Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
40. Mulai terganggu.


__ADS_3

Nara tekankan sekali lagi di karya Nara tidak di perkenankan menyebut TNI dan pendampingnya, karena Nara tidak mengangkat tiga matra. Nara menyebutnya TENTARA. Harap lebih mengindahkan peringatan..!!!!!


🌹🌹🌹


Sungguh tak ingin terjadi apapun meskipun setengah mati Bang Rico menginginkannya. Ia sangat mendambakan buah hatinya itu terlahir dengan sehat tanpa kurang suatu apapun.


"Bang.. Asya kangen" kata Asya yang sepertinya enggan melepaskan sang suami.


"Ada Papa Mama di luar tuh. Nggak enak dek. Cepat pakai bajunya..!!" kata Bang Rico beralasan.


"Nggak mau, Asya lagi nggak mual lihat Abang. Asya pengen sama Abang" Asya tak mau melepaskan Bang Rico.


Bagaimana ini.. Asya nggak mau di tinggal, tapi salahku juga sudah membuat Asya jadi begini.


"Nanti malam saja ya..!!" bujuk Bang Rico.


"Nggak mauuu..!!!!"


"Aduuhh Tuhan.. habislah aku"


:


Bang Rico membuang nafas lega namun juga begitu cemas menuruti keinginan Asya. Mau tidak mau akhirnya dirinya kelepasan juga.


"Kamu memang paling bisa dek. Istri Sholehah.. pintar banget kamu dek" gumam Bang Rico kemudian mengecup kening Asya dan membantu membenahi pakaian istrinya kemudian dengan dirinya.


Merasa tak enak karena cukup lama meninggalkan Papa Wira dan Mama Dinda.. Bang Rico keluar dan kembali menemui keluarga.


:


"Asya sakit?" tanya Papa Wira.


"Nggak Pa, hanya minta di temani saja. Biasa.. bawaan bayi, lagi manja" jawab Bang Rico.


Papa Wira mengangguk paham dan tidak ingin tau lagi urusan dalam kamar anak dan menantunya.


Langkah kaki kecil berlari-lari menghampiri Papa Wira dan Bang Rico.


"Pa, Nafa sekolah disini saja..!!" pinta Nafa.

__ADS_1


"Lho.. katanya mau sekolah di Jakarta. Kenapa sekarang berubah pikiran?" tanya Papa Wira.


"Nafa mau dekat Mbak Asya aja." jawab Nafa dengan wajah ceria nya.


"Nafa.. Mbak Asya mu lagi hamil, butuh banyak istirahat dan tidak banyak beban pikiran..!!" kata Papa Wira menjelaskan pada Nafa.


Nafa terdiam sejenak, wajahnya berubah datar dan tak berekspresi namun kemudian tersenyum yang terasa sangat berbeda dalam pandangan mata Bang Rico.


"Bukannya Mbak Asya baru lulus? Kalau sudah hamil.. berarti Mbak Asya hamil duluan donk" kata Nafa dengan ketus.


"Hmm.. sampai kapan Mbak Asya akan berhenti menyusahkan Mama?"


"Nafaaa..!!!!!.Jaga bicaramu..!!!!" bentak Papa Wira.


Tangan Bang Rico sudah mengepal erat, dirinya tidak terima dengan perkataan Nafa tapi ia tidak bisa berbuat lebih karena masih menghargai Papa mertuanya.


Mendengar bentakan itu, Nafa langsung masuk dan meninggalkan dua pria yang sedang meradang.


"Papa tau.. Asya hampir mati karena dengar hal-hal konyol seperti ini. Asya terlalu syok dan tertekan. Tolong jangan menambah beban pikiran Asya Pa" pinta Bang Rico.


:


Saat Bang Rico masuk ke kamarnya, terlihat Nafa sedang membuka lemari pakaian dan melihat baju Bang Rico.


"Kalau sudah jodoh.. mana ada yang tau Naf" jawab Asya.


