Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
120. SP 2. 23. Vian vs Aira.


__ADS_3

Bang Vian melirik Aira yang sedang menata kayu bakar untuk api unggun nanti malam.. tapi semakin di lihat.. Aira bukannya menata dan malah semakin membuat berantakan.


"Kalau nggak bisa bantu.. lebih baik diam. Kasihan yang lain malah jadi sibuk karena ulahmu. Duduk sana..!!" perintah Bang Vian.


"Segala sesuatu di dunia ini tidak akan beres tanpa sentuhan tangan wanita..!!" ucap ketus Aira.


"Ya.. memang itu benar, asalkan bukan kamu wanitanya.. dan Abang juga ragu kalau kamu itu wanita. Karena tingkahmu itu lebih mirip tupai" Jawab Bang Vian.


"Waahh.. butuh di buktikan ternyata" Aira mendekati Bang Vian lalu melepas satu buah kancing di kemejanya.


"Mau apa kamu??" tegur Bang Vian kelabakan.


"Ya mau buktikan kalau Aira ini perempuan dan memastikan dengan mata kepala Aira sendiri kalau Abang pasti tergoda, kecuali.... Abang nggak doyan perempuan"


"Oohh begitu, nampaknya kamu sudah lihai sekali menjinakan para pria. Kalau begitu.. boleh nih Abang test" Bang Vian tersenyum nakal. ia menaikan sebelah alisnya. Tangannya sudah melonggarkan kuncian ikat pinggang di depan mata Aira.


"Ayo ke ruangan Abang..!!" bisik Bang Vian meremang hingga bulu kuduk Aira berdiri.


"Aaahh.. ehhmm.. Aira masih ada tugas penting" jawab Aira kemudian ngacir mengambil langkah seribu.


"Hahaha... penakut saja sok nantang. Abang tangani betul jadi apa kamu. Jangan sampai ya Abang gosok terus nasibmu sama seperti Jihan" Bang Vian terkikik geli sampai kemudian tawa itu hilang.


"Aseeemm.. beneran baper nih gue" ucapnya lirih kemudian menata sisa kayu yang sudah di obrak-abrik Aira.


...


Bang Rico benar-benar mencemaskan si kembar demplon yang tidak bisa diam, ada saja yang di lakukan dua wanita itu sampai Bang Rico harus mengawasi istrinya dan akhirnya diam-diam juga mata Bang Vian terus mengawasi Aira.


Aira dan Jihan riang sekali. Mereka terus tertawa bagaikan tidak memiliki masalah hidup sama sekali.


"Lama-lama Abang cemas sekali sama mereka. Niat mereka itu baik, tapi malah buat berantakan dan ujung-ujungnya menyusahkan kita" kata Bang Rico mengeluh.


"Di awasi saja Bang. Kalau ada tanda bahaya ga kita tegur." jawab Bang Vian.


Belum sempat bibir mereka tertutup.. Aira dan Jihan berjalan mendekati api unggun. Aira membawa kantong plastik di tangannya.


"Laahh.. kantong itu?? Mau di bawa kemana ituu" pekik Bang Vian.


"Apa Vian??" seketika Bang Rico ikut panik.


"Yang di bawa Aira itu p******x Bang, kalau kena api nyaut" jawab Bang Vian sambil berlari menghampiri Aira.


"Walah dalah.. piye to Viaann..!!" Bang Rico pun sampai ikut berlari karena mencemaskan Jihan.


Benar saja, saat Aira menuang minyak tersebut.. api langsung berkobar besar.


"Awaaass dek..!!" Bang Vian langsung berbalik memasang punggung dan memeluk Aira sampai tidak sengaja sempat menabrak Jihan. Panasnya api itu rasanya seperti membakar punggungnya.

__ADS_1


"Aaaahh" Jihan terpelanting tapi Bang Rico bisa menahannya.


"Ya Allah dek.. kamu nggak apa-apa?" Bang Rico sangat cemas dan langsung memeriksa keadaan Jihan.


"Mana yang sakit? Lecet nggak?" tanya Bang Rico cemas.


"Nggak Bang, Jihan baik-baik saja.. hanya kaget" jawab Jihan.


