
Bang Rico masih menerawang mengingat dimana dirinya pernah melihat gerak seperti itu.
"Astagfirullah..!!" jantung Bang Rico rasanya nyaris melompat dari raga.
"Sebentar Bang, saya lihat dulu akun nya" pinta Bang Rico merebut ponsel di tangan Bang Pandu.
Bang Rico mengotak-atik ponselnya dan....
"J****k....!!!!!" Bang Rico semakin gemas saat melihat semakin ke bawah histori ponselnya semakin menggila, tapi saat akan membuka satu bagian Bang Pandu merebutnya lagi.
"Nanti kamu lihat lagi. Abang cek dulu. Kamu simpan apa saja." kata Bang Pandu. Mereka pun kembali berkumpul dan pikiran Bang Rico teralihkan kembali.
~
Saat para pria mulai tertawa girang. Tak ada satupun yang menyadari kehadiran Asya, Netta juga Fasya dan kali ini wajah Fasya memerah padam dan gemas karena Bang Pandu adalah pria paling senior di antara keempat pria disana.
"Jadi ini alasan Abang tidak segera pulang?" tegur Fasya langsung menghentikan tawa keempat pria bernasib malang itu.
"Adek.. kok disini?" tanya Bang Pandu sampai tercekat, air ludah pun rasanya tak sampai masuk ke dalam kerongkongan.
"Kenapa?? Suka sekali lihat yang begitu?" jawab Fasya.
"Innalilahi.. malapetaka sudah tiba" gumam Bang Pandu.
"Punya siapa ponselnya? Kembalikan..!!" kata Fasya membuat hati Bang Pandu was-was.
Bang Pandu menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya dan Asya masih menatap suaminya dengan tajam karena jelas Bang Rico adalah pusat segalanya.
"Abang pilih jungkir balik atau tidur di luar..!!" kata Asya memberi pilihan.
Ingin Bang Rico lari dan menghindar dari masalah tapi posisinya saat ini memang salah.
"Abang nggak ada kapoknya ya?" nada suara Asya terdengar sangat kecewa.
"Ini benar Lisa yang artis itu dek" kata Bang Rico menjelaskan.
"Aaaahh masa bodoh.. jungkir balik, Asya nggak percaya sama Abang" jawab Asya.
Fasya melipat kedua tangan di depan dada.
"Abang juga..!!" ucapnya pada Bang Pandu.
Bang Yudha pun melirik Netta. Ia juga mengambil posisi jungkir balik tanpa di perintah sebelum istrinya itu membuka suara.
Disana.. Bang Tino tertawa terkikik sendiri karena tidak ada wanita yang menghukumnya.
"Om Tino panjat pohon dan ambil buah-buahan yang ada di Batalyon..!!" perintah Asya bagai sambaran petir untuk Bang Tino.
__ADS_1
"Siap..!!" ucapnya tak melawan karena ngeri melihat ekspresi para istri seniornya.
:
Ketiga pria sudah lelah mendapat hukuman dari istri. Bang Pandu terdiam sejenak karena mulai pening sedangkan Bang Rico sudah bersatu dengan tanah usai muntah dan tak sanggup lagi berdiri. Bang Rico hanya bisa memercing meskipun otaknya berpikir keras soal akunnya.
"Marahnya lanjut di rumah saja ya sayang..!! Abang sudah nggak kuat nih" kata Bang Rico.
"Cepat berdiri.. semua pulang" kata Mbak Netta.
:
Asya menangis dan benar-benar marah, ia masih tetap mengira Bang Rico memiliki hubungan dengan Alisa istri Praka Rochim.
"Abang yang keluar atau Asya yang keluar dari rumah ini????" pekik Asya.
"Oke.. okee.. Abang keluar. Kamu jangan nekat, jangan macam-macam dan jangan kemana-mana.. please..!! Abang ingin terus di sampingmu jaga anak kita sama-sama" kata Bang Rico.
"Ya sudah di teras saja..!! Jangan coba mengendap masuk ke dalam rumah" kata Asya.
:
Bang Rico terbatuk sampai mengeluarkan darah. Ia mengusap dadanya yang terasa berat dan sesak.
"Laaah Rico.. jangan cari mati. Apa kamu nggak bisa berhenti merokok?????" tegur Bang Pandu yang sudah melingkarkan sarungnya di pundak.
"Saya sudah mengurangi banyak Bang. Semua butuh proses dan tidak bisa hilang begitu saja. Setidaknya rokok bisa mengalihkan pikiran saya" jawab Bang Rico.
