
Tengah malam saat semua sedang terlelap, Jihan menaikan pembatas ranjang agar Gazha tidak terjatuh dari tidurnya, tak lupa ia menyelimuti bocah gembul tersebut.
Karena Gazha sedang satu selimut bersama Bang Rico, otomatis selimut tersebut juga menutupi tubuh Bang Rico dan membuat duda satu anak tersebut terbangun, tapi karena samar ia melihat Jihan.. maka ia mengurungkan niatnya.
"Kamu rindu Mama ya? wajahmu begitu tampan.. pasti mama mu juga sangat cantik" gumam Jihan.
"Sabar ya sayang, kamu pasti kuat. Anak tentara nggak boleh lemah"
Rasanya Bang Rico ingin menangis, sebab ia tau betul kawan-kawan Gazha selalu mengejek putranya itu, dengan kata lain.. Gazha sudah menceritakan semua pada Jihan.
Apa sebegitu inginnya kamu punya Mama sampai kamu bercerita tentang hidupmu pada wanita yang baru kamu kenal.
***
Bang Rico memasukan semua pakaiannya ke dalam tas di bantu si kecil Gazha yang terus saja berceloteh entah meributkan apa.
"Yah.. teman Gazha sudah punya adik tuh" ucap Gazha.
"Abang Gazha juga mau punya adik khan, itu Mama Fasya perutnya besar.. sudah ada adiknya" kata Bang Rico.
"Itu adiknya Gilang. Gazha mau punya adik sendiri"
"Ya Allah le, Ayah mau buat sama siapa? Ada-ada lah kamu ini" gumam Bang Rico.
Lama kelamaan hatinya cemas juga kala sang putra terus menagihnya seorang adik.
:
"Iya lho Opa.. ada adik tuh bahagia, ada teman bermain, berenang sama-sama. Ayah Rico ini kapan mau buat adik untuk Gazha ya Opa?" celoteh Papa Garin.
Gazha terdiam tapi pikirannya terus merekam ocehan kedua Opa.
"Iya nih Opa, sebentar lagi adiknya Gilang mau lahir lho. Gilang ada teman bermain di rumah" jawab Opa Wira.
"Abang Gazha cepat bilang ke Ayah, suruh cepat buat adik..!! Nanti Abang kalah lho sama Gilang" Opa Garin mulai memanasi suasana.
"Iya Opa, tapi Gazha nggak punya Mama yang mau gendut" jawab Gazha dengan sedih.
"Hmm Bang, Tante Jihan cantik nggak?" tanya Opa Wira.
"Cantik.. Tapi Ayah nggak suka Tante Jihan. Ayah marah terus sama Tante Jihan" raut wajah Gazha berubah sedih. Kedua Opa tau betul kalau jiwa anak sekecil Gazha pasti tulus dan saat ini Papa Wira sungguh tulus jika memang Jihan mungkin akan menggantikan posisi almarhumah Asya putrinya.
"Sini opa bisikin" Opa Wira mendekatkan wajahnya di telinga Gazha.
"Bagaimana?"
"Okeeeey Opaa" senyum Gazha menjadi hiburan tersendiri untuk kedua Opa.
...
Siang terik, matahari menyorot di atas kepala Bang Rico. Dari jauh ia bisa melihat dengan jelas Gazha yang sedang minum es rasa jeruk di plastik.
"Apa aku pulang saja ya, ini sudah waktunya makan siang. Gazha pasti lapar" gumam Bang Rico.
Bang Rico masih berjalan pelan. Gazha ambruk di lapangan.. badannya kejang. Saat itu Jihan pun melihat Gazha pingsan di lapangan.
"Gazhaaaaa...!!!!!!!" pekik Jihan kemudian secepatnya memeriksa keadaan Gazha.
"Lho.. pingsan kok begini?" gumam Jihan padahal tangan nya masih gemetar.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam saja? bantu Gazha" tegur Bang Rico.
"Ini juga mau bantu Bang, tapi pingsannya aneh Bang"
"Aneh apanya? Kamu ini calon bidan.. masa nggak paham cara pertolongan pertama" bentak Bang Rico.
"Abang jangan marah sama Jihan.. Abang juga salah.. kenapa kasih ijin anak minum es seperti ini. Es yang begini bisa buat radang tenggorokan..!!!!!!!" suara Jihan tak kalah keras.
Bang Rico terdiam, ia juga bingung pikirannya terasa buntu.
"Kenapa jadi kamu yang ngomel"
"Cepat Abang bawa Gazha berteduh.. jangan tidur di lapangan..!!" perintah Jihan.
"Iyaa." Bang Rico mengangkat Gazha. Entah kenapa bibirnya juga tidak bisa berdebat dengan Jihan.
:
"Kamu bisa nggak?"
plaaaaakkk...
Jihan menepak lengan Bang Rico.
