Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
27. Rasa yang paling jujur.


__ADS_3

Maafkan atas kesibukan Nara yang sulit untuk di tinggal. Harap maklum😥🙏🙏


🌹🌹🌹


"Sudah aahh.. Abang seperti bocah aja nih" Bang Rico malu sekali harus bertingkah seperti bocah dan merayu-rayu sang istri yang tengah kesal.


"Tapi Asya suka"


"Kamu lebih suka di buktikan atau di rayu?" tanya Bang Rico.


"Di sayang Abang dan hanya Asya satu-satunya"


"Bisa nggak ya?" Bang Rico seakan berpikir menggoda Asya.


"Abaaang iiihh.. ya sudah Asya pergi aja." Asya ingin beranjak tapi Bang Rico mencegahnya.


"Bercanda ma, masa sih papa harus katakan dengan jelas sejelas-jelasnya."


"Tapi Asya butuh kata itu Bang" kata Asya dengan tatapan mata imutnya.


Tangan Bang Rico melepas pengait kasur lantainya hingga terbuka lebar lalu merebahkan Asya perlahan disana.


"Kenapa wanita itu ribet sekali. Apapun yang pria katakan selalu salah. Terkadang penjabaran pria, berbeda dengan keinginan wanita"


"Karena pria sulit mengerti"


"Jika wanita lewat kata, maka pria lewat jalur tubuh. Itu karena pria akan selalu lepas dan pasrah untuk orang yang di cintainya" bibir Bang Rico kemudian membungkam bibir Asya yang hendak menjawabnya lagi.


:


Bang Rico tersenyum melihat Asya tertidur setelah menyatukan dirinya bersama Asya.


"Dasar.. ini mulut kalau nggak cemberut ya ngomel saja. Kalau marah.. bilang saja marah" Bang Rico menautkan keningnya di kening Asya dengan gemas.


"Kalau kata tidak menyelesaikan masalah kita, apa harus tubuh Abang yang menyelesaikannya?" Bang Rico menarik kain di samping Asya menutupi tubuh istrinya itu.


Bang Rico menyambar pakaiannya dan mengenakannya kembali kemudian mengangkat Asya pindah ke kamar tidur utama mereka lalu menyelimutinya.


~


Foto Netta sudah terkumpul semuanya, Bang Rico mengambil lakban kemudian mengikat dan mengunci semua foto Netta. Tak ada rasa sedih ataupun sesal dalam hati Bang Rico.


"Kamu memang indah, tapi Asya lebih berharga. Kamu dan bayangmu tidak lagi di terima di rumah ini. Hanya Asya yang berhak atas diriku dan hatiku. Abang tidak marah dengan takdir kita, karena dengan adanya hal ini.. Abang menemukan Asya, berkah dari Tuhan yang tidak bisa di tukar dengan apapun."


Bang Rico membuang semua benda yang berhubungan dengan Netta ke dalam tong sampah di rumahnya.


***

__ADS_1


"Kalau nggak kuat nggak usah masak dek..!! Istirahat saja"


"Asya capek diam terus Bang" jawab Asya.


"Ya sudah, kerjakan saja pekerjaan yang ringan. Kalau terasa nggak enak badan, cepat masuk dan istirahat.. hubungi Abang" kata Bang Rico sambil melahap nasi goreng buatan Asya yang ternyata sangat enak dan cocok di lidahnya.


"Iya Bang"


"Cepat duduk sarapan sama Abang..!! Jangan lupa vitamin sama susu di minum teratur" Bang Rico tidak melihat ada susu di atas meja.


"Mana susunya??"


"Eneg Bang, nanti dulu"


"Laahh.. kamu ini, banyak alasan" Bang Rico tak lagi menyelesaikan makannya, ia berjalan mengambil gelas lalu membuatkan Asya segelas susu ibu hamil lalu memberikan nya pada Asya.


"Vitamin sama susu jangan telat dek..!! Tahan sedikit dan minum pelan-pelan sampai habis. Ini nggak hanya mamanya saja yang lapar, si dedek juga lapar"


Bang Rico menunggui Asya meminum susunya sampai habis.


"Bang.. Asya nggak suka lihat rambut Abang" kata Asya tiba-tiba.


"Ya sabar, namanya juga di hukum. Sebentar juga tumbuh lagi. Kalau sudah tumbuh Abang cukur sesuai seleramu" goda Bang Rico sambil tersenyum nakal.


"Idiihh genit"


"Boleh.. asal Abang rela Asya racun." jawab Asya tenang.


Bang Rico tertawa lepas mendengarnya, kemudian wajahnya terlihat serius meskipun ada senyum manisnya.


"Abang nggak berani. Bukan karena racun, tapi karena sudah ada hati yang harus Abang jaga dan ada teguran untuk Abang. Dia bukti sayangnya Abang sama kamu, Abang yang memintanya" Bang Rico mengusap perut Asya, calon bayinya ini adalah ungkapan perasaan nya.


...


Matahari sudah semakin meninggi. Bang Rico melepas ranselnya dengan kasar. Ia pun membanting dirinya di atas rerumputan dengan kasar.


"Ya Allah.. rasanya lelah sekali" gumamnya lirih sembari mengatur nafas. Ia melihat jam tangannya.


"Cckk.. sebentar lagi kurve" tidak seperti biasanya ia begitu lelah hingga sendi terasa ngilu tak tertahan. Perut rasanya teraduk tak karuan.


Semakin lama rasanya semakin tak bisa di kondisikan.


"Acep.. tolong panggilkan orang kesehatan..!! Saya nggak kuat Cep..!!" pinta Bang Rico.


"Aduuuhh punggungku" ucapnya terus mengeluh.


"Siap Dan..!!" Om Acep pun berlari melaksanakan perintah Bang Rico.

__ADS_1


~


Asya mencabuti rumput di halaman dan merapikan semua bunga di halaman depan rumahnya.


"Naahh.. begini khan cantik"


Asya melanjutkan menyiram tanaman dengan hati bahagia, namun bahagia itu mendadak hilang karena ada seorang wanita menyapanya.


"Asya.. nanti sore ikut gabung olahraga yuk" ajak Mbak Netta.


Seketika kesal itu naik di ubun-ubun kepala.


~


"Piye to Ric??" Bang Yudha membantu Bang Rico yang kelojotan sedang mendapat perawatan dari petugas kesehatan.


"Kalem.. tarik nafas lalu buang perlahan..!!"


Setelah lumayan lama bergelut dengan rasa sakitnya, perlahan Bang Rico mulai tenang.


"Kalau memang sedang sakit, Abang lapor Danyon. Kamu pulang saja istirahat di rumah..!!" kata Bang Winata.


"Halah nggak perlu Bang, paling hanya sedikit capek saja." jawab Bang Rico.


"Pasukan kok loyo Ric. Biasanya kamu juga kuat aja. Kenapa sekarang lemes" tegur Bang Yudha.


"Nggak tau lah Bang. Mungkin drop saja. Kurang istirahat" Bang Rico masih memercing tidak nyaman.


"Wajarlah pengantin baru, kejar setoran"


"Setoran sudah full Bang. Tinggal besarkan properti saja" jawab Bang Rico.


"Hahaha.. ngawur"


Terdengar suara langkah kaki berlari d


menuju ruang kesehatan.


"Ijin Dan.. Ibu Rico...." nafas Om Acep terengah-engah.


"Istri saya kenapa Cep. Ngomong jangan setengah-setengah."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2