Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )

Sayap Perwira 2. ( Sang Petarung )
91. Harus baik-baik dulu.


__ADS_3

"Siapa sih??" tanya Asya bingung karena dirinya merasa tidak pernah menyimpan foto pria lain.


"Itu.. si Hyun Bin kenapa ada di akun private mu?"


Asya bersikap biasa saja seakan tanpa dosa. Wajahnya pun tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali.


"Abang kurang apa?? Apa uang dari Abang kurang? Abang kurang ganteng? kurang gagah? atau kurang buat kamu senang?" hatinya jengkel sekali sampai memprotes semua foto koleksi milik Asya.


"Hapus nggak itu foto..!!!!"


Asya melihat foto yang di tunjukan Bang Rico lalu mengambilnya.


"Ya Tuhan.. ganteng sekali. Makan apa dia ini sampai ganteng, jantan begini" kata Asya semakin memanasi suasana.


"Coba Asya ada di negaranya, bisa ketemu dia" Asya berjingkat kegirangan.


"Mau apa?? Jadi pembantunya???" ucap kesal Bang Rico.


"Abang sendiri kenapa bisa tergila-gila sama si Lisa???" tanya Asya.


"Nggak.. Abang hanya kagum saja. Abang sudah punya istri cantik.. masa iya masih tergila-gila sama yang lain. Kamu kali.. nggak bisa lihat laki sixpack sedikit aja matanya sudah jelalatan" jawab Bang Rico.


"Abang marah?? Ini semua Abang yang mulai. Abang duluan yang jelalatan"


"Marah lah. Abang nggak aneh-aneh seperti kamu dek. Saru lho yank simpan foto sama video begituan" tegur Bang Rico tegas.


"Bi_ar a_ja, Asya suka" jawab Asya.


"Oohh gitu.. kalau di tuturi suami malah ngelawan. Minta di gulung kamu ya..!! Kamu mau tau apa artinya jantan?" Bang Rico mendekati Asya, ia membuka kaosnya dan membuangnya ke sembarang arah.


"Apa nih?? Abang masih di hukum" Asya mundur karena melihat raut wajah gemas Bang Rico.


"Yang seharusnya di hukum itu kamu, bukan Abang. Kamu juga aneh-aneh tapi Abang yang dapat sanksi paling berat, sampai kamu minta Abang tidur di luar." Bang Rico sengaja meninggalkan nada suaranya, ia pun tau kelemahan sang istri.

__ADS_1


"Ya sudah, Asya yang tidur di luar" Asya sedikit takut melihat tatapan mata Bang Rico.


"Kamu pikir Abang nggak punya otak, minta istri tidur di luar. Abang setengah mati buat anak, apa terus suamimu ini tega buat istri masuk angin?"


"Terus bagaimana?" tanya Asya.


Tangan Bang Rico mengambil ikat pinggang yang tergantung di dinding lalu mengibaskan di samping Asya.


Asya terkunci di sudut dan menutupi wajahnya. Ia sangat takut Bang Rico akan mencambuknya.


Melihat ketakutan istrinya, Bang Rico memegang dan menurunkan tangan Asya lalu menariknya ke dalam pelukannya.


"Abang minta maaf, Abang sudah mengajarkan hal yang tidak baik sama kamu. Abang harap.. segala keburukan yang ada pada suamimu ini jangan pernah kamu contoh. Abang sadari masih tergiur dengan hal duniawi, begitu pun sama kamu. Kita manusia biasa yang punya mata, wajar jika melihat yang indah.. tapi jangan sampai kamu pakai hatimu untuk melihatnya.. karena ada hati yang harus kamu jaga." bisik Bang Rico begitu lembut di telinga Asya.


"Kamu nakal sayang, Abang cemburu sekali sama si Hyun Bin mu itu?" ucap Bang Rico sembari menyerusuk ke sela leher Asya.


"Asya juga nggak suka Abang lihat perempuan lain seperti tadi. Apa juga kurangnya Asya?" jawab Asya.


"Jadi.. bagaimana cara kita balas dendam?" Bang Rico memainkan alisnya dengan nakal.


Bang Pandu terus saja bersin, badannya meriang karena semalaman tidur di teras. Pagi buta ia mengintip dari pintu rumahnya. Terlihat Fasya tidur di sofa tak jauh darinya. Bang Pandu pun masuk ke dalam rumah.


Kalau nggak bisa tidur sendiri, kenapa kita harus ribut sih dek? Abang khan juga nggak selingkuh. Hanya cuci mata sedikit.


Bang Pandu mengangkat dan memindahkan ke kamar agar Fasya agar nyaman tidur di ranjang. Ia pun memberi waktu pada istrinya tidur sedikit lebih lama karena sebentar lagi adzan sholat subuh akan berkumandang.


Tangan itu membelai rambut Fasya. Hatinya sedikit lebih melow melihat sang istri.


Melihat marahmu, hati Abang ge'er sekali dek. Apa kamu sungguh mencintai Abang? Abang takut cinta itu tidak ada karena sekarang Abang sayang sekali sama kamu.


Tak lama mata Fasya terbuka. Ia kaget karena posisinya saat ini sudah berpindah dari ruang tamu ke dalam kamar tidur.


"Kenapa lihat adek seperti itu? Nggak semenarik wanita di dalam video?" tanya Fasya berwajah judes.

__ADS_1


"Ngomong apa sih? kata siapa kamu nggak menarik. Kalau sampai ada yang bilang begitu.. biar Abang tampar mulutnya" jawab Bang Pandu.


"Adek yang bilang. Abang mau tampar????"


Bang Pandu langsung panik mendengar pertanyaan Fasya.


"Ya nggak donk sayang. Nggak mungkin lah Abang begitu" tiba-tiba hati Bang Pandu sedih mendengar Fasya mengira dirinya akan menyakitinya.


"Ayo ambil wudhu. Sudah adzan tuh. Kita sholat dulu" ajak Bang Pandu.


:


Fasya mencium punggung tangan Bang Pandu yang masih membaca do'a penutup sholat.


"Abang cinta adek nggak sih?" pertanyaan itu begitu saja terlontar dari bibir manis sang istri.


Bang Pandu mengusap wajahnya lalu memandangi wajah Fasya.


"Kenapa tanya seperti itu. Kamu perlu bukti apa dari Abang?" tanya Bang Pandu.


"Karena Abang lebih suka lihat perempuan lain daripada Adek" Jawab Fasya.


"Lihat bukan berarti Abang ada rasa. Hanya sekedar mengalihkan pikiran saja.. karena kegiatan yang padat. Prioritas seorang suami tetap saja istrinya.. tidak ada yang lain" kata Bang Pandu.


"Benar nih?" Fasya sungguh tidak yakin dengan ucapan Bang Pandu karena jelas sekali tingkah Bang Pandu tadi siang begitu lepas dan bahagia.


"Benar lah.. kalau Abang bohong, anak Abang ini laki-laki. Biar Abang kena omel anak.. kalau sampai Abang macam-macam" janji Bang Pandu.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2