratu Dion.


"Nggak ada Om" Jawab Jihan.


"Masa di panggil Om.. saya khan masih muda, panggil Mas donk" kata Dion dengan gayanya yang malu-malu kucing khas seorang pria yang sedang mencari mangsa.


"Dek.. masuk dan temani Gazha..!!" perintah tegas Bang Rico tapi mata itu melirik Dion dengan kesal. Gemas sekali rasanya ada laki-laki yang berani menggoda Jihan di depan matanya.


"Kamu kembali ke barak..!!" mata itu terus saja mengawasi Dion.


"Siap Dan..!!"


...


Malam itu Bang Rico langsung menata kamarnya, entah kenapa perasaannya begitu kesal, uring-uringan tidak jelas.


tok..tok..tok..

__ADS_1


"Abang" sapa Jihan.


"Kenapa?" jawab Bang Rico sedikit ketus.


"Mau Jihan bantu tata kamarnya?" tanya Jihan.


"Hmm.. cepat masuk..!!"


Perlahan Jihan membuka pintu. Saat membukanya, dengan jelas ia melihat foto dirinya dan Gazha di sekeliling kamar. Tapi tak sedikit pula pose fotonya seorang diri.


"Ini.. kenapa ada foto Jihan Bang? Foto Mbak Asya dimana?" tanya Jihan merasa tidak enak.


"Di lemari Gazha."


"Lalu kenapa ada foto Jihan? Ini khan kamar Abang?" tanya Jihan lagi.


"Pertama.. ini kamar Abang.. jadi terserah Abang, kedua.. Abang ingin Gazha merasa nyaman karena ada fotomu di rumah ini, ketiga...... biar tikus di rumah ini pergi karena fotomu." jawab Bang Rico santai.


Hidung Jihan nyaris berasap mendengar jawaban Bang Rico yang menyebalkan. Jihan yang kesal seketika melompat menginjak kaki Bang Rico dengan kuat.


"Hiyaaaa.."


"Nih.. rasakan kekuatan ratu tikus" pekik Jihan kemudian pergi tidur ke kamar Gazha.


"Astagaaa.. ceker mu dek" Bang Rico menahan suarannya agar tidak terdengar nyaring.


"Berani ya kamu sama Abang.. lihat saja.. rumah ini belum Abang 'selametin', jangan coba panggil Abang kalau ada yang mengganggumu..!!!!!" ucap kesal Bang Rico.


...


Jihan sudah mulai mengantuk, sudah berjam-jam ia mencoba memejamkan mata, tapi kata-kata Bang Rico tadi membuatnya cukup merasa resah dan takut.


"Bang.." panggilnya karena malam itu terasa hening. Lingkungan baru Kompi B memang terletak di sekitar perbukitan.


"Nggak ada suara, cepat sekali laki-laki ngorok" gumamnya kesal.


Dalam tidurnya.. Jihan merasa badannya terbang, dalam gelap ia melihat sosok berbadan besar di atas tubuhnya dan membuka kakinya. Ingin rasanya berteriak memanggil Bang Rico tapi suaranya seakan tak sampai.. meronta pun tak bisa. Air matanya meleleh mengingat ucapan Bang Rico kalau di rumah itu masih berhantu.


"Aabaaang" suara itu akhirnya terlepas saat Jihan merasakan nyaman dan terbuai. Bahkan sampai bibir itu terbungkam.. ia pun ikut mend***h. Rasa lelahnya sampai membuatnya mimpi buruk.


***


"Hwaaaaaa....!!!!!!" Jihan terpekik saat melihat dirinya tidur di atas kasur kecil di depan ruang televisi.


Bang Rico pun terbangun dari tidurnya karena kaget mendengar suara Jihan.


"Astagfirullah.. jam berapa ini dek?? Kenapa teriak????"


