Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
66. Goyah.


__ADS_3

Bang Rico menanda tangani surat untuk tindakan operasi Asya. Terdengar suara rintihan dan jeritan yang semakin menyayat hati.


Baru saja Bang Rico akan melangkah kembali ke ruangan sebelah, ruang tempat observasi Asya.. seorang bidan datang ke ruangan dokter As.


"Permisi dok, sekarang sudah dalam bukaan tujuh" lapor seorang bidan.


"Ya Tuhan.. anakmu ini tidak sabaran sekali. Apa anakmu balas dendam karena ayahnya tidak pernah menemani mamanya???" guma kesal dokter As.


"Ayo Bang.. kita lihat kesana"


~


Kaki Bang Rico baru berhenti di depan kaki Asya tapi istrinya itu sudah mengejan sekuatnya.


"Asyaa.. jangan..!!!!!!!" pekik panik dokter As.


Bang Rico terpaku bingung, tapi tepat saat itu. Seakan menghabiskan sisa tenaganya.. Asya mengejan hingga bayi kecil itu meluncur mulus sampai di tangan Bang Rico sendiri.


"Allahu Akbar..!!!" ucapnya segera sadar dengan apa yang terjadi.


Refleks Bang Rico memeluk bayi kecil itu, bayi laki-laki yang kemudian menggeliat kecil dan suara tertahan.


Perawat mengambil alih bayi dalam dekap Bang Rico.


"Sabar Ric, biar Abang tangani bayimu..!! Kamu sama Asya dulu" perintah Bang As.


~


"Asyaaaaa.... bangun dek..!!!!" Bang Rico mengguncang Asya dan berteriak tak karuan, suara itu sampai membuat Papa Wira ikut panik di luar sana.


"Biarkan Asya memejamkan matanya dulu Ric. Dia lelah sekali" kata Dokter As.


Terdengar helaan nafas panjang dari Bang Rico. Sungguh ia begitu cemas melihat keadaan Asya. Tangan istrinya begitu dingin, tubuhnya lemas dan wajahnya sangat pucat.


" 'Jalannya' bengkak Ric, istrimu terlalu memaksa, juga robekannya harus mengalami beberapa jahitan dan.. ada pendarahan." dokter As menerangkan keadaan Asya.


"Ya Allah.. jantungku rasanya Bang..!!" Bang Rico memercing kesakitan. Ia langsung terduduk karena syok mendengar keadaan Asya. Tangan itu terus menggenggam kuat tangan istri cantiknya.


"Kamu juga butuh banyak istirahat Ric. Lukamu juga butuh pemulihan" kata dokter As kemudian mengambil alat medis untuk menjahit ulang luka Bang Rico.


~


Bang Rico hanya terdiam, tanpa bius seakan ia tidak merasakan tusukan demi tusukan untuk menutup luka yang kembali terbuka di tubuhnya. Mata itu terus mengawasi Asya. Sekantong infus dan sekantong darah masuk ke dalam tubuh Asya. Kali ini Bang Rico tidak bisa membantu apapun karena dirinya sedang terluka parah.


Tak lama.. Bu bidan membawa bayi Bang Rico untuk di adzani.

__ADS_1


"Bapak mau mengadzani si ganteng?"


"Iya Bu, biar saya adzani bayi saya" kata Bang Rico.


Jahitan pun sudah selesai, Bang Rico mengambil air wudhu.


~


Suara itu terdengar merdu mendayu, tetesan air mata Bang Rico sungguh tidak bisa di tahan membuat semua yang melihatnya ikut terhanyut.


Setelah selesai, Bang Rico mencium wajah putranya. Ia mengambil kalung dari kantongnya.


"Selamat datang jagoan Ayah. Hergazha Himalaya Alisabat." Sungguh bahagia rasa hati Bang Rico. Kini dirinya sudah menjadi seorang ayah.


"Ayah berhutang nyawa demi melihatmu lahir ke dunia. Kamu punya Om yang sangat hebat, kelak.. kamu harus membuatnya bangga. Ayah sematkan keinginan Om mu yang memiliki semangat juang tinggi, setinggi gunung Himalaya. Dia sangat menyukai kata-kata itu" ucap Bang Rico tak hentinya meneteskan air mata.


Mama Dinda sampai tak kuasa menahan tangis. Rasa haru mengena dalam hati Mama Dinda.


"Abaaaaang..!!" Asya mulai sadar dan terlihat sangat kesakitan.


"Kamu bantu Asya dulu le, biar Gazha Mama yang rawat, Gazha juga harus segera masuk inkubator khan?" kata Mama Dinda.