"Ini aneh Bang, denyut jantung Gazha normal.. nggak ada yang salah, wajahnya nggak pucat, matanya segar, yang jadi pertanyaan.. kenapa Gazha belum sadar"
Jihan mendekatkan wajahnya ke telinga Bang Rico, pria itu sedikit menghindar tapi akhirnya menurut saat Jihan menarik lengannya.
"Matanya berkedip" bisik Jihan.
Bang Rico pun ikut memperhatikan wajah putranya.
Bang Rico menoleh di sekitar, tak ada siapapun disana.
Kenapa Gazha bertingkah seperti ini?.
"Sebenarnya Abang mau bilang apa? Kenapa minta Jihan datang kesini?" tanya Jihan.
"Haahh.. kapan?"
"Tadi khan Abang kirim pesan suara" kata Jihan.
"Sejak kapan kamu sama Gazha bertukar nomer ponsel?" tanya Bang Rico heran.
"Mana rekaman suaranya?"
Jihan memberikan ponselnya. Terlihat nama Baby kecil disana.
Bang Rico mendengarkan suara itu.
▶️ G : Tante, cepat ke kantor Ayah.. ayah mau bicara penting sama Tante.
▶️ J : Ada apa Gazha? Tante masih ada jam kuliah nih.
▶️ G : Ayah mau tanya, kenapa setiap malam nggak bisa tidur, jantung berdebar, hati berdesir, badan tegang, suara berat, lebih emosional dan tidak tenang.
Wajah Bang Rico memerah, matanya melotot mendengar ucapan Gazha.
Astagfirullah.. benar-benar menjatuhkan harga diri. Ini pasti ada dua dukun beranak di belakang ucapan Gazha.
__ADS_1
"Nggak usah di dengar, ibu bukan Gazha" kata Bang Rico kemudian mengembalikan ponsel Jihan.
"Ini khan suara Gazha" jawab Jihan.
"Kamu pikir lah, mana ada anak belum genap empat tahun tapi sudah bicara begitu. Papamu dan Papa mertua saya pasti sudah rapat besar-besaran" kata Bang Rico.
"Rapat apa sih Bang? Jangan asal tuduh"
"Sudahlah.. saya titip Gazha sebentar..!!" Bang Rico meninggalkan Jihan dan Gazha yang masih memejamkan mata.
Selepas ayahnya pergi, Gazha membuka mata dan yang ia lihat pertama kali adalah wajah Jihan.
"Assalamualaikum.. sudah sadar?" tanya Jihan lembut. Gazha pun masih bingung tapi senyum Jihan sungguh membuatnya tenang.
"Kalau ada yang mengucap salam.. harus di jawab dulu"
"Wa'alaikumsalam.. Tante Jihan"
"Pintar... Kita makan siang yuk..!!" ajak Jihan.
//
"Ijin.. kenapa Komandan dan Papa mertua saya mengajari Gazha yang tidak-tidak?"
"Kamu nuduh kita berdua" jawab Dan Garin memasang wajah tanpa dosa.
"Siap salah.. tidak Dan.. saya hanya bertanya, karena tidak mungkin Gazha bisa berucap seperti pria dewasa yang sedang bergairah. Tolong jangan macam-macam. Gazha masih kecil" tanpa takut Bang Rico menegur kedua Opa rusuh tersebut.
Papa Wira menghela nafas panjang. Mau tidak mau ia harus mengakui karena sifatnya tidak sekonyol seniornya.
"Sebelum marah, dengarkan ini dulu. Ini suara hati putramu. Papa rekam satu minggu yang lalu tanpa rekayasa" Papa Wira menyerahkan ponselnya.
Bang Rico pun menerimanya. Awalnya terdengar suara sang putra bernyanyi dan tertawa gembira bercanda dengan Opa Wira dan Opa Garin, tapi kemudian Gazha berceloteh.
Gz : Opaa.. malas aahh setiap bermain hanya sama laki-laki terus. Mandi sama Ayah, makan sama Ayah, main Ayah, tidur juga sama Ayah.
W : Ini khan sama Opa, nggak sama Ayah.. sama Opa Garin juga nih.
Gz : Gazha pengen sama Mama, Gazha pengen punya Mama. Pengen punya adik juga.
W : Ada Mama Fasya tuh.
Gz : Itu mamanya Gilang.
W : Terus maunya Gazha bagaimana?
Gz : Opa Garin.. kalau Tante Jihan jadi mamanya Gazha.. boleh nggak?
G : Kenapa sih cucu Opa sedih? Sini cerita sama Opa Garin.
Gz : Nggak ada yang mau main sama Gazha karena Gazha nggak punya Mama. Gazha anak kutukan khan Opa?
Bang Rico mengusap wajahnya, hatinya sungguh lemah bila berhadapan dengan sang putra.
.
.
.
__ADS_1
.