
"Abang sakit dek.. nggak bisa buat kamu hamil lagi..!!!!" Bang Rico terpaksa mengatakan semuanya agar Asya bisa kembali lebih tenang.
"Nggak mungkin Selena hamil anak Abang."
Tak lama setelah mendengarnya.. Asya membuka pintu kamar. Terlihat Bang Rico begitu terpuruk.
Asya menarik kerah seragam Bang Rico lalu menamparnya kuat.
"Asya benar-benar minta kita pisah Bang..!!"
"Kenapa lagi dek?" tanya Bang Rico bingung.
"Terus anak di perut Asya ini anak siapa?? Berarti benar dia benar hamil anak Abang" pekik Asya.
Sungguh kaget hati Bang Rico sampai tertegun antara senang, bingung dan sedih. Ia langsung memeluk Asya dengan erat.
"Jangan bicara yang tidak-tidak. Jangan membuat Abang semakin sakit dengan semua harapan palsu itu"
"Tapi Asya memang hamil dan besar kemungkinan Selena juga mengandung anak Abang" kemarahan Asya semakin tak terkontrol lagi.
"Kita USG saja ke rumah sakit..!! Hanya itu jalan satu-satunya untuk kita agar bisa tau berapa usia kandungan Selena. Abang hanya menyentuhmu tiga kali di bulan lalu dan hingga saat ini kita belum melakukannya lagi, Abang juga ingin memastikan kalau anak Abang benar-benar sehat" jawab Bang Rico memberi saran pada Asya.
...
Sore ini Bang Rico baru bersandar di sofa usai mengurus segala sesuatunya untuk esok hari. Ia ingin semuanya segera terbongkar karena sudah lelah bertengkar dengan Asya.
Asya meletakan nampan berisi makan malam Bang Rico tak lupa dengan obat dari dokter lalu beranjak meninggalkan suaminya itu.
"Duduk disini dulu..!!" ajak Bang Rico karena itu artinya Asya sudah tau apa yang sedang ia alami.
Asya pun duduk di samping Bang Rico.
"Apa kamu tidak lelah selalu cek-cok sama Abang? Abang rindu sekali kebersamaan kita" ucap jujur Bang Rico. Ia menarik Asya agar bersandar di bahunya.
"Mungkin takdir kita harus seperti ini Bang" jawab Asya menurut saat Bang Rico memberinya perhatian.
"Jangan bilang begitu kalau masih ada cinta di antara kita. Besok Abang buktikan kalau kejadian bulan lalu itu murni jebakan dari Selena" kata Bang Rico kemudian mengecup kening Asya kemudian turun hingga ke bibir dan ternyata Asya pun tak menolak.
"Gazha sudah tidur?" tanya Bang Rico.
"Sudah" jawab Asya.
Bang Rico tersenyum getir.
"Abang tidak percaya diri.. karena Abang tidak seperti dulu lagi. Berat sekali di dalam hati karena Abang merasa tidak berguna.. membuat istri menangis dan tidak bisa 'menyenangkan' istri." pelukan untuk Asya semakin erat terasa. Ia ingin melanjutkan hal lebih tapi ia takut Asya akan kembali kecewa.
__ADS_1
Melihat suaminya menjaga jarak dengannya, Asya berinisiatif memulai lebih dulu.
"Saat di hotel itu, Abang tidak buruk. Kalau Abang ingin kita terus bersama.. buktikan kalau Abang mampu mempertahankan Asya" jawab Asya meskipun terdengar datar.
"Hanya itu syarat darimu?" tanya Bang Rico meskipun permintaan Asya terdengar konyol. Terlihat jelas Asya begitu gengsi mengungkapkan rasa rindunya karena tadi siang mereka sempat bersitegang.
"Hmm.." Asya memalingkan wajah dengan pipi yang memerah.
"Baiklah.. mudah-mudahan kamu nggak kecewa lagi" perlahan Bang Rico merebahkan Asya di sofa. Entah sejak kapan datangnya.. pertengkaran di antara mereka seakan memberi gairah tersendiri untuknya.
~
Bang Pandu melompati pembatas rumahnya dan Bang Rico tapi saat akan mengetuk pintu rumah itu.. sungguh kaget saat Bang Pandu melihat juniornya itu sedang mencumbu mesra sang istri.
"Jiangkriiiikk.. katanya ribut, apa-apaan nih" umpatnya kesal.
"Bener-bener dah si Rico. Nggak lihat ada di mana, main eksekusi aja"
Bang Pandu berjalan menuju meteran listrik lalu membuat daya nya menjadi nol kemudian mengurungkan niatnya menemui Bang Rico.
Asya sempat kaget tapi Bang Rico menahannya.
"Biar saja. Siapapun pasti akan mengerti, kita sedang berusaha baikan." Bang Rico kembali melanjutkan tugasnya lagi.
:
"Rico sedang ada urusan, lagi kusyuk ibadah" jawab Bang Pandu.
Fasya melihat jam dinding dan memang itu baru saja melewati jam sholat isya.
"Kalau begitu nanti saja Bang"
"Bagaimana kalau kita ibadah juga..!!" ajak Bang Pandu.
"Tapi adek sudah sholat Bang" Jawab Fasya.
"Nurut saja sama Abang..!!" Bang Pandu membawa Fasya masuk ke dalam kamar.
//
Bang Rico mengecup kening Asya. Terlihat rona bersemu merah di wajah Asya.
"Apa kali ini Abang mengecewakan?" tanya Bang Rico.
Asya menggeleng, ia tidak melepaskan rangkulan tangannya dari belakang leher Bang Rico.
__ADS_1
"Lagi??"
Asya mengangguk malu-malu.
***
Bang Rico menggandeng Asya menuju ruang USG. Disana sudah ada Selena dan ibunya.
"Kau masih percaya diri menggandeng tangan putraku. Ini Selena, calon madumu saja tidak bertingkah sombong sepertimu, padahal dia akan memberi calon pewaris tahta untuk kamu" sindir Mama Diana.
Kebetulan sejak pagi tadi Asya mulai mual.
"Duduk dulu dek..!! Sebentar lagi dokternya datang" Bang Rico terus mengusap punggung Asya.
"Pak Rico.. dokter sudah datang. Ibu siapa yang mau masuk lebih dulu?"
"Istri saya dulu. Istri saya sedang mual-mual nya" jawab Bang Rico membuat mata Bang Pandu, Bang Winata dan Bang Yudha terbelalak.
"Asya isi lagi Ric??" tanya Bang Yudha.
Bang Rico hanya mengedipkan matanya dengan senyum nakal.
Duduk disana wajah Selena berubah muram. Ia tidak ingin USG ini terjadi juga tidak suka melihat kebersamaan Asya dan Bang Rico yang ia harapkan akan ribut setelah kejadian kemarin.
~
"Iya Ric, lima minggu. Selamat ya. Tapi harus ekstra di jaga. Kamu paham khan maksud Abang?" kata dokter.
"Abang rasa mentalmu sudah stabil. Usahamu tidak sia-sia Ric. Tidak ada yang tidak mungkin.. istrimu masih bisa hamil lagi"
"Siap Bang." senyum itu tak lepas dari wajah Bang Rico. Di balik rasa sedihnya masih terbersit rasa bahagia karena dirinya mampu menjalankan fungsinya sebagai suami.
Asya tertegun.. ternyata selama ini ada beban yang suaminya itu simpan sendirian.
"Selena suruh masuk Ric. Kita cek untuk menyelesaikan masalahmu." perintah dokter.
"Kamu siap dek?" tanya Bang Rico.
"Iya Bang.. Asya siap"
.
.
.
__ADS_1
.