"Bang.. cepat buat selamatan di rumah ini..!! Atau pindah saja Bang.. Semalam Jihan ingat Jihan tidur di kamar Gazha, tapi pagi ini.. Jihan pindah di depan ruang TV" wajah Jihan sudah pucat menceritakan pada Bang Rico.


"Makanya.. kamu jangan berulah di rumah ini. Dia itu mengincar wanita. Hanya wanita saja.. apalagi yang banyak tingkah, ngeyel, nggak mau nurut, suka berulah di rumah ini" jawab Bang Rico memasang wajah serius.


"Sebenarnya kamu mimpi apa?"


"Ehmm.. itu, anuu Bang" Jihan bingung bagaimana menceritakan apa yang ia alami semalam.


"Jihan nggak begitu ingat, tapi.. perut Jihan geli" jawab Jihan.


"Sekarang cepat kamu mandi.. mandi yang besar. Nanti Abang arahkan anggota biar bantu buat 'selametan' rumah ini"


Jihan mengangguk kemudian segera masuk ke kamar mandi.


Bang Rico pun tersenyum mengangkat alis.


"Setan?? Enak saja" gumamnya.

__ADS_1


"Bang..!!" panggil Jihan dari dalam kamar mandi.


"Ada apa?" Bang Rico segera menghampiri Jihan.


"Nggak tau caranya" kata Jihan.


"Sama seperti kalau kamu selesai dapat tamu bulanan" jawab Bang Rico.


"Tapii... beda kan niatnya"


"Apa Bang?"


...


"Apa mimpi juga pakai niat seperti ini?" gumamnya sambil membaca info pada aplikasi.


"Maa.. Gazha lapar" tiba-tiba Gazha membuyarkan pikiran Jihan.


"Waaahh.. si ganteng sudah lapar? Okeeyy.. ayo kita makan. Mama masak ikan tuna lho" kata Jihan kemudian menggendong Gazha menuju ruang makan.


~


"Astagfirullah.." Bang Rico mengusap dadanya.


"Kenapa sulit sekali menahan diri. Aku nggak mau kebablasan, kasihan Jihan kalau sampai aku khilaf tanpa kejelasan" sungguh Bang Rico merasa sangat bersalah tapi berada satu rumah bersama wanita memang sangat berat, terkadang gejolak di dada naik tiba-tiba tanpa bisa ia tolak.


"Apa harus sekarang aku ajukan nikah?" gumam Bang Rico, ia masih ragu melakukannya karena baru semalam ia tiba di tempat yang baru.


tok..tok..tok..


"Masuk..!!"


"Ijin Bang. Apa ada acara resmi untuk penyambutan komandan baru?" tanya Bang Vian.


"Nggak ada, Abang sudah ijin sama komandan kompi lama.. tidak usah ada acara. Abang juga belum ada pasangan resmi. Nggak enak lah" jawab Bang Rico.


"Siap Bang."


"Abang pulang dulu ya. Mau lihat anak" pamit Bang Rico.


:


Bang Rico melihat Gazha mengoceh sambil bermain mobil-mobilan sendiri.


"Mama mana Bang?" tanya Bang Rico.


"Cuci baju" jawab Gazha.


Bang Rico mengacak rambut Gazha lalu melihat Jihan sibuk sendiri.


"Baru datang kemarin, apa ada yang kotor, sprei juga masih baru pasang. Paling hanya baju khan? Nanti Abang bawa ke loundry" kata Bang Rico.


"Hanya sedikit nih Bang. Lagian sprei nya kotor.. seperti ada bau pemutih pakaian yang tumpah. Persis seperti badan Jihan waktu baru bangun tadi" jawab Jihan.


Bang Rico tersedak. Jihan pun mengambilkan air minum untuk Bang Rico.


"Abang ini apa sih? Diam saja kok bisa tersedak??"


Aseeemm.. mudah-mudahan saja rapi.


"Sudah.. kamu main sama Gazha saja. Biar Abang yang cuci sprei..!!" kata Bang Rico menyambar sprei di tangan Jihan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2