Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
51. Hati yang terguncang.


__ADS_3

Satu minggu berlalu, Asya belum juga sadar. Bang Winata mengajak Netta dan Bang Rico berbicara, tak lupa Bang Winata mengajak Bang Yudha untuk menyelesaikan masalah di antara mereka.


Wajah Bang Rico terlihat datar masih enggan menatap mata Bang Yudha.


"Bang..!!" Netta mencoba menyentuh lengan Bang Rico.


Bang Rico menurunkan tangan Netta kemudian duduk di ruang tunggu VIP rumah sakit karena Bang Rico tidak mau meninggalkan Asya sedikitpun.


"Atas nama pribadi dan suami.. Netta minta maaf..!!" kata Netta terbata-bata.


"Kalau maaf bisa mengembalikan keadaan.. kalau saja maaf bisa menghidupkan anak Abang lagi.. Abang pasti memberi maaf. Tapi disini Abang juga salah, Abang tidak mengatakan apapun dan langsung menemui mu" jawab Bang Rico.


"Yudha.. Netta.. duduk dulu. Kita bicara baik-baik..!!" Bang Winata berusaha netral meskipun sebagai Abang tertua, batinnya juga ikut tercabik perih.


"Kita semua sudah tau keadaan nya. Bapak kita adalah Subrata, Abang dan Netta anak dari istri pertama dan Rico dari istri kedua. Tapi semua ini tidak bisa menutup kenyataan bahwa kita ini satu darah meskipun berbeda ibu. Perpecahan di keluarga kita salah satunya karena Papa punya empat orang istri. Dari kejadian ini Abang, Netta.. terutama kamu Rico, harus mengenal siapa adik-adikmu. Salah paham ini sudah mengakibatkan hal yang sangat fatal"


Bang Rico masih mengepalkan tangan dengan kuat. Masih terbayang wajah sang putri yang terus ada di pelupuk mata.


"Iya Bang.." jawab Bang Rico datar.


"Untuk kamu Yudha.. jangan melihat perkara hanya dari satu sisi. Mulai sekarang jangan ada rasa cemburu lagi. Rico dan Netta adalah Abang dan adik" kata Bang Winata.


"Kamu Rico.. hilangkan rasa 'cinta' yang ada. Hargai perasaan Asya dan Yudha.


Bang Rico terpancing emosi lagi mendengar ucapan Abangnya. Ia sampai berdiri menantang Abangnya sendiri.


"Setelah aku menikahi Asya.. hatiku hanya untuk Asya, tidak ada lagi Netta. Netta sudah hilang. Kenapa semua orang tidak pernah percaya???"


Bang Winata pun segera memeluk adik laki-lakinya itu.


"Oke.. oke Ric. Abang minta maaf. Abang percaya kok."


Tiba-tiba Bang Rico merasa sesak, badannya terhuyung menimpa Bang Winata.


"Eeehh.. Ricoo..!! Yudhaa.. bantu aku..!!"


:


"Piye As??" tanya Bang Yudha. Rasa bersalahnya membuatnya begitu cemas.


"Kecapekan aja Yud.. dehidrasi, sepertinya Rico juga nggak mau makan" jawab Bang As.

__ADS_1


"Nanti aku bilang sama dokter umum, biar di kasih resep obat dan vitamin" jawab Bang As.


Bang Winata menghela nafas panjang. Pikirannya berantakan. Tak lama ada panggilan telepon masuk.


"Assalamualaikum.."


"Papaa.. dedek kangen" suara di seberang sana, memang beberapa hari ini Bang Winata sedang sibuk dengan urusan Bang Rico.


"Iya sayang.. ini Papa pulang ya..!! Kita jalan-jalan" jawab Bang Winata.


~


"Aku titip Rico ya..!! Ada keluarga yang harus aku perhatikan juga. Kalau Rico bangun.. tolong bantu jaga emosinya..!!"


"Iya Win.. tenang saja. Rico juga adikku" jawab Bang Yudha.


...


Bang Rico mulai sadar, badannya lemas dan lunglai seakan tidak memiliki tulang untuk bergerak.


"Asya mana Bang?" lirih suaranya tak ada daya untuk bertengkar lagi.


"Badanku sakit sekali Bang. Perutku baru terasa lapar" kata Bang Rico mengeluh.


Di belakang punggung Bang Yudha, ada sosok yang sedang menangis mengintip Bang Rico yang memercing kesakitan. Bang Yudha melihat Netta masih takut dan menjaga jarak dengan Bang Rico.


"Suapi Abangmu. Kasihan dia lapar"


Netta menggeleng takut.


"Abang sudah sadar, dia Abangmu dek. Abang minta maaf ya"


Netta memeluk Bang Yudha, kemudian Bang Yudha mengarahkan tangan Netta dan Bang Rico agar saling menyentuh.


Netta pun tak kuasa menahan tangisnya, ia memeluk erat Bang Rico.


"Abaaaaang.. Maaf, Netta salah. Bagaimana Netta dan Bang Yudha harus menebus kesalahan ini??" Netta menangis meraung di dada Bang Rico.


"Do'akan saja Abangmu ini, biar bisa dapat malaikat kecil lagi. Tapi jika tidak bisa.. biarkan Abang memeluk Lingga sekuatnya.. Abang sangat menyayangi Lingga"


"Iya Bang.. Iya.." Netta tak sanggup berkata-kata, hanya pelukan sayang seorang adik pada Abangnya yang bisa ia berikan.

__ADS_1


-_-_-_-_-


Seorang gadis memakai seragam melompati gedung pesantren untuk kabur tapi sayangnya


seorang pria memergokinya.


"Perlu bantuan Non?" sapa Om Acep.


"Nggak usah" jawab gadis yang ternyata adalah Nafa.


"Kamu.. adik iparnya Pak Rico khan? Adiknya ibu Asya??" tanya Om Acep.


"Iyaa.. kenapa?"


"Kamu kok bisa keluar pulau?" tanya Om Acep lagi yang saat ini posisinya sedang dalam penugasan.


"Aku malas dengan kakak ku yang sok baik itu" jawab Nafa.


"Ibu Asya memang baik, tapi sayang nasibnya yang tidak baik." Jawab Om Acep.


"Memangnya kenapa?"


"Ibu Rico kehilangan bayinya dan meninggal dunia, juga harus rela kehilangan sebelah rahimnya" Om Acep juga turut bersedih dengan berita itu.


"Astagfirullah hal adzim.. terus bagaimana keadaan Mbak Asya sekarang??"


Om Acep melihat ada raut wajah cemas, tidak seperti Nafa yang sebelumnya.


"Ibu belum sadar, saat saya berangkat penugasan.. dan kabar terakhir yang saya terima.. Pak Rico masih stress berat dan harus mendapat perawatan juga"


Nafa terduduk lemas di rerumputan. Pipinya basah. Hati Om Acep tergerak tidak tega.. ia tau hati Nafa saat ini tulus mencemaskan Asya kakaknya.


"Kembalilah ke pesantren..!! Do'akan keluargamu. Banyak harapan dari mereka pada dirimu." kata Om Acep dalam pertemuan tidak sengaja itu.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2