"Berarti nggak menutup kemungkinan Nafa juga dapat jodoh perwira donk Mbak, apalagi Nafa nggak hamil" kata Nafa kemudian melihat baju 'tidur malam' milik Asya.


"Waahh.. Mbak Asya punya baju seperti ini?? Begitu ya cara memikat laki-laki??"


"Cukup Nafa, jangan keterlaluan..!! Mbak mu butuh banyak istirahat. Kamu kembalilah ke kamarmu..!!" perintah Bang Rico tak tahan lagi mendengar hinaan yang terus Asya terima.


Nafa keluar dari kamar membawa wajah bersungut kesal.


~


"Abang nggak mau dia disini"


"Tolong Bang, bagaimanapun Nafa itu adiknya Asya" kata Asya memohon. Tapi ternyata Bang Rico sangat merasakan beban yang ada dalam hati Asya.

__ADS_1


"Abang tau, tapi tidak selalu adik ipar yang tinggal bersama akan berakhir baik" jawab Bang Rico.


"Kamu nggak usah banyak pikiran, kamu istri Abang... jadi Abang yang memutuskan..!!" ucap tegas Bang Rico.


...


"Alasannya karena Asya butuh banyak ketenangan, saya tidak mau Asya tidak bahagia menghadapi kehamilannya. Saya hanya ingin menjaga perasaan wanita saya Pa. Walaupun mungkin kemungkinannya sangat kecil, tapi saya hanya ingin meminimalkan rasa cemburu khas wanita di antara kami. Saya harap Papa dan Mama bisa mengerti"


"Kalau begitu Nafa kost saja. Abang bisa antar jemput Nafa seperti yang Mbak Asya ceritakan sama Nafa tadi" kata Nafa tidak mau mengerti.


"Maaf Nafa.. kamu adik ipar saya. Tidak ada kewajiban saya secara khusus memperhatikan kamu seperti saya memperlakukan Asya. Perhatian itu hanya khusus Asya dan milik Asya.. bukan kamu" dengan tegas Bang Rico mengatakan itu di depan Papa dan Mama, ia tidak ingin jika dirinya kurang tegas.. maka Asya akan menjadi korban lagi.


"Papa mengerti Ric. Kamu kepala keluarga di rumah ini dan Papa menghargai keputusan mu"


Nafa tidak terima dengan keputusan Papa yang dengan kata lain menyetujui permintaan Bang Rico.


"Setuju atau tidak setuju.. Nafa akan tetap sekolah disini.. titik..!!!" Nafa pergi meninggalkan keluarga.


Bang Rico pun membuang rasa tidak nyaman dalam hatinya. Ia ingin tetap berada pada pijakannya dan tak ingin lemah apapun yang terjadi, semua demi Asya dan bayinya.


"Nanti Mama coba bicara sama Nafa ya Pa" kata Mama Dinda.


"Nasihati anakmu itu, jangan buat masalah. Dia itu masih sekolah.. belum bisa memutuskan apapun dengan baik" jawab Papa Wira.


...


Bang Rico duduk termenung di pos utama, di samping gerbang kesatrian ia duduk dalam gelap malam.


Apa aku harus berfikir keras soal hal ini? Nafa masih anak-anak, jauh di bawah Asya.. tapi keturunan Wiranegara tidak ada yang pernah gagal. Nafa tidak seperti gadis pada umumnya, dia api dalam sekam.


"Ada apa Ric?" tanya Bang Yudha.


"Aku merasa janggal dengan sikap Nafa yang tidak biasa Bang. Kalau aku mencari tau soal Nafa.. apa itu wajar?" Bang Rico mencoba meminta saran dari seniornya.


"Wajar.. kewaspadaan itu penting, lakukan saja kalau memang perasaanmu ragu. Laki-laki juga punya kepekaan sendiri terhadap wanita" jawab Bang Yudha.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2