"Efektif?? kamu masih menghabiskan satu setengah bungkus rokok perhari. Itu masih perokok berat Ric" Bang Winata yang ternyata ikut duduk langsung merangkul Bang Rico.
"Asya tidak akan terjerumus lagi. Kamu tau sendiri dia berusaha sembuh saat hamil Gazha. Kamu meninggalkan dia dengan penuh perjuangan yang amat berat. Asya ngidam sendiri, berjuang menunggumu meskipun saat itu dia sangat butuh kamu" kata Bang Winata.
Bang Yudha juga mengambil tempat, duduk di hadapan Bang Rico tanpa berbicara apapun.
"Bisa-bisanya kalian bertiga di usir istri. Makanya.. saatnya orang kerja tuh kerja.. bukannya lihat video nggak jelas." tegur Bang Winata akhirnya juga ikut merasakan susahnya ketiga sahabatnya itu.
Disaat ketiga pria masih meratapi nasibnya, Bang Tino lewat menggunakan motornya lalu tersenyum tampan dan berhenti di hadapan keempat senior.
"Selamat malam...ijin Abang. Saya mau ketemu Mbak Asya"
"Heehh.. ada apa kamu mau ketemu istri saya???" Bang Rico berdiri. Ubun-ubun nya mulai panas terbakar.
"Astagfirullah Rico.. panasan amat sih. Itu Tino mau antar buah-buahan yang Asya minta" kata Bang Yudha saat melirik kantong plastik yang di bawa Bang Tino.
"Siap Bang. Ini saya antar buah untuk istri Abang" imbuh Bang Tino.
Bang Rico melirik tajam ke arah mata Bang Tino. Tatapan itu seakan ingin memicu perdebatan. Entah kenapa ia sama sekali tidak biasa melihat wajah juniornya itu apalagi senyumnya yang seolah-olah ingin menggoda Asya sungguh memancing emosi Bang Rico.
__ADS_1
Bang Yudha menarik bahu Bang Rico agar adiknya itu lebih bisa menahan emosi konyolnya lalu mengarahkan Bang Tino agar tidak ikut bergabung dengan mereka malam ini karena Bang Rico sedang berubah menjadi induk macan.
:
Setelah emosi Bang Rico mereda, mereka kembali ke teras rumah masing-masing kecuali Bang Winata yang sedang aman dari prahara.
Bang Rico menatap layar ponselnya dan membuka kembali file yang ada dalam ponselnya. Ia meneliti satu persatu gambar dan video yang ada meskipun sesekali kembali menikmati keindahan pemandangan Lisa.
"Lho.. ini khan dari akunnya Asya. Lihat apa saja cantik ku ini" Bang Rico terus menggeser layar ponsel sampai ada beberapa file private tersimpan sama seperti apa yang ia lakukan. Memang tanpa sepengetahuan Asya dirinya menyadap ponsel sang istri. Alasan utamanya dulu adalah memantau pergaulan Asya dan kini malah ia menemukan hal baru dalam akun tersebut.
"Astagfirullah hal adzim.. ternyata Asya meniru gaya perempuan ini" Bang Rico menepuk dahinya saat melihat video menantang di file Asya.
"Makanya.. aku seperti tidak asing dengan gaya ini. Untung Asya lebih jago" gumamnya lagi.
Semakin penasaran.. Bang Rico menemukan lagi puluhan foto pria macho dan berbadan kekar.
"Ya Tuhan.. Asya ini marah gara-gara aku lihat Lisa. Sekarang malah dia simpan foto Hyun Bin. Memangnya aku kurang ganteng?????"
Bang Rico segera bangkit dari kasur lipatnya lalu masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke dalam kamar.
~
"Apa sih Bang. Kenapa Gazha di pindah ke box??" tanya Asya kesal.
"Abang mau bicara..!!"
"Ya sudah.. bicara saja" jawab Asya.
"Lihat Abang..!!"
"Nggak.." tolak Asya.
Bang Rico mengguncang lengan Asya.
"Kamu ini.. nggak mau selesaikan masalah kita apa pengen Abang yang selesaikan sendiri?????" ucap gemas Bang Rico.
"Kenapa diam-diam kamu simpan foto laki-laki lain di ponselmu?"
Asya melotot tak paham siapa pria yang sedang di maksud Bang Rico.
.
.
.
.
__ADS_1