Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
57. Cemburu.


__ADS_3

Asya melihat Ratri keluar menuju tempat parkir. Wajahnya terlihat sangat tidak bersahabat. Asya pun melangkah menjauh meninggalkan Ratri, tidak mau tau lagi soal Ratri.


Disana tak sengaja Ratri juga melihat Asya yang melangkah menuju ruang kerja pengurus ranting. Mata Ratri sinis melihat Asya. Sungguh anak sekecil itu bisa mendapatkan hati seorang Rico.


-_-_-_-_-


Sore ini masih enggan berbicara dengan Bang Rico. Sekuat apapun seorang pria, jika di diamkan wanitanya, rasa hatinya tentu akan menjadi gelisah dan tidak tenang.


"Duuhh.. sampai malam begini Asya masih marah. Kenapa sih wanita itu demen banget cari ribut" gumam Bang Rico kemudian menyambar rokoknya. Malam ini adalah tugasnya mengontrol keamanan dan para anggota pos jaga karena beberapa waktu kedepan akan ada tamu dari pusat.


...


"Kamu nggak pulang Ric?" tanya Wadanyon.


"Sebentar lagi Bang"


"Kerikil dalam rumah tangga itu pasti ada. Istrimu marah bukan karena dia kesal padamu" kata Wadanyon seolah tau isi hati Bang Rico.


"Saya menyadari, mungkin saja Asya sengaja karena ingin mencari perhatian saya. Dengan kata lain.. dia meluapkan rasa cemburunya tapi dengan cara uniknya ini"


"Kalau sudah tau.. lantas kenapa kamu marah?" tanya Wadanyon lagi.


"Ya saya khan juga pengen di sayang Bang. Begini ini rasanya dingin sekali, pengen tidur sama istri.. eeeehhh.. malah istri marah-marah nggak jelas" gerutu Bang Rico.


"Eaalaah Ric, kalau kangen tuh bilang..!! Jangan ngamuk. Rayu lah, masa istri merajuk kamu kasarin" tegur Wadanyon.


Bang Rico terdiam sejenak.


"Saya pamit mendahului Bang..!!"


:


Asya duduk dengan tertelungkup bersandar di meja makan. Air matanya menetes. Ia sudah memasak.. pagi tadi Bang Rico tidak sarapan, siangnya Bang Rico terlalu sibuk mengurusi masalah Ratri dan malam tadi.. Bang Rico pulang telat, bahkan tanpa masuk kamar dan pergi entah kemana.


"Nggak mau makan ya sudah.. urus saja mantan pacarmu itu..!!" Asya berdiri dan membuang masakan yang ia masak hari ini.


"Ya ampun Asyaa..!!!! Kenapa di buang?????" bentak Bang Rico yang sudah berdiri di dekat Asya tak tau sejak kapan.


"Kalau kamu nggak mau, kamu bagikan makanan itu di pinggir jalan.. banyak orang yang butuh makan..!!!! Abang kerja siang malam untuk membuatmu kenyang. Nggak hidup susah sama Abang..!!!!"


Mendengar itu semua, Asya bukannya tenang.. istri Bang Rico malah semakin marah.

__ADS_1


"Dari pagi Abang yang nggak mau makan. Abang lebih memilih mengurusi mantan Abang" teriak Asya.


"Asyaaaaaaaa...!!!!!!!!!!!!" Bang Rico menggebrak meja sampai Asya kaget dan ketakutan.


"Jangan pernah berteriak di depan Abang..!!!"


Asya tersandar sejenak kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil ponsel dan dompet.


"Mau kemana kamu??" Bang Rico mencekal tangan Asya.


"Asya mau pulang ke rumah Papa" jawab Asya.


"Kamu mau mengadu sama Mama dan Papa??? Tidak bisakah kamu selesaikan masalah kita secara dewasa??" bentak Bang Rico lagi.


"Sejak kapan Abang menikahi wanita dewasa?? Kalau Abang ingin menikahi wanita dewasa, menikahlah dengan Ratri. Dia dewasa.. bisa mengandung anakmu juga. Asya ini apa? sampah yang tidak bergunaaa..!!!" kali ini Asya meluapkan semua kesalnya.


