Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
109. SP 2. 12. Lettu Enrico cemburu.


__ADS_3

"Bang.. tentara tidak boleh punya dua istri khan?" tanya Jihan.


"Iya nggak boleh"


"Lalu.. bagaimana dengan status 'dia', karena nama Jihan yang akan naik" Jihan pusing memikirkan masa depannya juga.


"Menurutmu.. mana yang lebih tinggi derajatnya.. sah di mata agama atau sah di mata militer?"


"Sah di mata agama"


"Baiklah.. kalau begitu, Abang memberi kebebasan sama kamu. Kamu ingin sah di mata agama...atau militer"


Jihan semakin menunduk dan menangis.


"Militer.. karena hati Abang bukan untuk Jihan." Jihan berlari masuk ke dalam kamar tak sanggup lagi berhadapan dengan Bang Rico.


Bang Rico meraup wajahnya gusar, matanya memerah.


Maafin Abang ya dek. Abang nggak bermaksud membuatmu menangis. Maaf Abang egois, tapi.. tidak mungkin kamu di miliki laki-laki lain.


-_-_-_-_-


"Jihan.. mau kemana?" tanya Bang Vian. Senang sekali rasanya bisa bertemu Jihan pagi ini.


"Mau ajak Gazha jalan-jalan Bang" jawab Jihan dengan senyumnya.


"Disini rawan lho, banyak pria jelalatan. Abang antar yuk" Bang Vian menawari Jihan bantuan.


"Terima kasih Bang, biar kami jalan berdua saja" tolak Jihan sopan.


"Abangmu marah ya?" ledek Bang Vian karena tau Bang Rico sangat menjaga 'adiknya'.


"Iya Bang." Jihan masih tersenyum dan menganggap Bang Rico adalah Abangnya.


~


"Tolong segera di urus donk Bang..!! Cemas nih saya bawa Jihan 'kosongan' begini" kata Bang Rico.


"Hahahaha.. ngebet sekaleeee. Mau pengamanan adiknya Gazha nih rupanya." ledek Bang Pandu.


"Jelaaas.. lama-lama pening juga nih Bang" celoteh Bang Rico.


Dari dalam rumah, Bang Rico melihat Jihan tersenyum mengobrol dengan juniornya.


"Setaaaann..!! Sama Vian.. Jihan bisa tersenyum manis sekali, kenapa sama aku bisanya cari ribut saja" gerutu Bang Rico sambil mengintip dari balik jendela. Ia pun segera keluar.


"Opo Ric?" tanya Bang Pandu.


"Nanti saya hubungi Abang lagi. Ada tikus mau nyolong Bang" jawab Bang Rico.


~


"Nanti sama Abang jalan-jalannya"


Sungguh dalam hati Bang Rico rasanya mendidih dan kesal melihat Vian terus menatap Jihan dengan senyum yang ia tau betul maksudnya.


"Sama saya juga aman kok Bang" kata Bang Vian.


"Kamu ini bantah saja. Abang kirim kamu nge PAM kapal ikan baru tau rasa" ancam Bang Rico.

__ADS_1


"Siap salah Bang..!!"


"Masuk kamu dek..!!" bentak Bang Rico. Sebenarnya tak pernah ingin berkata kasar atau membentak Jihan, tapi setiap kali Vian mendekati Jihan.. hatinya langsung terasa panas.


Mata Jihan memerah, ia melirik Bang Rico sekilas tapi segera masuk ke dalam rumah. Bang Rico mencoba meraih tangan Jihan tapi gadis itu menepisnya.


"Ijin Bang, apa boleh saya berkenalan dengan Jihan?" tanya Bang Vian.


"Kamu cari mati? Berani kamu dekati Jihan.. Abang pastikan nafasmu jadi 'Senin Kamis' " ucap tegas Bang Rico.


Bang Vian melihat garangnya seorang Rico. Seniornya itu begitu kaku, dingin, tegas dan garang. Black panther berdarah pemburu.


"Saya tidak akan macam-macam Bang, saya hanya ingin kenal dengan Jihan."


Bang Rico langsung menghajar Bang Vian hingga terjungkal. Sebegitu marahnya Bang Rico hingga para anggota memisahkan Danki dan Danton.


...


plaaaaakkk...


"Apa begitu sosok pemimpin yang baik?? Tidak tau aturan.. berkelahi di hadapan anggota." Bentak Dan Ibra menegur Bang Rico dan Bang Vian.


"Apa yang kalian ributkan?????"


"Siap.. ijin.. tidak ada" jawab Bang Rico.


