Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
43. Tegar menghadapi kenyataan.


__ADS_3

Papa Wira sudah sesak luar biasa dan hampir pingsan karena memikirkan putrinya yang kabur entah kemana.


"Papa memang banyak dosa.. tidak bisa mendidik anak perempuan Papa dengan baik" gumam Papa terduduk lemas di pinggir jalan.


"Jangan bilang begitu Pa. Seperti yang pernah Papa bilang dulu.. Nasib setiap orang sudah ada yang mengatur dan sudah pada porsinya masing-masing. Jalan hidup saya seperti itu, jalan hidup Papa begini" kata Bang Rico.


"Papa merasa ada yang janggal dari mereka berdua, Asya terkadang berbuat di luar kewajaran, tapi Nafa lebih brutal"


"Pa.. ada yang ingin saya sampaikan, tapi Papa janji.. harus tenang mendengarnya"


"Apa Ric?"


Bang Rico mengeluarkan dua kertas dari balik sakunya. Papa Wira menerima dan membacanya. Sungguh terkejut hati Papa Wira.. matanya membendung cairan bening yang akhirnya meleleh juga membasahi pipi.


"Putriku.. semuanya pecandu? Bagaimana bisa???" Papa Wira memegangi dadanya yang terasa sakit luar biasa.


"Asyaa.. Nafaaa.. Ya Allah.. anak-anakku" Papa Wira seketika tumbang.


"Pa.. Papa..!!" Bang Rico mencoba menyadarkan Papa mertuanya.


Beberapa orang perawat membantu Papa Wira untuk mendapat perawatan di rumah sakit.


...


Papa Wira sudah mendapat penanganan dokter dan sudah tersadar dari pingsan nya.


"Rico.. terima kasih kamu sudah membantu Asya. Papa tidak tau.. sungguh Papa berhutang budi sama kamu. Terima kasih juga kamu mau menerima apa adanya Asya" ucap Papa tercekat.


"Nggak masalah Pa. Jangan menjadi beban pikiran. Sebelum Papa meminta saya menikah dengan Asya.. terus terang saya sudah ada hati dengan putri Papa itu. Saya mencintai Asya tanpa tau siapa dirinya" jawab Bang Rico.


"Rico.. sekarang Asya sedang hamil. Papa rasa pemulihan Asya jauh lebih sulit" Papa Wira mulai menyadari kesulitan menantunya saat ini.


Bang Rico tertunduk lesu, tapi senyumnya tetap mengembang.


"Nggak apa-apa Pa, itu sudah menjadi tanggung jawab saya. Asya sudah menjadi istri saya, tapi jika Papa ingin sedikit mengurangi semua beban ini.. saya mohon Papa bisa menangani Nafa karena saya yang akan sepenuhnya menangani Asya." pinta Bang Rico.


"Baik Ric. Sebisanya Papa juga akan menangani masalah ini..!!"


...


Sampai malam Papa Wira belum juga kembali, begitu juga Bang Rico dan itu semakin membuat Asya cemas. Kepalanya mulai sakit. Mama yang sejak tadi mulai gelisah terus mondar-mandir di depan rumah.

__ADS_1


"Assalamualaikum.." sapa Bang Wira dan Bang Rico.


"Wa'alaikumsalam.. Papa, kenapa tengah malam baru pulang. Nafa mana Pa?" tanya Mama Dinda.


"Nafa belum di temukan Ma" jawab Bang Rico.


"Ya Allah.. Nafa kemana ya Pa?" Mama Dinda mulai cemas.


"Bagaimana Asya hari ini Ma?" Bang Rico pun mencemaskan keadaan Asya.


"Tadi saat Mama tinggal sih ada di sekitar gudang. Entah mencari apa??"


"Haaaa.. Ya ampun" Bang Rico segera berlari mencari Asya. Ia tau betul apa yang sedang Asya kerjakan.


~


"Asyaaa..!! Asya mau apa dek? Asya sudah janji sama Abang nggak akan begini lagi, janji akan jaga anak kita, sini.. kasih obatnya sama Abang ya..!! Mana pisaunya sayang..!!" Bang Rico terus berusaha membujuk Asya.


