
"Waaahh.. lihat tampangmu itu..!! Kamu berani lawan saya??" tanya Kolonel Maru.
"Kamu bisa menghajar adik saya, tapi kamu tidak bisa melawan saya. Saya ini tau kamu masuk jadi tentara karena dukungan Bang Wira, tanpa Abang saya itu.. kamu hanya preman jalanan yang lontang lantung tidak punya keluarga.. Kalau saya buka mulut, habis kamu di tindak" ledek Kolonel Maru.
"Putri Bang Wira ini juga pecandu.. saya tau, tapi saya diam. Kurang baik apa saya? Sampai bocah itu mengandung anak siapa juga saya tetap diam. Kau tau ini apa?? Surat pengajuan nikahmu di pusat. Pernikahan militer mu dan Asya.. tidak sah" Kolonel Maru menyobek kertas resmi itu di hadapan Bang Rico.
Bang Rico tersenyum menyeringai, sekujur tubuhnya panas, tangannya mengepal kuat.
"Kamu menikahi wanita baik-baik????"
Hinaan untuk dirinya masih bisa ia terima, tapi untuk Asya.. sama saja menginjak harga dirinya.
"B******n kau Maru..!!!!!!!!!" Bang Rico menghantarkan Mari dengan telak hingga pria itu terjungkal.
Asya sangat ketakutan sampai berteriak histeris, baru kali ini ia melihat suaminya begitu marah hingga brutal tak terkendali seperti ini.
baagghhh.. buugghh.. baagghhh.. buuugghhh..
"Kamu menghina wanita yang sangat berharga dalam hidup saya"
"Ricooo.. jangan Ric..!!" Bang Winata dan Bang Yudha baru saja datang dan melihat Bang Wira menghantam Kolonel Maru dengan brutal.
"Asal kau tau, keponakanku si Manan saja tidak mau dengannya karena putri Bang Wira ini terlalu liar. Bang Wira itu akan berakhir sial karena tidak akan pernah ada laki-laki yang mau, kecuali pria bodoh sepertimu..!!!!" bentak Kolonel Maru masih berteriak tidak terima.
"J****k, B*****t.. lambe b***k..!!!!!" segala umpatan Bang Rico ungkapkan karena emosinya tak tertahan lagi.
"Rico.. istighfar, nyebut Ric...!!!" Bang Yudha tidak mau Bang Rico semakin mendapat masalah karena kelakuannya itu.
Tak lama Papa Wira datang, wajahnya terlihat tenang dan membiarkan Bang Rico bermain di bawah lalu segera menghampiri Asya dan mencium kening putrinya itu.
"Tenang sayang, suamimu bukan pria sembarangan. Hantaman kecil seperti itu tidak akan membuatnya mati" kata Papa Wira.
Papa Wira beralih melangkahkan kaki menghampiri Bang Rico, meninggalkan Asya yang masih menangis. Papa Wira hanya menepuk pundak menantunya.
"Sudah Ric, Asya takut"
Bang Rico pun berdiri tapi kakinya itu masih sempat menginjak dada Kolonel Maru, agaknya suami Asya itu belum puas.
__ADS_1
Papa Wira memeluk Bang Rico dan menjauhkan dari adik littingnya. Apa yang di lakukan Rico sudah mewakili keinginannya.
"Tenang sedikit Ric, Ingat Asya sama anakmu..!!" kata Papa Wira.
"Bagaimana aku bisa tenang pa.. dia hina Asya dan calon anakku. Aku nggak terima b******n ini bawa-bawa nama istrikuu..!!!!!!!" ucap keras Bang Rico.
"Papa akan tangani selanjutnya" Papa Wira mengarahkan Bang Rico agar menenangkan Asya lebih dulu.
:
Asya tak hentinya menangis membuat Bang Rico cemas setengah mati.
"Asya nggak mau disini, Asya nggak mau di asrama, nggak mau ketemu sama orang-orang. Asya malu kalau ketahuan hamil."
Bang Rico sungguh sedih melihat keadaan mental Asya, sebenarnya dirinya sudah memikirkan resiko yang akan terjadi kalau sampai membuat Asya hamil, tapi ia tidak menyangka efeknya akan seburuk ini.
"Asya mau tinggal dimana sayang? Abang masih belum di perbolehkan keluar asrama" berat sekali rasanya mengingatkan Asya bahwa usahanya kali ini untuk menaikan status Asya sudah gagal total. Jika dulu Bang Yudha tidak bisa menaikan status Netta karena silsilah keluarga nya.. kini dirinya pun terbentur masalah usia Asya yang masih terlalu muda padahal hanya tinggal selangkah lagi semua itu tidak lagi menjadi penghalang.
"Abang punya uang untuk kontrak rumah?" tanya Asya.
Bang Rico tertegun sejenak, entah bagaimana harus menjawab pertanyaan lugu sang istri.
"Terus bagaimana bayar rumah sakit ini Bang?" tanya Asya.
"Abang............"
"Jangan bilang Abang jual diri ya??? Asya nggak mau, awas aja kalau sampai Abang begitu"
"Ya Allah.. jelek banget sih pikirannya. Jangan mentang-mentang suamimu ini gagah terus mau berbuat seperti itu. Abang nggak gila, tapi ya.. kalau yang nawar cantik sih, boleh juga nego" kata Bang Rico.
plaaaaakkk..
Asya melayangkan tangannya menutup bibir Bang Rico.
"Abang lihat ini. Ini ada aplikasi pencari jodoh. Perhatikan baik-baik..!!!" Asya meletakan satu foto miliknya.
Bang Rico memperhatikan baik-baik sampai akhirnya, baru satu menit berlalu sudah ada yang merespon foto Asya dan beberapa di antara mereka memberikan komentar nakal.
__ADS_1
"Sini.. mana fotonya..!!" Bang Rico menyambar foto itu tapi masih kalah cepat dengan gerak refleks Asya.
"Dek.. aahh, jangan main-main..!!!!" bentak Bang Rico.
"Abang kesal??" tanya Asya.
"Abang nggak kesal, cuma nggak sopan aja kamu bertingkah seperti itu, sudah punya suami" tegur Bang Rico.
"Lihat nih, Asya tulis lajang..!!" kata Asya.
"Baaahh.. Mana ada yang mau sama wanita hamil" ledek Bang Rico.
"Yakin Abang nggak tergoda? Seksi begini lho Bang"
"Asyaa..!!!!" Bang Rico menyambar ponsel Asya kemudian menghapusnya termasuk aplikasi pembawa petaka itu juga di hapusnya.
"Jangan ada lagi aplikasi nggak berguna, bahaya..!! Penghancur rumah tangga, salah satunya juga suka bermain api seperti ini."
Asya menatap mata Bang Rico. Bulir air matanya menetes.
"Kamu itu suka mencari mautmu sendiri. Kenapa sih perempuan suka banget cari ribut"
"Abang yang mulai"
"Siapa yang nyambar omongan Abang? Kamu khan?" tegur Bang Rico kemudian memeluk Asya.
"Abang akan usahakan apapun demi kamu dan anak kita. Kalian berdua nyawa Abang"
Asya membalas pelukan Bang Rico.
"Asya lelah Bang, Asya takut"
"Abang nggak akan pernah tinggalin Asya. Nggak akan ingkari janji Abang" ucap Bang Rico menenangkan karena ia tau Asya menutupi segala ketakutannya sendirian.
.
.
__ADS_1
.
.