Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
88. Tak bisa menghindar.


__ADS_3

Bang Tino menjemput Bang Rico di lokasi yang sudah di share seniornya itu menggunakan mobil bak. Terlihat Bang Rico tak sanggup membuka matanya bahkan ada beberapa pengguna jalan yang mengira Bang Rico sedang mabuk-mabukan karena suami Asya itu terkapar lemas di pinggir jalan.


"Ayo saya bantu Bang..!!" Bang Tino menaikan lengan Bang Rico ke pundaknya agar ia bisa menyangganya.


Saat itu tak sengaja tangan Bang Tino memegang perut sixpack Bang Rico.


"Iiisshh.. lepas tanganmu itu..!! sejak awal kamu memang mencurigakan" kata Bang Rico.


Refleks Bang Tino melepas pegangannya karena cemas Bang Rico akan menyangka hal macam-macam.


bruuuugghhh..


"Tinoooooo..!!!!" Bang Rico jengkel sekali karena junior nya melepasnya begitu saja.


"Siap salah Abang..!!" Bang Tino kebingungan harus bagaimana caranya menolong senior yang amat sangat rewel ini.


"Kamu ini memang benar nggak niat bantu Abang..!!"


"Abang maunya bagaimana? Saya pegang.. Abang nggak mau, saya bantu.. Abang marah. Saya harus bagaimana Bang?" tanya Bang Tino.


"Kamu nyalahin Abang?? Cari mati kamu..!!" bentak Bang Rico.


Asya tau suaminya sedang begitu sensitif dengan Om Tino. Bang Rico melihatnya bagai parasit yang harus di singkirkan jauh. Asya pun membantu Bang Rico berdiri tapi tubuhnya tak cukup kuat.


"Harus kuat berdiri kalau mau Asya peluk" kata Asya.


Bang Rico pun sekuatnya bangkit perlahan karena tidak ingin memberi beban untuk Asya.


"Kamu naik di mobil.. angin kencang nih dek. Abang mau angkat motornya dulu" perintah Bang Rico. Angin malam ini memang kurang bersahabat.


"Kenapa harus ribet begitu sih Bang" tanya Asya.


"Jalan tikusnya lewat daerah rawan. Daripada berpencar lebih baik jadi satu saja" jawab Bang Rico.


:


"Pelan sedikit Tino.. kamu ini lagi bawa anak raja" suara Bang Rico meninggi dan hampir saja menjitak kepala Bang Tino kalau Asya tidak mencegahnya.


"Ini anak raja yang berwibawa Bang.. bukan raja yang suka jitak sembarangan" tegur Asya.


"Kamu nyindir Abang??" tanya Bang Rico masih jengkel.


"Sekarang disini siapa yang suka jitak??" jawab Asya.


Bang Rico pun bersandar kembali dan menyandarkan punggungnya lalu menatap jalan lurus ke depan.


"Terima kasih banyak mbak Asya.. sudah selamatkan nyawa saya" kata Bang Tino dengan senyumnya karena menghargai istri senior meskipun usia Asya jauh lebih muda.


"Sama-sama Om Tino" Asya pun tersenyum.

__ADS_1


Seketika Bang Rico menoleh mendengar jawab lembut Asya untuk Bang Tino.


"Manis sekali.. suamimu ada disini, kenapa manjanya sama Tino?????"


"Sudah mbak.. jangan di jawab. Saya masih muda, masih pengen hidup lebih lama lagi" jawab Bang Tino daripada harus ribut dengan seniornya yang cemburuan itu.


"Diam, fokus dan jangan banyak bicara..!!" ucap tegas Bang Rico.


"Siaapp"


***


Pagi ini, usai apel pagi.. Bang Rico masih saja melipat wajahnya apalagi saat melirik Bang Tino. Bang Yudha yang sudah mendengar kejadian semalam hanya bisa menggeleng melihat sikap Bang Rico yang kolokan seperti sifat perempuan.


Bang Yudha merangkul bahu Bang Tino.


"Jangan di ambil hati sikap si Rico. Senior mu itu hanya sedang terbawa suasana. Lihat saja tingkahnya itu, disaat yang lain sedang menata senjata.. Rico malah menyiram bunga-bunga di taman." kata Bang Yudha.


