
"Bapak suka sama saya?"
"Maaf Bu Ani.. saya sudah beristri"
Bu Ani ternganga tak bisa berkata-kata.
"Bapak sudah menikah?"
Bang Rico melirik Asya dan ternyata gadisnya itu sudah menatapnya dengan tatapan penuh ancaman apalagi posisi duduk Bang Rico sangat tidak menguntungkan. Bang Rico sedikit bergeser menjauh dari Bu Ani.
"Saya tau bapak belum menikah, data bapak saat masuk sekolah ini juga masih bujangan. Mana mungkin bapak menikah tanpa sepengetahuan kami"
Bang Rico masih waspada dengan keadaan disana. Kedua mata itu masih saling menatap dan mencekam. Lama-lama badan Bang Rico memanas seakan asam lambungnya naik secara drastis.
"Hhkkk.." Bang Rico secepatnya berlari ke toilet.
:
"Horror sekali istriku itu. Baru tatapan mata saja tulangku terasa remuk, perutku terasa di aduk, apalagi kalau dia mengamuk, hancur lebur lah aku jadi bubuk peyek" gumam Bang Rico.
"Abang ngomongin Asya????"
"Hyaaaaa..." Bang Rico terlonjak kaget di toilet.
"Apa sih dek? Siapa yang omongin???"
"Awas aja kalau Abang berani melirik Bu Ani, Asya tabok Abang sampai biru" ancam Asya.
"Dekat aja nggak pernah, apalagi melirik. Bisa juling lah Abang" jawab Bang Rico.
"Syukurlah kalau Abang sadar. Sudah mau punya anak, jangan banyak tingkah. Bisa kualat kalau anak Abang perempuan" kata Asya.
"Amit-amit jabang bayi lanang wedhok.. nggak lah dek. Dulu Abang memang bejat. Sekarang sudah tobat dek. Bener..!!" ucap Bang Rico meyakinkan.
Asya pun berlalu, tak lama ia berpegangan pada dinding saat langkahnya mulai oleng.
"Dek..!! Kuat nggak??"
"Asya pusing lagi Bang" Asya reflek bersandar pada Bang Rico.
"Bagaimana ini, ujian masih ada satu lagi. Abang dampingi saja ya?" ucap cemas Bang Rico.
"Mana ada ujian di temani. Nggak apa-apa. Hanya sebentar saja Bang" jawab Asya.
Bang Rico mengusap perut Asya.
"Anak Ayah jangan nakal ya nak, bantu Mama sebentar saja. Dedek anak pintar khan?" bujuk Bang Rico.
"Iya Ayah, dedek kuat" jawab Asya.
...
"Alhamdulillah ujian telah selesai, mudah-mudahan semua lulus dengan lancar dengan nilai yang baik" do'a kepala sekolah saat para murid usai dengan ujian akhirnya.
Bang Rico jadi terharu melihat usaha keras Asya. Di tengah kesehatan nya yang sangat menurun, ia tetap berusaha menyelesaikan tugasnya sebagai seorang pelajar. Dadanya terasa sakit mengingat kedua orang tuanya yang tidak pernah sekalipun memperhatikan dirinya. Sejak taman kanak-kanak, Bang Rico harus bergantung hidup dari keluarga satu ke keluarga yang lain. Ada sedikit persamaan nasib yang begitu membuatnya sangat menyayangi dan mencintai Asya.. Asya trauma dengan perkara orang tuanya sedangkan dirinya adalah korban perceraian dari wanita lain.
__ADS_1
Berbalik badan Bang Rico melangkah meninggalkan Asya untuk meluangkan waktu bersama teman-temannya karena sebentar lagi mereka akan berpisah dan memilih jalan hidup masing-masing.
:
"Saya tidak setuju"
"Tapi ini untuk nama baik sekolah Pak" kata Bu Ani.
"Untuk nama baik sekolah atau kepentingan pribadi Bu Ani. Anak-anak sudah selesai ujian, mereka tidak akan ada sangkut pautnya dengan sekolah lagi setelah ini dan hanya tinggal menunggu hasil kelulusan dan ijasah" kata Bang Rico lagi.
"Iya Bu Ani. Untuk apa kita lakukan test narkotika dan kehamilan, murid wanita di sekolah ini hanya ada beberapa orang saja" imbuh Pak kepala sekolah.
Bang Rico tersenyum gemas. Ia masih memantau seberapa aktif Bu Ani dalam masalah ini.
