Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
86. Suami siaga.


__ADS_3

Bang Tino menurunkan motor dari mobil pick up. Bang Rico keluar sambil menghisap permen kaki saat mendengar suara Bang Tino.


"Lho Tin.. itu kenapa si Pony nggak senyum?" protes Bang Rico.


"Laah, memangnya kemarin Abang request si Pony harus senyum?" tanya Bang Tino.


"Memangnya kamu nggak ada feeling?? Kalau si Pony nggak senyum, mana ada aura cantiknya?" jawab Bang Rico tidak puas dengan hasil kerja Bang Tino.


"Ijin Bang, ini yang minta gambar si Pony.. Abang atau istri Abang?" tanya Bang Tino bingung.


"Apa nih maksudnya? Kamu meragukan kejantanan Abang??"


"Siap salah Abang." Bang Tino tak ingin berdebat dengan seniornya mengingat kata-kata Om Sobri kemarin.


"Waaahh.. cantik sekali Pony nya. Asya suka sekali Pony yang ini Bang" kata Asya sengaja menengahi keributan. Sebenarnya gambar Pony itu tidak buruk, tapi entah kenapa Bang Rico tidak menyukainya.


"Asya suka sekali Bang. Jangan di ganti ya?" Asya bergelayut manja di lengan Bang Rico membuat pria itu tidak tega menolak permintaan sang istri.


"Ya sudah, turunkan... istri saya suka" kata Bang Rico merendahkan suaranya bahkan terdengar sangat lembut.


"Yaa.. Tuhan.. Bukan main" Bang Tino sampai melotot, ternyata hanya karena bujukan sang istri.. seorang Rico bisa bertekuk lutut tak berkutik.


...


Om Sobri baru saja duduk bersandar di sofa. Badannya lelah karena harus menangani banyaknya kegiatan di kantor.


"Mas baru pulang dari rumah istrinya Mas Rico?" tanya Ratri.


"Urusan Mas.. hanya sama Pak Rico. Bukan dengan istri Pak Rico"


"Aku juga hamil mas, aku juga ingin di perhatikan" kata Ratri yang sebentar lagi akan melahirkan karena sudah melebihi HPL.


"Kurang perhatian dari mananya? Siang Mas pulang, jam pulang kerja.. selalu pulang tepat waktu. Kamu ngidam juga mas turuti. Kamu tau rasanya jadi istri Pak Rico. Jam pulang kerja terkadang telat karena banyaknya kegiatan" jawab Om Sobri.


"Kenapa kamu ini? Nggak ikhlas Pak Rico sudah punya anak istri?"


"Mas nggak usah nuduh aku kalau nyatanya Mas yang suka sama istri Mas Rico" pekik Ratri.


"Mas.. Mas saja yang ada dalam pikiran mu. Pak Rico itu bukan siapa-siapa mu. Berhentilah memanggilnya mas. Jaga kesopanan mu" bentak Om Sobri.


Hati Ratri terasa sakit karena Om Sobri sekarang lebih sering memarahinya.


Om Sobri menyambar handuk kemudian menuju kamar mandi.

__ADS_1


...


tok..tok..tok..


Asya membuka pintu rumahnya. Terlihat istri Om Sobri berdiri di depan pintu dengan wajah marah.


"Bu Sobri.. silakan masuk..!!" kata Asya dengan sopan. Bu Sobri akhirnya masuk.


~


"Mohon ijin ibu. Saya minta tolong agar ibu menjaga jarak dengan suami saya. Bukankah saya juga menjaga jarak dengan suami ibu" kata Ratri langsung pada pokok persoalannya sambil memainkan ponselnya.


"Maaf Bu Sobri. Kapan saya bersikap terlalu dekat dengan suami ibu?" tanya Asya.


"Ibu nggak usah berkelit, setiap saat suami saya selalu berada dekat dengan ibu. Jika terus seperti ini.. bisa saja terjadi main belakang antara ibu dan suami saya" jawab Bu Sobri tanpa tedeng aling-aling.


Asya cukup tersinggung apalagi Bang Rico yang sedang berada di kamar mendengarkan percakapan istrinya dengan Bu Sobri.


"Begitukah pikiran Bu Sobri?" Asya bersikap tenang meskipun wajahnya sudah menunjukkan rasa tidak sepaham.


