Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
32. Ingin selesai.


__ADS_3

Yang tidak suka gaya bahasa Nara.. bisa di tinggal tanpa comment..!! Terima kasih 🙏..!!.


🌹🌹🌹


Sore hari Bang Rico sudah lebih baik. Ia membantu Asya menyapu halaman depan rumahnya.


"Dek.. Adek..!! Ada pakde sayur tuh. Beli sayur nggak?" tanya Bang Rico dari luar halaman.


"Papa Ico.." sapa Lingga berlari-lari menghampiri Bang Rico.


"Hai ganteng.. lama sekali kita nggak main sama-sama" Bang Rico langsung membuang sapu di tangannya dan menggendong Lingga, putra Bang Yudha dan Netta.


"Kamu mau belanja dulu dek..!!" tanya Bang Rico.


"Iya nih Bang. Asya nggak belanja?"


"Nggak tau tuh, dari tadi nggak dengar Abang panggil" jawab Bang Rico.


"Kamu belanja saja, biar Lingga sama Abang"


Mereka tak tau jika di dalam sana ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka.


Kenapa Abang dekat sekali sama Lingga putranya Bang Yudha. Eehh.. sampah di belakang sudah Abang bakar apa belum ya, ada banyak hal yang belum sempat aku baca.


Asya berjalan ke belakang rumah dan mencari benda yang sudah di buang Bang Rico kemarin.


~


"Berkas data pernikahan Bang Yudha, resmi naik di pusat setelah ada Lingga. Tapi berkas resmi yang ini hanya intern Batalyon saja. Mana yang benar?" gumam Asya meneliti satu persatu berkas itu.


"Disini.. ada salinan berkas kelahiran Lingga, tapi kenapa penanggung jawabnya.. Bang Rico. Ada foto kebersamaan Bang Rico dan Mbak Netta di tahun yang sama. Ini Bang Yudha yang menikung, atau.... jangan-jangan.. Lingga anak Bang Rico???????"


Asya kembali ke depan rumah. Ia melihat kedekatan Bang Rico dan Lingga, bahkan terdengar pria kecil itu memanggil Bang Rico dengan sebutan 'Papa'.. Papa Ico.


"Sebenarnya ada apa? Hatiku sampai sakit melihatnya" gumam Asya.


"Nggak Asya.. kamu nggak boleh berburuk sangka sama suamimu..!! Percayalah.. Bang Rico tidak mungkin bohong" ucapnya menenangkan hatinya sendiri.


...


"Jalan yuk dek..!!" ajak Bang Rico.


"Kemana Bang?" tanya Asya.


"Cari hadiah untuk Lingga. Besok dia ulang tahun" jawab Bang Rico.


"Oohh.."


"Kok Oohh.. cepat ganti pakaian" perintah Bang Rico.


Asya segera berganti pakaian, ada sedikit kesal karena seolah Bang Rico tidak memperhatikan dirinya, besok juga hari ulang tahunnya tapi Bang Rico hanya mengingat ulang tahun Lingga saja.

__ADS_1


:


"Kenapa nih diam saja? sakit gigi?" tegur Bang Rico karena Asya lebih banyak diam dalam perjalanan.


"Besok hari apa Bang?"


"Jum'at"


"Ulang tahun siapa?"


"Abang khan sudah bilang ada ulang tahun Lingga." jawab Bang Rico.


"Kalau tanggal dua puluh seminggu yang lalu??"


"Netta" jawab Bang Rico tanpa sadar kemudian ia menyadari kekeliruannya.


Asya tersenyum simpul tapi tak menjawab apapun lagi.


Bang Rico kelabakan karena istrinya itu mendiamkannya. Sungguh tak ada niatnya seperti itu.


"Maaf Abang salah"


"Abang nggak salah. Siapa yang bisa menghindari kenangan, seperti halnya Papa yang tidak pernah bisa lupa Mama Adinda" jawab Asya berusaha tegar.