"Saya curiga ada seorang murid yang bisa merusak citra sekolah ini. Dia sangat centil, liar dan b*nal. Bisa saja dia membodohi seorang guru disini karena tingkah liarnya di luar sana"
Telinga Bang Rico rasanya panas, tak tahan mendengar hinaan yang pastinya di tujukan pada Asya, lebih sakit lagi karena saat ini Asya sedang mengandung buah hatinya.
"Tidak usah membuat rekan yang lain berpikir keras Bu Ani. Katakan saja kalau Bu Ani menujukan kecurigaan itu pada Asya dan saya lah guru itu"
Pandangan mata para guru langsung tertuju pada Bang Rico.
"Panggil Asya kesini..!!" pinta Bang Rico.
~
Bang Rico dan Asya duduk bersebelahan.
"Tidak perlu test. Ini murni saya yang menanggung semuanya. Sanksi apa yang harus saya terima?" tanya Bang Rico.
:
"Ini tidak bisa di bicarakan kelanjutannya disini. Asya memang hamil dan Pak Rico sudah mengakui itu adalah anaknya, mereka juga sudah menikah. Kesalahan Pak Rico akan menjadi urusan dinas dan tutup masalah kehamilan Asya demi masa depannya mengingat kehamilan ini sudah terjadi dalam masa pernikahan walaupun memang salah" ucap tegas ketua yayasan.
Para guru mengangguk menyetujui, hanya Bu Ani saja yang masih terlihat kurang puas.
"Pak Rico.. setelah ini temui saya di kantor Markas."
"Siap..!!" jawab Bang Rico.
...
"Tidak akan ada masalah apapun dek. Kamu tenang saja..!! Pikir anak kita dan jangan pikir macam-macam..!!"
Asya bersandar lemas, tangannya dingin dan gemetar.
"Ya ampun dek, cemas sekali Abang lihat kamu seperti ini. Percayalah sama Abang..!! Bisa khan?"
"Iya Bang..!! Abang hati-hati ya..!!"
Bang Rico mengusap puncak kepala Asya dan mengembangkan senyum mengurangi rasa gelisah Asya.
"Pasti..!!"
-_-_-_-_-
__ADS_1
Setelah berganti pakaian, memakai seragam lorengnya.. Bang Rico menghadap komandan Pusat yang juga sebagai penanggung jawab yayasan.
Bang Rico sudah tau resiko apa yang akan di tanggungnya.
"Untung saja kamu sudah menikah. Kalau kamu sampai menghamili anak orang, terutama atasanmu.. saya hajar betul kamu Ric" ucap komandan.
"Ini papa mertuamu sudah menghubungi saya.. beliau meminta sanksi mu di teruskan di Batalyon. Dinas memutuskan ada sanksi agar bisa menjadi contoh untuk yang lain agar setiap anggota memiliki kewaspadaan dan menjaga diri. Posisi mu di mata agama mungkin benar, tapi untuk hukum dan militer.. kamu salah"
"Siap.. menyesuaikan arahan Dan"
...
"Aman dek. Abang sudah nggak di bagian Intel lagi. Hanya bantu Bang Yudha.. jadi Danton nya. Abang sudah nggak sesibuk kemarin.. sekarang Abang lebih punya banyak waktu, bisa jagain kamu sama dedek deh. Ambil saja hikmah nya..!!" Bang Rico mencolek hidung mancung Asya.
"Abang nggak bohong?"
"Nggak lah, buat apa Abang bohong" jawab Bang Rico meskipun memang dirinya tidak mengatakan hal yang sebenarnya.
Entah sejak kapan mereka bisa sedekat itu Asya menyandarkan punggungnya di dada Bang Rico dan Bang Rico mendekapnya.
"Bang.. bukannya perjanjian kita masih dalam masa pacaran ya?" tanya Asya mengingat ucapan Bang Rico saat itu.
"Masih ingat aja kamu janji basi begitu"
"Sekarang Asya hamil, gimana donk Bang?" ucap Asya membuat Bang Rico mati kutu.
"Apa syndrom hamil ada yang buat jadi Oneng?"
Asya mendongak menatap mata Bang Rico.
"Kita sudah nikah, kalau ada yang tanya tentang identitas anak ini, sudah jelas siapa bapaknya. Apa yang kamu takutkan????" ucap gemas Bang Rico.
tok..tok..tok..
"Bang.. ada orang, cepat pakai baju Abang..!!!!!" pekik Asya berjingkat bingung karena Bang Rico sedang bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek.
"Kalem dek..!!"
"Jangan-jangan itu provost mau gerebeg kita Bang"
"Heehh.. kita ini nggak lagi kepergok main bekel. Kamu tunggu disini..!! Abang buka pintu" kata Bang Rico.
~
"Selamat malam Dan..!!"
"Selamat malam......."
.
.
.
.
__ADS_1