Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
47. Sensitif.


__ADS_3

"Sudah aahh.. kaya ABG aja saya..!!" Bang Rico mulai salah tingkah saat para anggota menyorakinya.


"Yang masih bersuara nanti push up lima puluh kali." kata Bang Rico.


"Siap..!!"


"Nggak usah.. hanya bercanda kok bapak-bapak" kata Asya terdengar kalem di telinga para anggota.


"Siaap ibu.. terima kasih" jawab anggota.


"Waduuhh.. runtuh wibawa Abang. Abang Lettu.. kamu Kapten" ucap lirih Bang Rico.


"Makanya jangan asal hukum" kata Asya kemudian melenggang pergi.


Selangkah kaki baru menuruni anak tangga.


"Aarh" Asya memegangi perutnya.


Bang Rico secepatnya menghampiri istrinya itu.


"Kenapa?"


"Perut Asya sakit Bang"


"Ngopo Iki anak ku?"


Tak banyak bicara.. Bang Rico menggendong Asya masuk ke tenda darurat.


...


"Nggak apa-apa Ric. Hanya lelah saja. Jangan pakai pakaian ketat lagi.. perut Asya semakin besar."


Bang Rico menatap tajam mata Asya.


"Kamu ingat anak nggak? Kenapa pakaianmu ketat sekali??" tegur keras Bang Rico.


"Abang duluan yang mulai. Kalau Abang nggak bertingkah, Asya juga nggak mungkin tampil di atas panggung" jawab Asya.


"Iyaaa.. Ya sudah terserahmu lah, Abang yang salah." Jawab Bang Rico tidak ingin berdebat lagi. Keadaan Asya dan calon bayinya lebih penting dari segalanya.


"Tapi nggak ada masalah lain khan Bang?" tanya Bang Rico memastikan.


"Aman.. tapi harus tetap di jaga agar tidak terlalu lelah" jawab dokter As.


"Siap Bang"


~


"Kalau sudah baikan, bisa kita kembali ke lapangan? Nggak enak sama yang lain dek.. setelah itu pulang. Paling tidak kita pamit sama senior dan anggota"

__ADS_1


"Ini sudah baikan Bang, ayo sekarang aja ke lapangan"


...


Bang Rico berjalan menuju kursi Asya, ia membawa es cendol karena panas begitu terik. Tak sengaja Bang Rico berpapasan dengan Desi.


"Aduuhh Pak.. terima kasih, nggak usah repot-repot ambilkan saya es cendol" kata Desi langsung mengambil gelas es cendol dari tangan Bang Rico.


"Sebenarnya ada apa bapak cari saya?" tanya Desi sambil menyantap es cendol yang ia rebut tadi.


Mata tajam Asya melihat suaminya berbincang dengan Desi dan itu berhasil membakar hatinya.


"Kamu main sambar aja Mbak Des, itu es saya ambil buat istri saya" kata Bang Rico.


"Saya cari Mbak karena ada titipan dari Bu Wadan. Bonus untuk para penyanyi" kata Bang Rico kemudian menyerahkan amplop honor pada Desi.


"Masa sih? Lalu kenapa Pak Rico yang serahkan uang ini ke sana. Pak Rico mau ketemu sama saya khan?" ucap Desi dengan percaya diri.


"Saya membawa honor seluruh penyanyi. Kamu yang paling susah saya cari" jawab Bang Rico.


"Waahh.. ternyata kita saling mencari ya Pak. Mungkin kita jodoh" Desi masih saja bertingkah genit di hadapan Bang Rico.


"Kamu tadi nggak dengar saya sudah menikah?" tegur Bang Rico.


"Dengar.. tapi di dunia ini kita nggak usah munafik, manusia tak cukup hanya punya satu pasangan. Terutama laki-laki.. poligami tidak di larang" senyum Desi seakan ingin menggoda Bang Rico.


Asya berjalan mendekat menghampiri Bang Rico.


"Kenapa sayang.. haus??" tanya Bang Rico kemudian meraih tangan Asya.


"Abang ambilkan es cendol ya?"


"Nggak mau, Asya maunya es buah. Eneg lihat cendol" jawab Asya menekankan kata terakhir nya.


"Ya sudah ayo kesana, lihat sendiri apa yang kamu mau" ajak Bang Rico.


"Dasar kutil..!!" Bisik Asya sengaja menabrakkan bahunya pada Desi dengan kuat, belum cukup dengan itu.. Asya masih mengacungkan jari tengah di hadapan Desi.


"F**k..!!" ucapnya. Bang Rico segera memiting Asya dengan lengannya begitu tau ulah bar-bar sang istri


"Heeii.. perempuan gilaaaaaa..!!!!!!!!" teriak Desi.


"Aceeepp..!! tangani..!!!!" perintah Bang Rico.


~


"Apa kamu ini?? Kenapa buat ulah?" tegur Bang Rico.


"Dia duluan..!! Abang juga nggak mau lawan.. tonjok.. atau tendang gitu..!!" ucap Asya bersungut kesal.

__ADS_1


"Abang nggak pakai rok yank.. masa Abang lawan perempuan.. adu mulut ribut seperti ibu-ibu di pasar??" jawab Bang Rico.


"Hajar Bang.. hajaaarr..!!!!!" ucap Asya lagi.


"Gusti Allah.. Piye to iki? Nggak pantas laki-laki pukul perempuan. Tangan laki-laki itu untuk meringankan segala kesulitan perempuan, membelainya dan membuatnya tenang" jawab Bang Rico.


"Dia bukan perempuan Bang, dia itu setan"


"Iyaa.. iya.. Ya sudah sini Abang suapin buahnya. Jangan marah lagi, kasihan si dedek di ajak mamanya gelud" kata Bang Rico kemudian mencium perut Asya.


Para ibu gemas melihat sayangnya Bang Rico pada sang istri.


"Ibu sedang hamil ya Pak Rico?" sapa seorang ibu.


"Iya Bu, minta do'anya supaya lancar kehamilannya sampai lahir ya Bu" kata Bang Rico.


"Pasti Pak Rico.. Pasti di do'akan. Sehat-sehat ya ibu" kata ibu tersebut.


"Terima kasih Bu" jawab Asya sopan, jauh dari sikap bar-barnya tadi.


:


Bang Rico sedikit memercing menahan sisa mual. Ia menghisap rokok di samping ruang toilet untuk mengurangi rasa mualnya.


"Abang.. Abang nggak apa-apa?" tanya Netta yang kebetulan baru saja keluar dari toilet.


"Nggak apa-apa. Hanya sedikit mual saja.. mungkin kecapekan" jawab Bang Rico.


Netta mengangguk meskipun tidak begitu paham.


Semakin lama menahannya.. Bang Rico semakin tidak kuat. Bang Rico berlari ke wastafel tapi tanpa sengaja menabrak Netta hingga tak sengaja keduanya saling memeluk dengan posisi yang tidak tepat. Di saat itu pula tak sengaja Asya datang dan melihatnya.


"A_bang..!!" kaki Asya terasa kaku.. tubuhnya gemetar hebat. Ia kemudian berlari kencang.


Bang Rico yang sudah terlalu mual kemudian memuntahkan isi perutnya, secepatnya membereskan diri dan segera mengejar Asya. Disana kaki Netta pun ikut gemetar ketakutan.


~


"Asya lari.. dari arah toilet?" gumam Bang Yudha yang melihat Asya berlari. Tak lama Bang Rico menyusul.. tapi yang lebih mengagetkan.. Netta keluar dari gedung toilet yang sama.


"Ada apa ini?"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2