
Keluar Zona..!!
🌹🌹🌹
Bang Rico mengangkat Asya ke dalam ambulans.
"Cepat ke rumah sakit..!!"
:
"Belum kelihatan Ric. Hanya saja memang ada kantong kehamilan" kata dokter As.
Wajah Bang Rico sendu, tak tega melihat sang istri yang masih menahan rasa sakit.
"Maklum Ric, rahim Asya bermasalah.. kalau memang nantinya ada kehamilan memang harus ekstra penjagaan." kata dokter As.
"Tapi Abang yakin... ada Ric"
"Siap Bang"
Tangan Bang Rico tak hentinya mengusap rambut Asya.
"Abang titip ya dek..!!" Bang Rico mengecup kening dan kemudian bibir Asya.
...
plaaakk.. buugghh...
"Kenapa kamu keluar zona?? kamu sengaja??" tegur keras Wadanyon. Danyon hanya menggeleng heran melihat tingkah Bang Rico yang berbahaya. Keluar dari zona memang bisa membahayakan diri sendiri.. terlebih orang lain jika dalam keadaan seperti tadi."
"Siap salah..!!"
"Bodoh kamu Ric..!!" Danyon pusing tujuh keliling melihat keberanian Bang Rico.
"Siap..!!"
...
Begitu senangnya Bang Rico sampai apapun yang terjadi disana, sama sekali tidak ia pedulikan. Yang ia tau hanya menjaga Asya saja.
"Pelan jalannya sayang..!! Awas ada kerikil" Bang Rico menyingkirkan kerikil di hadapan Asya.
"Jangan berlebih-lebihan Bang. Malu di lihat orang" kata Asya.
__ADS_1
"Biar saja. Anakku ini anak mahal." jawab Bang Rico.
"Abang nggak mau perhitungan soal uang. Yang Abang mau.. setelah ini anak Abang dan kamu sehat"
Disana ada sepasang mata yang melihat Bang Rico memperlakukan Asya dengan begitu manis.
"Kenapa nasib baik selalu menimpa orang lain dan bukan denganku. Sebenarnya apa salahku? Apa aku kurang cantik?" gerutu Ratri.
***
Asya berjalan pelan menuju Batalyon. Langkahnya terhenti karena ia mulai merasa lelah padahal perutnya juga tidak besar.
Dari jauh Bang Rico melihat Asya yang sudah tidak kuat lagi berjalan. Ia pun segera menghampiri Asya menggunakan motornya.
"Kenapa nggak tunggu Abang di rumah. Nanti Abang jemput, kalau jalan kaki begini kamu capek sendiri" kata Bang Rico.
"Asya pengen gerak Bang. Sejak tau Asya telat.. Abang nggak memperbolehkan Asya terlalu banyak aktivitas."
"Ini demi kamu juga dek. Abang mati-matian jaga kamu. Untuk anak kita juga. Kamu paham khan, kita harus berjuang demi anak kita ini" Bang Rico mengingatkan Asya.
"Ya sudah cepat naik..!!"
Asya pun menurut dan langsung naik ke atas motor. Dengan hati-hati Bang Rico menarik gas dengan kecepatan 25km/jam bahkan kadang di bawahnya dan itu membuat Asya sangat tidak sabar.
"Sabar donk dek, Abang nggak mau si dedek getar-getar di dalam perutmu..!!" jawab Bang Rico masih dalam cemasnya.
"Tapi kalau Abang nengok dedek.. bukannya getar lagi Bang, Abang sudah buat dedek kena sunami" kata Asya langsung membulatkan mata Bang Rico.
"Kalau Abang bisa hati-hati dek.. ini khan motor, nggak punya mata"
"Hati-hati bagian mananya Bang? Finishing nya?" Asya mencibir ucapan Bang Rico karena Bang Rico yang terkadang lupa diri kalau sudah bersamanya.
"Eeehh.. kamu nih. Berani-beraninya ngeledek Abang. Kualat kamu..!!"
***
Nafa mengikuti kemana pun Bang Acep pergi dan ia juga akan memulai sekolahnya di tempat yang baru. Tempat yang tidak jauh dari Batalyon Bang Acep.
"Jadi kamu sudah menikah dengan Nafa????" tanya Bang Rico.
"Siap Dan."
Bang Rico menghela nafas.
__ADS_1
"Kalau di kantor saya memang atasanmu, tapi kalau di luar.. saya Abang iparmu" kata Bang Rico
"Sekarang kita sama-sama tau keadaannya Cep.. saya yakin kamu pasti paham kalau Nafa masih bersekolah meskipun dia sudah jadi istrimu. Jadi.. saya harap kamu yang bisa berhati hati menjaga hubungan mu dengan Nafa. Saya tidak melarang apapun yang berhubungan dengan suami Istri. Jika Nafa lalai.. kamu yang ambil alih keputusan, jangan malah terbawa arus. Nafa masih labil Cep" Bang Rico mengingatkan Bang Acep layaknya seorang Abang ke adiknya.
"Saya paham Bang. Terus terang hingga saat ini saya masih terus menjaga Nafa" jawab Bang Acep.
"Semoga di permudah segala jalanmu Cep. Sabar sampai Nafa lulus baru kamu bisa atur keluargamu dengan baik"
-_-_-_-_-
"Kenapa dek?"
"Nafa itu adalah nama yang membuatku tidak seperti diriku. Aku ingin berubah, tidak ingin mengingat masa laluku yang pahit." jawab Nafa.
"Ya sudah.. terserah apa mau mu.. bagi Abang kamu tetap Sendu Nafasya Lembah Arumdalu, tetap menjadi yang tersayang" Bang Acep terkesima dengan cantiknya paras wajah Nafa.
Melihat tatapan mata sang suami.. Nafa langsung menundukkan kepala. Pipinya merona menyimpan rasa malu.
Bang Acep mengecup kening Nafa kemudian turun ke bibir manis istri kecilnya itu, ia masih menggenggam handuk di tangannya. Terasa sekali Nafa masih takut dan sedikit menghindarinya.
"Tidak salah khan kalau Abang ungkapin sayang ke kamu?"
Nafa memberanikan diri menatap mata Bang Acep. Tubuhnya gemetar hebat.
"Abang belum apa-apakan kamu. Kenapa sampai setakut ini?" Bang Acep tau sekali perasaan takut sang istri. Ia paham.. senakal-nakalnya Nafa, di usianya itu tak mungkin akan sepintar gadis dewasa untuk mengimbanginya.
"Nafa.. hanya masih belum siap" Jawab Nafa dengan wajah tertunduk takut.
"Abang nggak akan berbuat lebih. Hanya ingin sedikit lebih dekat sama kamu. Boleh khan dek?" bujuk halus Bang Acep.
Perlahan dan tenang Bang Acep menaikan dagu Nafa.
"Sampai kamu siap.. jilbab ini akan tetap berada disini. Abang janji tidak akan memaksa seberat apapun rasa yang Abang inginkan" kata Bang Acep.
"Terima kasih banyak Abang"
"Sama-sama dek" jawab Bang Acep kemudian mengecup Nafa sekali lagi.
.
.
.
__ADS_1
.