"Asya nggak kuat Bang, Asya butuh obat ini..!!" Asya terus menggenggam obat itu dan enggan melepaskan nya.


"Abang ganti obatnya ya dek..!!" Bang Rico mencoba mendekati Asya tapi Asya menggeleng tidak mau karena khawatir Bang Rico akan meminta obatnya.


"Ayo sayang.. percaya sama Abang..!!"


"Paa.. tolong siapkan air es di kamar mandi..!!!" pinta Bang Rico.


"Tapi Ric.."


"Tolong Pa..!!!!"


:


Bang Rico menggendong Asya masuk ke dalam kamar mandi dan menceburkan sang istri ke dalam bathtub. Papa Wira melihat putrinya dengan tatapan sendu dan pilu. Asya meronta-ronta dalam dekapan Bang Rico yang sesekali menciumi wajah istrinya. Terlihat Bang Rico pun pilu menahan tangis. Bang Rico beralih berjalan menutup pintu setelah sekilas menatap Papa Wira.


Papa Wira mendengar segala umpatan tapi Bang Rico tetap menjawabnya dengan sabar.


"Yang ini? Sini Abang usap" kata Bang Rico lirih tapi masih tetap terdengar.


"Nggak usah sok baik, setelah tau aku begini.. kau pasti akan kembali bersama Netta yang cantik itu"


"Nggak sayang, Asya yang tercantik. Tidak ada yang lain.. hanya ada Asya dalam hati Abang" jawab Bang Rico. Hatinya menangis kencang merasakan keadaan Asya.

__ADS_1


Asya menggigil kedinginan kemudian bersandar pada bahu Bang Rico. Ia tidak lagi garang dan kesadarannya mulai pulih.


"Asya kedinginan Bang, tolong Asya..!!"


Bang Rico memeluk Asya dan membiarkan Asya untuk beberapa saat tapi tetap merasa cemas luar biasa karena semakin hari, calon bayinya akan semakin besar. Perlahan Asya semakin tenang dan hanya menggigil saja.


Setelah dirasa cukup.. Bang Rico melepas pakaiannya lalu melilitkan handuk di pinggangnya begitu juga dengan Asya. Ia membuka pakaian Asya dan segera melempar di keranjang pakaian.


:


"Sebenarnya ada apa Pa??" Mama Dinda terus mendesak Papa Wira.


"Asya kecanduan obat Ma?" jawab Bang Rico karena Papa Wira masih bungkam seribu bahasa.


"Sejak kapan? Kenapa bisa terjadi seperti ini?" Mama Dinda tak percaya mendengar jawaban Bang Rico.


"Sebelum menikah, Asya terjebak pergaulan bebas dari Manan. Mantan pacarnya yang seorang pengusaha itu. Sementara masih saya selidiki seluk beluk kehidupan Manan. Saya terkendala waktu karena masih fokus menjaga Asya yang sedang hamil" kata Bang Rico.


"Yang tidak setia itu hanya oknum Ma, tidak semua tentara seperti ketakutanmu" Papa Wira baru bersuara dan kini sudah lebih tenang.


"Mau kamu jodohkan putrimu dengan pengusaha sekalipun kalau memang akhlaknya bejat ya pasti bejat. Jangan pernah melihat seseorang dari seragamnya..!!" tegur Papa Wira.


"Abaaaaang..!!" tiba-tiba terdengar suara Asya memutus pembicaraan mereka.


"Dalem dek, Abang disini..!!"


"Asya mual.. lapar Bang" rengek Asya.


"Mau makan apa dek?" tanya Bang Rico.


"Abang minta Bang Yudha buatkan nasi goreng ya, bawa piring kita kesana?"


"Ya Allah dek, bisa-bisa Abang di tumbling senior. Nggak ada yang lain kah? Abang beli deh meskipun mahal" ucap Bang Rico karena sadar ini sudah jam satu malam.


Wajah Asya berubah mendung, di titik inilah Bang Rico selalu lemah tak berdaya.


"Iyaaa.. Abang berangkat sekarang..!! Demi anak istri mau di jungkir juga Abang terima" jawabnya sambil menuju dapur untuk mengambil piring.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2