"Maaf Bu Sobri..!! Pertama.. posisi Om Sobri adalah sebagai ajudan suami saya. Jadi kedekatan Om Sobri lebih kepada suami saya dan bukan dengan saya. Kedua.. jika saya ada niat berselingkuh, semua sudah saya lakukan dengan senior suami saya karena saya tidak ingin lelaki yang notabene di bawah suami saya, itu adalah pikiran licik seorang Asya.. dan lagi harus lebih tampan, lebih gagah perkasa dan jantannya melebihi suami saya. Sekarang saya tanya.. apa dalam diri Om Sobri ada kriteria yang termasuk di dalamnya?" ucap lembut Asya tapi pasti sangat menyakiti hati Bu Sobri.


Mendengar itu semua.. perut Bu Sobri langsung bereaksi. Perutnya seketika menegang dan kontraksi.


"Mulut anda begitu jahat Bu Rico. Bagaimana bisa Pak Rico memperistri wanita berhati iblis seperti anda????" pekik Ratri tidak terima.


Tak lama Om Sobri datang dengan tergopoh-gopoh.


"Ratri.. kenapa kamu ada disini dek???" tanya Om Sobri panik.


"Bu Rico suruh aku kesini.. dan sesampainya di sini beliau memaki ku mas" jawab Ratri.


Sungguh kaget hati Asya mendengarnya.


"Ijin Ibu.. Ada apa? Kenapa tiba-tiba memanggil istri saya?" Om Sobri menampakkan raut wajah kecewa apalagi Ratri terlihat sangat kesakitan.


Mata Ratri terbelalak melihat kakinya basah.


"Mas.. kaki ku basah" kata Ratri.


"Om Sobri.. saya bisa jelaskan..!!"


"Ini anak pertama kami Bu. Saya tidak bisa menerimanya kalau sampai ada apa-apa sama anak kami.. saya tidak akan bisa menerima nya Bu" ucap Om Sobri penuh ancaman.

__ADS_1


Bang Rico pun keluar dari kamar.


"Sebelum kamu bertindak gegabah, hadapi dulu saya.. suaminya. Kamu tidak tau apa yang terjadi. Lebih baik kamu bawa istrimu ke rumah sakit. Kita bahas masalah ini setelah suasana sudah lebih baik" perintah Bang Rico.


:


Asya menangis, sampai beberapa saat tak ada yang terucap dari bibirnya. Bang Rico menghapus air mata Asya.


"Si dedek jangan di ajakin nangis terus dek..!!"


"Asya kesal.. bisa-bisanya istri Om Sobri menuduh yang tidak-tidak" jawab Asya dengan emosinya.


"Itu kualitas mantan pacar Abang. Hanya menang cantik dan seksi tapi nggak ada akhlak, apa begitu jenis wanita yang Abang banggakan?"


"Kok jadi Abang yang salah Neng?" tanya Bang Rico kemudian mengusap ingus Asya yang berlelehan.


"Ya karena yang macam kutu air gatal begitu yang Abang pilih" jawab Asya masih menyimpan rasa jengkel.


"Abang katarak bisa pilih perempuan jadi-jadian itu?????"


"Deeeeehh.. tobaat..!!!! siapa yang makan nangka.. siapa juga yang kena getahnya" gumam Bang Rico sembari mencari akal membujuk Asya.


"Berapa banyak lagi mantan Abang yang cantik???" tanya Asya.


"Nggak ada, hanya Asya saja yang paling cantik" jawab Bang Rico mulai waspada saat Asya sudah berubah mode menjadi Intel.


"Bohong..!!"


"Buat apa sih Abang bohong. Asya paling cantik, seksi, bahenol.. semlohaaaiiii" kata Bang Rico membujuk rayu istri tercinta.


"Apa buktinya???" lirik Asya masih saja kesal.


"Si kakak, Abang Gazha.. sama dedek buktinya. Kalau Abang nggak kesengsem sama cantikmu.. mana bisa mereka ada. Mama Asya baru goyang.. Papa Rico sudah melayang" Bang Rico mengecup bibir Asya, tangannya yang lincah mulai mengalihkan perhatian sang istri.


"Ke kamar yuk.. ajak dedek olahraga. Sepertinya di dedek bosan ma" rayu Bang Rico yang menyadari Asya mulai merespon inginnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2