Bang Rico membuang nafasnya pelan. Ia menyadari tidak ada gunanya berdebat dengan sang istri yang tengah marah besar. Cemburu yang tidak pernah terucap dari bibir manis Asya. Lucu.. aneh.. dan menggemaskan caranya marah. Bang Rico pun mengalah, ia memeluk Asya dan mendekapnya. Jika dirinya terus menggunakan egonya.. keributan ini tak akan ada habisnya.


"Sudah.. sudah.. Abang yang salah. Abang minta maaf ya sayang..!!" bujuknya halus.


"Jangan marah lagi. Cantiknya hilang lho"


Asya pun menangis sesenggukan memeluk Bang Rico.. tenang dan tidak ada perlawanan sedikitpun.


"Jalan-jalan yuk..!!" ajak Bang Rico.


"Kemana?" tanya Asya.


"Bojomu luwe dek. Pulang pengen makan malam sama-sama malah harus ribut begini" jawab Bang Rico.


Asya terdiam.. agaknya ia sedikit merasa bersalah karena sudah membuat suaminya kelaparan.


"Ayo nongkrong di bukit sambil makan malam..!!"


"Asya nggak suka makan di angkringan"


"Kenapa? Makanan di angkringan enak-enak lho dek. Apa mau makan di restoran?" tanya Bang Rico masih membujuk Asya.


"Asya maunya makan mie di warkop"


Mata Bang Rico berkedip heran. Gadis kecilnya tau juga tempat nongkrong di warung kopi bahkan terkadang rasa mie instan di warung kopi bisa terasa jauh lebih enak, tapi masalahnya bukan itu.. kalau mereka pergi ke warung kopi jelas banyak pria yang duduk bersantai menikmati indahnya malam dan membahas hal random yang rata-rata tidak pantas di dengar kaum hawa.

__ADS_1


"Bang.. boleh nggak?" tanya Asya.


Setelah berpikir keras, Bang Rico pun mengijinkan karena ada dirinya yang akan selalu menjaga Asya.


"Ya sudah ayo..!! Ganti pakaian, yang sopan..!!" pesan Bang Rico.


...


B*****t, mata mereka jelalatan sekali. Ingin rasanya kuhantam sampai giginya rontok. Beraninya melirik istri orang. Kesal sekali.. laparku sampai hilang tidak ada selera makan.


Bang Rico menarik tangan Asya dan mengajaknya pindah tempat.


"Duduk di pojok sana..!! Kamu di pinggir tembok..!!" kata Bang Rico.


"Sempit Bang" kata Asya.


"Nanti Abang longgarin di rumah" jawab Bang Rico sekenanya.


Setelah Asya duduk, Bang Rico membuka kakinya dan duduk mengunci Asya. Ia juga melepas jaketnya untuk menutupi bagian dada Asya meskipun saat itu Asya memakai kaos yang lumayan besar. Ukuran L dari ukuran tubuhnya yang S.


:


Bang Rico kesal sekali saat para remaja pria yang duduk tepat di bangku depannya terus mencuri pandang menatap Asya.


"Abang nggak doyan makan?" tanya Asya yang sudah lahap menghabiskan mie nya.


Bang Rico terpaksa menghabiskan mie nya walaupun hanya terasa kesal memenuhi hati.


"Mau di angkringan atau di sini sama saja khan Bang. Tetap ada laki-laki juga" kata Asya seolah tau kekesalan hati suaminya.


"Disini nggak enak, panas..!! Sepertinya kamu ajak Abang kesini hanya untuk balas Abang ya??" jawab Bang Rico sengit.


"Abang mau makan apa mau ribut? Kalau Abang nggak baik-baik sama Asya.. itu lihat di belakang kita..! Banyak om-om tentara curi pandang lihat Asya sejak tadi. Fokus Abang khan hanya orang yang duduk di depan meja" tegur Asya.


Benar saja, saat Bang Rico menoleh sudah banyak pria yang memandangi Asya dengan senyum yang ia pahami maksudnya.


"Jiangkriiiikk.. lain kali jangan kesini lah. Dongkol banget Abang lihatnya" gerutu Bang Rico, ubun-ubun di kepalanya rasanya sudah mau pecah.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2