"Kamu ini baru datang di sini, kenapa kamu buat keributan seperti ini Rico? Saya tau kualitas kerjamu, tapi nggak begini juga caranya" kata Dan Ibra.


"Jangan pernah berkelahi di depan anggotamu karena masalah sepele"


"Ijin.. saya sudah bertanya baik-baik pada Bang Rico, apa boleh berkenalan dengan adiknya tapi... Bang Rico melarang dan langsung menghajar saya saat jujur ingin berkenalan dengan Jihan" Bang Vian masih mengusap hidungnya dengan tissue karena pukulan Bang Rico membuat hidungnya berdarah.


"Apaaaaa??????" Dan Ibra sampai melotot mendengar ucapan Bang Vian.


:


"Rileks Ric, kepala mu sampai ngebul"


"Ngomong-ngomong, bekal apa yang kamu bawa kesini?" tanya Dan Ibra.


"Siap.. tidak ada" jawab Bang Rico.


"Inilah susahnya Ric. Terus kapan kamu selesaikan pengajuan nikah?


"Ijin.. sesuai arahan Dan Garin.. saya tunggu Dan Sanca kembali. ( Mungkin bisa di ibaratkan seperti tingkat Kodam )" kata Bang Rico.


"Waduuhh.. lumayan lama itu Ric."


-_-_-_-_-


Bang Rico melihat rumahnya sepi, tak ada tanda suara Gazha disana.


"Kemana duo rusuh itu" gumam Bang Rico kemudian mencari Jihan dan Gazha.


Bang Rico terus mencari sampai akhirnya terdengar teriakan dari belakang rumah.


"Ayaaaaaaah.."


Bang Rico pun segera berlari ke belakang.

__ADS_1


"Ada apa Bang?" tanya Bang Rico.


"Ayaah.. mama Jihan jatuh ke lubang" tangis Gazha sambil menunjuk galian lubang yang cukup dalam.


"Astagfirullah.. dimana Bang????" Bang Rico pun secepatnya melihat keadaan Jihan.


"Ya Tuhan.. dek..!!!!!"


:


Bang panik, setengah jam berlalu tapi Jihan belum sadar juga.


"Jihan.. bangun dek.. sadar..!!" dada Bang Rico terasa sesak apalagi melihat banyaknya goresan di pipi Jihan. Tanpa sadar Bang Rico menciumi punggung tangan Jihan.


Sebenarnya apa maumu? Kenapa kamu gali tanah seluas itu?


Tak lama Jihan tersadar, yang di lihatnya pertama kali adalah wajah Bang Rico, akhirnya Jihan memalingkan wajah.


"Alhamdulillah.."


"Sudah enakan? Minum teh dulu ya?" Bang Rico membangunkan Jihan agar bisa duduk dengan benar.


Jelas sekali Jihan masih marah.


"Sebenarnya kamu mau buat apa? Kenapa nggak bilang sama Abang? Apa itu mau buat tempat sampah?" tanya Bang Rico benar-benar merendahkan nada suaranya.


"Mama mau buat kolam renang kecil untuk Gazha Yah" karena tak kunjung menjawab akhirnya Gazha yang menjawabnya.


"Astagfirullah.. benar begitu dek?" tanya Bang Rico pada Jihan.


Jihan masih memalingkan wajah dan tak mau menjawab.


"Dek.. Abang tanya baik-baik" tegur Bang Rico.


"Iya.. memangnya kenapa?" jawab Jihan ketus.


"Apa di kira kamu ini Samson? Sok kuat sekali kamu..!! Gali lubang untuk kolam itu bukan seperti kamu gali lubang untuk tutup t*i, macam-macam aja kamu..!!" tegur Bang Rico.


"Marah aja terus. Jihan nggak mau nikah kantor. Jihan mau minta tolong Om Dion aja buat beli tiket pulang ke Jawaa..!!!!!!"


"Apaaa??? Apa tidak ada nama lain selain Dion.. ????" pekik Bang Rico.


"Ya sudah.. Jihan minta tolong sama Bang Vian"


"Vian lagi.. Vian lagi.. bisa nggak kalau kamu tidak sebut nama Vian lagi..!!!" ucap geram Bang Rico semakin menjadi. Telinganya terlalu sensitif mendengar nama Vian. Tapi.. sekesal apapun hati Bang Rico saat itu, tangan nya tetap mengurut kaki Jihan.


"Abaang.." terdengar suara rengek Jihan.


"Apaa??"


"Punggung sama dada Jihan terkilir juga nih Bang" kata Jihan takut.


Bang Rico menelan salivanya.


Job paling bahaya nih. Gimana donk..!! Salah pegang.. otot yang lain jadi lurus.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2