Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
41. Bahaya mengancam.


__ADS_3

Nara ingin ada hikmah yang bisa dipetik dan tidak hanya bisa di hina untuk ditanyakan. Apa boleh menikah dengan gadis di bawah umur??? Maka dari itu Nara angkat cerita ini. Harap bijak berkomentar.. cerita masih panjang.


🌹🌹🌹


"Bang Rico..!!" sapa seseorang menghampiri Bang Rico yang sedang merokok dan bersantai merokok di bawah pohon.


Bang Rico merasa jengah saat tau siapa yang datang menghampirinya di Batalyon.


"Gendong donk Abang..!!" pinta Nafa langsung naik ke punggung Bang Rico.


Sungguh saat ini Bang Rico malu setengah mati, bagaimana pun juga ia adalah pria bersuami. Mungkin ada yang merasa wajar saja melihat hal itu, tapi Nafa yang masuk SMA kelas sepuluh, apalagi perawakan badannya yang tidak jauh berbeda seperti sang istri tentu saja sedikit banyak akan menjadi gunjing rekan di Batalyon bagi sebagian anggota yang risih melihatnya.


"Lepas Nafa..!! Malu di lihat banyak orang" tegur Bang Rico.


"Memangnya kenapa? Nafa khan adik ipar Abang. Mbak Asya saja bisa dapat perwira ganteng. Masa Nafa nggak" jawab Nafa tak mau tau.


Bang Rico melepas pelukan Nafa.


"Ini bukan perumpamaan yang bisa kamu bandingkan Nafa.. ini soal kesopanan. Apapun yang kamu lakukan.. harus kamu pikirkan dampak baik dan buruknya..!!!!"


"Abang munafik sekali.. kenapa Abang tidak mau mengakui kalau mata Abang juga mengakui kecantikan Nafa? Abang pasti menyesal karena sudah memilih Mbak Asya.. dia tidak secantik yang Abang kira. Nafa akan menyebarkan ke semua orang kalau mbak Asya adalah pecandu, perokok dan pemabuk" ancam Nafa.


Bang Rico memegang kedua bahu Nafa.


"Jangan macam-macam..!!! Sebenarnya apa salah Asya sampai kamu berbuat hal buruk seperti ini Nafa? Kamu lihat sendiri Khan, Asya sangat sayang sama kamu" kata Bang Rico.


"Itu bohong. Dia itu hanya pura-pura baik Bang. Abang belum pernah lihat keburukannya khan?" tanya Nafa.


"Abang tidak mau melihat Nafa hanya demi mempertahankan wanita macam Mbak Asya?"


Beberapa orang ibu-ibu yang tidak sengaja sedang melintas menuju ruang kepengurusan yang berada sekitar Batalyon tak sengaja mendengar ucap Nafa. Mereka terdiam tapi pandangan itu berubah menjadi buruk.


Bang Rico cemas dengan situasi ini. Tak mungkin juga baginya berkoar-koar membela diri di saat situasi sedang panas.

__ADS_1


"Astagfirullah hal adzim.. pulang kamu Nafa..!! Jangan berada di sekitar Batalyon..!!!!" mata Bang Rico sudah melotot dan memerah membuat nyali Nafa sedikit ciut.


...


"Abang belum bisa menanggapi apapun dari laporan ibu Wadanyon yang mendapat laporan dari beberapa istri anggota tentang hubungan 'belakang'mu dengan Nafa. Kamu menikah dengan Asya saja sudah menimbulkan berita miring.. sekarang kamu memiliki hubungan dengan gadis yang usianya jauh di bawah Asya. Apa ada penjelasan tentang hal ini Ric?" tanya Wadanyon yang kali ini menjabat penanganan sementara tentang Batalyon karena Danyon sedang dalam proses mutasi.


"Siapa yang menyebarkan rumor itu Bang?" tanya Bang Rico.


"Nafa sendiri yang bilang" jawab Wadanyon.


"Ya Allah.. Astagfirullah hal adzim" Bang Rico memejamkan matanya tak sanggup merasakan reaksi Asya kalau sampai tau masalah ini.


"Terus terang untuk masalah ini, Abang dan istri sepenuhnya percaya sama kamu.. tapi kamu juga harus menyadari, lingkungan asrama adalah lingkungan rawan.. jarum jatuh pun bisa terdengar" kata Wadanyon.


"Saya paham Bang. Saya akan mencari celah untuk menyelesaikan masalah ini" Jawab Bang Rico.


...


"Kalau Nafa nggak boleh sekolah disini.. Nafa mau bunuh diri aja..!!!!" ancam Nafa.


"Baiklah.. berarti Papa lebih ingin Nafa yang mati. Memang sejak dulu Papa lebih mengutamakan kebahagiaan Mbak Asya daripada Nafa, Papa nggak adil sama aku dan Mbak Asya. Kenapa Pa? Karena Mbak Asya putri dari istri kesayangan Papa? Sampai Papa juga harus memilihkan Pria yang terbaik untuk Mbak Asya????" teriak Nafa tak terkendali.


Mama Dinda tersandar sesak, rasanya jantungnya tak kuat menghadapi keributan ini.


"Cukup Nafa.. Mama tidak pernah mengajari kamu jadi perempuan bertabiat buruk seperti itu" tegur Mama Dinda.


"Mama diam saja. Mama nggak ngerti perasaan Nafa..!!" bentak Nafa.


"Nafaaa..!!!!! Jangan kurang ajar kamu sama Mama..!!" Papa Wira balik membentak Nafa.


"Sudah Pa.. Asya nggak apa-apa. Biar Nafa tinggal di sini sama Asya" kata Asya menengahi.


"Maaf.. saya nggak setuju..!! Kalau Nafa tinggal di rumah ini.. saya akan pindah tidur di pos" ucap Bang Rico terdengar konyol tapi demi apapun, ia tidak ingin tinggal satu atap dengan Nafa.

__ADS_1


"Tolong di mengerti.. saya merasa tidak nyaman. Papa sudah tau alasan yang sudah saya katakan tadi. Orang-orang menggunjing saya dan Asya karena mulut Nafa. Saya pribadi tidak masalah Pa. Saya hanya mempertahankan pernikahan saya dan juga calon anak saya"


Entah ada setan apa yang merasuki pikiran Nafa, ia menyambar dan menenggak menelan cairan obat nyamuk elektrik yang ada di atas lemari hias Bang Rico.


"Nafaaa...!!!!" Asya berteriak histeris, begitu juga Mama Dinda yang seketika langsung pingsan melihat putrinya.


Bibi segera menolong Mama Dinda, Papa Wira kelabakan bingung sedangkan Bang Rico langsung membawa Nafa ke rumah sakit terdekat.


-_-_-_-_-_-


"Alhamdulillah masih bisa di selamatkan Pak. Pasien ingin bertemu dengan bapak" kata dokter.


"Syukurlah.." Bang Rico mengusap wajah dengan gusar.


"Tapi Pak.. ada yang harus bapak ketahui..!!!" dokter sedikit ragu mengungkapkannya


"Apa dok?"


"Begini Pak Rico............"


:


"Abang begitu mencemaskan Nafa.. kenapa Abang nggak bisa jujur kalau Nafa lebih baik dari Mbak Asya"


Sungguh dalam hati Bang Rico geram, saat ini bukanlah pilihan yang tepat untuk berdebat tapi jika semua ini tidak selesai sekarang juga, maka dampaknya akan sangat buruk bagi Asya.


"Katakan..!! Kamu.. juga pecandu khan?" tanya Bang Rico menatap mata Bang Rico dengan lekat.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2