"Iya Bang, saya nggak ambil pusing dengan sikap Bang Rico. Saya heran saja, kenapa bisa begitu??


"Hahahaha.. nikah sana, biar tau rasanya" jawab Bang Yudha menepuk bahu Bang Tino.


~


Sambil merokok, Bang Rico memasang headset di telinga dan berlenggak lenggok cantik bagaikan Lisa Blackpink.


"Kamu ngapain Ric??" tegur Bang Yudha lumayan geli melihat gaya gemulai Lettu Rico.


"Oohh.." Bang Yudha sampai ternganga heran.


"Sini Bang, lihat nih..!!" Bang Rico menunjukan foto wanita cantik di ponselnya lalu memasang sebelah headset di telinga Bang Yudha.


"Body nya Bang. Buat ngilu dari ubun-ubun sampai kaki"


Bang Yudha yang tadinya tidak begitu paham dengan group wanita seperti itu tiba-tiba menjadi penasaran dan merebut ponsel Bang Rico.


"Waaooo.. kirim ke ponsel Abang..!!" Manis banget Ric" tanpa sadar Bang Yudha ikut bergoyang.


~


Asya dan Mbak Netta menuju taman bunga karena mereka akan pergi ke kota untuk acara persiapan kunjungan. Suami mereka sudah berjanji untuk mengantar.


Dari jauh terdengar suara kedua pria entah sedang membicarakan hal apa tapi terdengar Bang Rico terus memuji kecantikan seseorang dan Bang Yudha menyetujuinya.


"Kalau punya begini satu aja, saya nggak akan berangkat kerja Bang. Saya masukan terus ke dalam kamar, saya buntel pakai sarung" kata Bang Rico.


"Ya sama. Abang jepit terus di ketiak"


Suara tawa kedua pria tersebut begitu renyah tak menyadari kedua wanita sudah mendengar dengan jelas perkataan dua pria hilang akal tersebut.

__ADS_1


Asya melepas sepatunya sedangkan Mbak Netta menghantam kepala Bang Yudha dengan tas saking geramnya. Secepatnya Bang Rico memencet layar ponselnya berkali-kali dengan gugup.


Baru saja Bang Rico menoleh, hak sepatu Asya sudah mendarat sampai jidat.


"Allahu Akbar.. kenapa datang-datang sudah macam Trish Stratus aja kamu dek" Bang Rico menggosok jidatnya yang membiru dan bengkak.


"Siapa perempuan yang ada di ponsel Abang??" tanya Asya sudah memasang wajah tak bersahabat.


"Nggak ada"


"Abang mau melindungi tersangka?????? Atau jangan-jangan Abang yang punya perempuan lain????" nada suara Mbak Netta jadi meninggi.


"Nggak dek. Sini Abang jelaskan..!!" ajak Bang Yudha menarik tangan Netta menjauh dari Rico yang berusaha membujuk Asya.


~


"Abang selingkuh?" tanya Asya masih menegang sepatunya dan bersiap menghantam Bang Rico lagi.


"Eeeehhh.." Bang Rico langsung berjongkok dan menyilangkan tangan.


"Abang nggak berani selingkuh" jawab jujur Bang Rico.


"Kenapa?? takut di pecat??" tanya Asya tanpa perhitungan.


"Bukan"


"Itu tadi suara siapa???????" bentak Asya.


Bang Rico menelah ludahnya, detak jantungnya berpacu cepat.


"Aduuhh piye iki, dadi tratapen" gumam Bang Rico.


"Itu siapa???????" bentak Asya semakin keras.


"Lisa.. itu Lisa" jawab Bang Rico jujur.


"Lisa????????? Kapan Abang mulai hubungan sama Lisa itu??????" Asya pun semakin naik darah.


Dari jauh Mbak Netta juga mendengar Asya menyebut nama Lisa.


"Tadi Abang tertawa girang sekali. Giliran Netta tanya.. Abang diam seribu bahasa. Abang bahagia sekali ya bisa berebut perempuan bernama Lisa itu."


"Ya Allah.. nggak dek. Please jangan marah-marah" bujuk Bang Yudha duduk menunduk di hadapan Netta.


Netta pun mengangkat tasnya tinggi bersiap menghajar Bang Yudha.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2