Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
99. SP 2. 2. Abang Tentara.


__ADS_3

"Maaf Ric. Saya memang menjauhkan segala hal tentang militer pada putri saya Jihan. Dia putri bungsu saya"


"Siap Dan. Tidak masalah. Saya juga minta maaf karena saya mengamankan putri Komandan karena sedang menjalankan tugas." kata Bang Rico.


"Santai saja. Saya mengerti" jawab Dan Garin.


"Aduuuhh.. kenapa anak saya bisa pecicilan begini ya, padahal saya nggak pernah ajarkan dia macam-macam lho. Abangnya saja kalem, mungkin cetakannya melintir" gumam Dan Garin membuat Bang Rico terkikik.


"Kamu tertawai saya Ric?" tanya Dan Garin.


"Siap tidak berani komandan" jawab Bang Rico.


...


"Yah, kita lagi lihat film horror, kenapa Ayah tersenyum sendiri?" tegur Gazha.


"Oohh.. horror ya, maaf ayah tadi nggak lihat filmnya. Maaf ya" Bang Rico mengacak-acak rambut Gazha.


"Ayah.. Gazha boleh sekolah paud nggak?" tanya Gazha yang memang sangat pintar.


"Ayah belum bisa antar nak, lagipula Abang Gazha belum genap empat tahun, kalau sudah besar sedikit.. baru Gazha bisa sekolah" jawab Bang Rico.


"Ya sudah.. Gazha mau adik aja"


Terus terang setiap Gazha meminta seorang adik.. hatinya kembali terasa sakit mengingat almarhumah sang istri. Apalagi jika dirinya sedang teringat kenangan indahnya bersama Asya.. rasanya ia ingin sekali hilang karena tak sanggup menahan rasa rindu.


Memang benar apa yang dikatakan Papa Wira, terkadang ada saat dimana ia sangat merindukan kehadiran Asya, tapi segala sesuatunya tak harus di selesaikan dengan satu cara, ia lebih memilih lelah beraktivitas agar pikiran dan perasaannya teralihkan.


"Boleh yah?" tanya Gazha lagi karena papanya tak kunjung menjawab.


"Hmm.. apa ayah harus salim dulu seperti ini baru Gazha bisa punya adik?" Gazha menunjukan foto saat Bang Rico bersalaman dengan Papa Wira saat mengucapkan ijab qobul.


"Iya sayang, harus seperti itu biar Tuhan nggak marah. Itu namanya menikah dan harus menikah biar bisa punya adik bayi" dengan sabar Bang Rico menjelaskan pada putranya.


"Kalau nggak menikah... bagaimana Yah?"


"Laki-laki dan perempuan nggak boleh berdekatan atau pegang-pegang karena itu berdosa. Ayah beritahu ya.. Abang nggak boleh pegang dada, p****t dan 'ini' punya perempuan, itu nggak sopan dan Tuhan marah. Perempuan juga sama saja.. nggak boleh sembarang pegang laki-laki" kata Bang Rico.


Wajah Gazha menerawang tapi kemudian pria kecil itu tersenyum malu karena mulai mengerti ucapan ayahnya.


"Jadi laki-laki juga nggak boleh pukul perempuan ya Bang, meskipun Abang marah harus tetap di tahan. Perempuan itu di sayang.. bukan untuk di pukul atau di marahi" Bang Rico mengajari Gazha dengan tutur kata yang mudah di pahami.

__ADS_1


"Tapi Melinda suka marah yah, Abang nggak suka"


"Ya sudah dengarkan saja. Perempuan itu kalau ngomel hanya mau di dengar saja" jawab Bang Rico lalu mengarahkan tangannya untuk toss sama-sama.


"Okeeyy Yah"


Mereka berdua kemudian bercanda tak peduli dengan kasur yang menjadi berantakan.


***


Jihan sedang berjalan-jalan di sekitar Batalyon. Papanya memang sedang melaksanakan kunjungan kerja dan sekalian melihat suasana Batalyon sebelum kunjungan resmi esok hari.


Ada seorang anak duduk sendirian di taman. Jihan pun ikut duduk disana.


"Hai.. siapa namamu?" tanya Jihan.


"Gazha.. Tante siapa?"


Apa aku terlalu tua sampai si gembul lucu ini harus memanggilku Tante.


"Kenapa nggak memanggilku kakak saja? Namaku Jihan"


"Gazha panggil Tante Jihan saja karena Tante sama seperti mamaku" kata Gazha.


"Pak Rico dimana?" tanya Ratri.


"Pak Rico sedang ada tamu bersama Danyon dan yang lain. Ada perlu apa ya Bu?" tanya seorang anggota.


"Saya mau menggugat cerai suami saya Serka Sobri" jawab Ratri dengan lantang kemudian meninggalkan tempat.


Saat itu mata Ratri melihat Gazha duduk dengan seorang wanita, ia pun menghampirinya.


"Gazha sayang.. ikut Tante yuk, Tante belikan es krim"


"Maaf, dengan Bu Siapa ya?" tanya Jihan cemas Gazha tidak ada yang menjaga.


"Kamu nggak kenal saya? Kamu pasti pengasuh yang di bawa Pak Rico dari kampung ya? Atau ART?" Ratri terlihat tidak suka dengan Jihan.


"Apa tampang saya mirip pengasuh atau ART?" Jihan balik bertanya.


"Sekarang ini apapun bisa jadi halal kalau soal kejantanan dan uang" cibir Ratri.

__ADS_1


Baru saja Jihan akan membuka suara, Bang Rico sudah berada di belakang punggung Jihan dan Gazha.


"Maaf Bu Sobri, semua sedang sibuk. Terima kasih sudah menemani Gazha dan.... calon Mama Gazha"


Bibir Ratri langsung terbuka, tak terbayangkan kini Bang Rico sudah memiliki calon pengganti almarhumah Asya.


...


"Maaf.. maaf.. saya benar-benar minta maaf. Saya terpaksa bilang begitu"


"Dengar ya Om, Jihan ini masih laku. Jihan nggak mau punya pacar yang nggak punya bakat apapun. Om bukan selera Jihan. Badan kok lurus saja nggak ada ototnya" ucap ketus Jihan.


"Yang mau jadikan kamu pacar juga siapa? Kamu juga bukan selera saya. Punya badan nggak ada bentuknya, rata semua" Bang Rico pun terpancing kesal berhadapan dengan Jihan.


~


"Ayah bertengkar"


"Sama siapa?" tanya Opa Wira.


"Sama Tante Jihan" jawab Gazha.


"Haaaahh" Papa Wira dan Papa Garin saling pandang.


"Rico sama Jihan kenapa bisa bertengkar Bang? Kapan ketemunya ya Bang?" Papa Wira heran.


"Kemarin.. waktu ada kerusuhan di belakang lapangan tembak, itu putriku yang buat ulah" Papa Garin tidak enak juga karena putrinya kembali membuat keributan.


Tak lama.. mereka pun saling pandang.


"Saya perlu minta surat ijin resmi Bang?" tanya Papa Wira bertanya pada seniornya.


"Gaaass langsung saja..!! Siapa tau putri kecilku bisa lebih anteng. Kalau yang muda loading nya lambat.. kita setrum saja" kata Papa Garin dengan tegas.


"Hahahaha.. siap Bang"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2