"Hanya ingatan saja dan tidak ada niat apapun dek"


"Asya tau Bang. Sudahlah..!!"


...


"Bagus yang mana ya?" Biru atau merah?" tanya Bang Rico.


Asya seolah tidak mendengar pertanyaan Bang Rico dan meninggalkannya sendirian.


Langkah kaki Asya berjalan ke toilet mall.


"Oohh.. mungkin Asya mau buang air kecil" gumam Bang Rico.


...


Asya mengikat rambutnya tinggi saat mereka duduk di bangku food court. Ada seorang pria terus memandangi Asya bahkan memberikan kode yang tidak baik dan Asya hanya tersenyum saja.


Bang Rico yang baru kembali dari kasir menatap keduanya dengan tatapan kesal.


"Apa-apaan kamu dek???" tegur Bang Rico.


"Heehh kamu.. pergi dari tempatmu atau saya patahkan tulang lehermu..!!"


"Selama Janur kuning belum melengkung.. dia masih bisa di miliki..!!"


"A*u.. matamu..!! Dia itu istri saya..!! Kamu mau mengganggu istri orang??????" bentak Bang Rico.

__ADS_1


Betapa kagetnya pria itu sampai mundur teratur meninggalkan Bang Rico yang masih menatapnya dengan tatapan menusuk.


~


"Abang marah??"


"Asya nggak marah lho kalau Abang perhatian sama Lingga"


"Ngomong apa sih kamu. Ngelantur nggak jelas..!!"


"Abang yang nggak jelas..!!"


Bang Rico mulai curiga dengan perubahan sikap Asya. Ia mendekati wajah Asya... tercium samar bau alkohol. Tapi sikap anehnya juga menunjukan kalau Asya pasti baru saja mengkonsumsi obat haram.


"Ayo pulang..!! Sudah malam..!!" ajak Bang Rico merendahkan suaranya agar tidak menimbulkan keributan.


"Ke mana?? Ke langit ke tujuh?? Atau gubug derita.. Hahahaha"


"Asyaa.. Astagfirullah..!!"


:


"Nggak mau.. Asya mau terbang, mau mengadu punya suami yang nggak sayang sama Asya." ucap Asya terus mengoceh.


"Mbak Netta.. mantan terindah Abang. Iya khan?"


"Astaga.. apalagi kamu ini dek. Mantan ya mantan.. nggak ada lagi di pikiran Abang" jawab Bang Rico.


"Berarti di hati Abang.. Hayoo ngakuuuu..!!!" Asya tertawa terbahak tapi matanya basah. Bang Rico begitu sakit melihat istrinya seperti ini.


"Ya Allah.. Abang tau kamu kecewa dek..Tapi sumpah sudah nggak ada lagi rasa di hati Abang..!!" Bang Rico menepikan mobilnya lalu mengambil Sling bag milik Asya, ia menggeledah seluruh isi di dalamnya dan benar saja, ada dua batang rokok dan setelah Bang Rico sekilas menghirup aromanya.. ia tau Asya sedang mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Bang Rico mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


"Dari siapa kamu dapat obat ini lagi??"


Asya sudah tak menggubris ucapannya Ndan terus meracau tidak jelas. Air mata Bang Rico ikut turun.


"Kalau kamu kesal.. kenapa kamu tidak marah saja sama Abang? Kenapa kamu malah menyakiti anak kita???? Dia salah apa sampai harus ikut menerima semua amarahmu????" bentak Bang Rico.


"Sepulangnya dari sini.. kita temui Bang Yudha dan Netta untuk meluruskan semua..!! Abang nggak mau kamu terus menyimpan beban pikiran seperti ini..!!"


...


"Mau di jelaskan bagaimana Ric.. Asya saja tidak sadar. Dia masih meracau. Abang harus tanya Netta, apa dia siap dengan masalah ini"


"Terus saya harus bagaimana Bang. Lihat Asya seperti ini.. batin saya nggak kuat, kasihan yang di dalam perut juga" jawab Bang Rico.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2