"Beneran dek??" Bang Rico masih memastikan. Ia kebingungan melihat disana sini badan Jihan mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Jihan mengangguk mengiyakan.


"Raaa.. " Bang Vian menepuk pipi Aira yang terasa berat dalam dekapannya.


Secepatnya Bang Vian mengangkat Aira dan membawanya ke dalam ruangan nya.


...


"Bagaimana??? Cepat periksanya Bang..!!!!"


"Kaget saja ini." kata Bang Najib dokter di rumah sakit tentara.


"Abang bisa tangani atau tidak? Masa Aira belum sadar juga?" tanya Bang Vian.


"Eehh Vian.. seumur-umur Abang jadi dokter, baru kali ini Abang di remehkan seseorang dan dia juga seorang perwira. Apa kamu pengen Abang suntik lumpuh?" gertak Bang Najib.


"Memangnya dia siapamu?? Calon istri???" tanya Bang Najib.


"Siaap" jawab Bang Vian dengan senyum yang membuat wajahnya memerah.


"Oohh pantas. Sepertinya Dan Sanca bakal punya mantu urakan macam kamu Vi" ledek Bang Najib.


"Jelas donk.. Plus sebentar lagi kuberikan cucu yang lucu." ucap Bang Vian datar dan terus memperhatikan wajah Aira.


"Siapa yang mau punya cucu??" tegur Dan Sanca. Suaranya menggelegar dan membahana di seluruh ruangan.


"Siap tidak Komandan.." jawab Bang Vian tegas.


"Eehh Vian, kapan kamu ndulit wijen?" tanya Papa Garin tak kalah heboh.


"Siap tidak berani komandan" Bang Vian mulai ketar-ketir melihat tatapan tajam kedua komandannya.


"Waahh San.. nggak ngaku. Cucumu nggak aman" kata Papa Garin.


"Beraninya kamu Vian..!!!!!!!!"


buuugghhh... baagghh.. buuuugghhh...

__ADS_1


Dan Sanca menghajar Bang Vian habis-habisan. Dokter Najib pun sampai kewalahan tak bisa memisahkan pertikaian itu sedangkan Papa Garin langsung asyik bermain game perang favorit nya.


"Kamu apakan putri saya????" bentak Dan Sanca sudah sangat emosi.


"Sudah San, jangan emosi begitu. Tunggu saja bulan depan.. kalau benar kejadian ya nikahkan saja putrimu..!!" saran Papa Garin.


"Ngomong opo kowe iki Gar..!!!!!!"


...


Aira menggeliat kesakitan, punggungnya terkilir. Papa Sanca menginterogasi Bang Vian dan Aira di ruangan milik Bang Vian.


"Sebenarnya tadi kenapa sampai punggungmu terkilir?" tanya Papa Sanca.


"Di peluk Abang Vian." jawab jujur Aira sambil melirik Bang Vian.


"Kok bisa kamu peluk-pelukan segala?"


"Soalnya tadi Abang meledakan sesuatu"


"Apa??? Kamu jangan main-main Aira.. ngomong yang jelas.


"Bukan Abang dek.. kamu yang mulai"


"Mulai apa??? Kalian berdua berbuat apa??" Papa Sanca semakin cemas melihat ekspresi muda mudi di hadapan nya.


"Kenapa daritadi Abang cari perkara terus?? bukannya Abang yang mulai sampai mau pembuktian segala" jawab Aira.


"Kamu ini.. itu Khan kamu.. kamu.. kamu.. hilang ingatan kah kamu??" ucap Bang Vian sedikit lebih keras.


"Nggak ada yang mau ngaku juga??? Lebih baik kalian kawin saja. Jangan sampai cucu Papa launching duluan..!!" bentak Papa Sanca semakin emosi.


"Ya sudah lah Dan.. kalau mau kawin ya kawin saja. Manut saja saya" jawab Bang Vian pasrah.


"Sudah di bilang saya tidak macam-macam"


"Bohong Pa, Abang mau macam-macam" pekik Aira.


"Diam kamu Aira. Bikin pusing saja..!!" Bang Vian dan Papa Sanca kemudian saling menatap dan memalingkan wajah.


"Jiiaann tenan kok Aira gawe molo" gerutu Bang Vian pusing sendiri.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2