:


Setengah mati Asya menutupi tubuhnya karena Bang Rico berusaha membuka kain yang menutupi tubuhnya.


"Tapi Abang jangan lihat" ucap Asya pelan.


"Laahh.. kalau nggak lihat, mana Abang tau bagian mana yang harus di rawat" protes Bang Rico.


"Asya malu" jawabnya semakin pelan.


Disaat seperti ini Bang Rico tidak bisa menyembunyikan senyum geli, tapi ia juga heran dengan sikap konyol sang istri.


"Anak sudah dua, Abang sudah tau kamu mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, sekarang baru bilang malu. Kamu sendiri saja lihat Abang sampai mata nggak mau berkedip. Aneh kamu ini"


"Tapi Asya sudah nggak seperti dulu"


"Astagfirullah hal adzim.. bisa-bisanya kamu mikir sampai sana." Bang Rico semakin gemas saja. Ia sedikit membungkuk lalu sekilas memberi kecupan hangat di bibir Asya.


"Ya memang tidak seperti dulu. Kamu sudah jadi seorang ibu. Usai melahirkan atau tidak.. rasa itu tetap sama, tidak ada yang berubah dan kamu tetap menjadi Asya yang terbaik.. yang Abang punya dalam hidup ini. Terima kasih kamu sudah bersusah payah melahirkan anak kita. Hal luar biasa yang tidak pernah mungkin Abang yang mengalaminya. Kamu hebat sayang." tanpa Asya sadari, Bang Rico sudah merawatnya dengan sangat hati-hati.


~"~"~


"Bagaimana Bang?" tanya Bang Pandu memastikan kondisi Nafa, entah kenapa dirinya begitu mencemaskan keadaan Nafa Sampai hari menjelang malam, ia tidak merasakan lapar dan hanya menghabiskan dua bungkus rokok.

__ADS_1


"Masih syok, tapi sudah mulai tenang. Saya nggak nyangka ternyata Fasya adalah istri siri nya Almarhum Acep." kata senior Bang Pandu.


"Tolong tutup saja berita ini Bang. Anggap saja Fasya hanya kekasih Acep saja, jangan sampai media memberitakan hal lain di luar sana. Usia Fasya baru menginjak enam belas tahun. Kasihan mentalnya Bang" pesan Bang Pandu.


"Saya ngerti.. tenang saja.."


~


Papa Wira meminta Bang Pandu untuk berjaga di sekitar kamar rawat Nafa karena ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.


Bang Pandu mengintip dari balik jendela, saat itu hari sudah pukul setengah satu malam. Terlihat Nafa menuruni ranjang. Rasa cemasnya semakin tidak bisa di kendalikan. Ia menerobos masuk ke dalam ruang rawat.


"Kamu butuh apa dek? Biar Abang bantu" kata Bang Pandu menawarkan diri.


"Fasya bisa sendiri Bang" jawab Nafa yang kini tidak ingin lagi menggunakan nama Nafa karena Bang Acep menginginkan dirinya menggunakan nama Fasya.. yang berarti bunga terindah.


Saat Fasya melangkah, kepalanya terasa pening dan berat. Ia pun hampir terjatuh.


"Abang bantu saja..!!" kata Bang Pandu lagi.


"Fasya mau ke toilet, lalu bagaimana caranya?" tanya Fasya.


Bang Pandu mondar-mandir bingung.


"Cckk.. asal kamu diam, semua pasti baik-baik saja" Bang Pandu menurunkan botol infus Fasya.


"Tuhan tau apa yang kita lakukan" ucap Fasya lirih.


"Abang yang akan menanggungnya" jawab Bang Pandu.


~


Bang Pandu berbalik badan menemani Fasya di dalam toilet, Fasya pun menangis karena harus ada pria lain yang menemaninya padahal bisa saja ia memanggil perawat untuk menemaninya.


"Maafin Abang" Bang Pandu juga merasa sangat bersalah, terkadang ada hal tidak bisa di tentang manusia biasa meskipun kita sudah menyadari hal tersebut adalah sebuah salah dan dosa.


"Fasya malu dengan jilbab ini, Fasya juga malu dan takut Bang Acep akan marah melihat kelakuan istrinya yang begitu kurang ajar berani berduaan dengan pria lain."


Saat itu, hati Bang Pandu begitu terpukul. Keberaniannya goyah. Batinnya tersiksa. Ia pria yang cukup berani berhadapan dengan wanita tapi kali ini jiwanya lemah dan kalah dari janda kembang anak buahnya sendiri. B******n kelas kakap seperti dirinya bisa terbungkam rapi hanya karena seorang Fasya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2